kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.153   -21,00   -0,12%
  • IDX 7.528   -66,30   -0,87%
  • KOMPAS100 1.038   -11,74   -1,12%
  • LQ45 743   -13,15   -1,74%
  • ISSI 273   -1,85   -0,67%
  • IDX30 399   -2,13   -0,53%
  • IDXHIDIV20 485   -4,09   -0,84%
  • IDX80 116   -1,68   -1,43%
  • IDXV30 138   -0,06   -0,04%
  • IDXQ30 128   -1,27   -0,99%

Harga Minyak Dunia Turun Selasa (21/4) Pagi: Brent ke US$94,53 & WTI ke US$86,37


Selasa, 21 April 2026 / 08:13 WIB
Harga Minyak Dunia Turun Selasa (21/4) Pagi: Brent ke US$94,53 & WTI ke US$86,37
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026), berbalik arah dari penguatan tajam sehari sebelumnya.

Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berlanjut pekan ini, membuka peluang tambahan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 95 sen atau sekitar 1% ke level US$94,53 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei merosot US$1,54 atau 1,72% menjadi US$88,07 per barel.

Baca Juga: Apple Tunjuk John Ternus Jadi CEO Gantikan Tim Cook, Ini Profilnya

Kontrak Mei tersebut akan berakhir pada Selasa, sedangkan kontrak Juni yang lebih aktif turun US$1,09 atau 1,3% ke US$86,37 per barel.

Padahal sehari sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut melonjak tajam. Brent sempat naik 5,6% dan WTI menguat 6,9% setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz serta aksi AS yang menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade terhadap pelabuhan negara tersebut.

Meski begitu, fokus pelaku pasar kini beralih ke peluang tercapainya kesepakatan. Investor menilai perundingan pekan ini berpotensi memperpanjang gencatan senjata yang ada atau bahkan menghasilkan kesepakatan damai yang lebih luas. Namun, risiko konflik lanjutan dan gangguan pasokan minyak tetap membayangi.

Seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran masih mempertimbangkan untuk ikut serta dalam perundingan damai yang diinisiasi di Pakistan.

Baca Juga: Raksasa Minimarket Negeri Jiran Mau IPO di Bursa Malaysia, Siapkan 840 Juta Saham

Upaya ini merupakan bagian dari inisiatif Islamabad untuk mengakhiri blokade yang diberlakukan Amerika Serikat.

Blokade tersebut menjadi hambatan utama bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan, terutama di tengah masa gencatan senjata dua pekan yang akan segera berakhir.

Analis dari Citigroup (Citi) memperkirakan peluang tercapainya nota kesepahaman (MoU) atau perpanjangan gencatan senjata dalam waktu dekat cukup besar, yang berpotensi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas.

Namun, mereka juga mengingatkan bahwa skenario gangguan berkepanjangan tetap mungkin terjadi jika negosiasi gagal.

Ketidakpastian masih tinggi. Pejabat Iran menegaskan belum ada keputusan final untuk menghadiri perundingan.

Baca Juga: A-10 Warthog Diperpanjang Hingga 2030, AS Tunda Pensiun Jet Tempur Legendaris

Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi bahkan menyebut adanya pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat sebagai penghambat proses diplomasi.

Senada, negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas. Jalur ini sangat krusial karena menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Citi memperkirakan, jika gangguan di selat tersebut berlangsung hingga satu bulan, potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 1,3 miliar barel.

Dalam skenario itu, harga minyak diperkirakan dapat menyentuh kisaran US$110 per barel pada kuartal II-2026.

Tekanan juga datang dari sisi logistik. Kuwait dilaporkan telah menetapkan force majeure atas pengiriman minyak akibat blokade di Selat Hormuz.

Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Titik Panas, Patokan Tarif Kapal Timur Tengah Terancam Dirombak

Sementara itu, analis Société Générale mencatat bahwa lonjakan harga akibat penutupan selat telah menekan permintaan minyak sekitar 3% sejauh ini.

Risiko penurunan permintaan dinilai akan semakin besar jika normalisasi pasokan tertunda, dengan pemulihan penuh diperkirakan baru terjadi pada akhir 2026.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×