Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah berjangka naik tipis pada Jumat sore di tengah kekhawatiran baru akan serangan lanjutan AS terhadap Iran, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa ia akan segera memutuskan apakah akan mengupayakan perjanjian damai atau menghancurkan sisa-sisa kekuatan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari ditutup pada US$ 98,32 per barel, naik 3 sen atau 0,03%. Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), ditutup pada US$ 90,83 per barel, naik 31 sen atau 0,34%.
Kontrak Brent mencatatkan penurunan mingguan sebesar 17%—penurunan persentase mingguan tertajam sejak awal pandemi COVID-19 dan penurunan terbesar secara absolut—berdasarkan data LSEG yang mencakup periode sejak tahun 1988.
WTI diperkirakan mencatatkan penurunan sebesar 13%.
"Tampaknya terjadi pengurangan premi risiko perang (war premium)," ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Baca Juga: The Fed Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Menyusul Laporan Ketenagakerjaan yang Kuat
Meskipun hasil pemilihan paruh waktu (midterm) AS memunculkan harapan akan potensi deeskalasi konflik dengan Iran dan peningkatan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut, hasil pemilu ini juga memicu ekspektasi akan regulasi AS yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (AI). Hal ini menyebabkan kejatuhan tajam pada saham-saham sektor teknologi pada hari Kamis.
Di pasar minyak, indikasi munculnya kelebihan pasokan di tengah penurunan permintaan semakin diperkuat oleh premi harga spot untuk minyak mentah acuan Timur Tengah yang kembali ke tingkat sebelum konflik terjadi.
"Pasar minyak mentah kini cenderung mengarah pada kondisi kelebihan pasokan (oversupply), namun perbedaan kualitas tetap menjadi faktor karena pihak kilang harus menyesuaikan antara jenis minyak yang mereka butuhkan dengan ketersediaan yang ada," ujar analis pasar minyak Rystad, Janiv Shah.
Ia menyoroti rute pelayaran yang menjadi lebih panjang serta perlunya transfer muatan antar-kapal sebagai solusi alternatif di dekat Selat Hormuz.
Baca Juga: AS Mendesak China Penuhi Komitmen Tanah Jarang dan Sektor Pertanian
"Pasar masih menantikan bukti penandatanganan kesepakatan yang pasti (terkait Iran); jika muncul reaksi keras dari salah satu pihak, kondisi fundamental pasar bisa kembali mengetat."
Faktor lain yang mempengaruhi harga minyak berjangka adalah laporan ketenagakerjaan yang kuat dari Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Jumat, yang menunjukkan penambahan 165.000 lapangan kerja bulan lalu.
"Kami khawatir Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setelah keluarnya laporan ketenagakerjaan pagi ini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Pada hari Rabu saja, harga minyak sempat anjlok 8% setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS, yang membuat harga minyak berada di level terendah dalam dua bulan terakhir.
Namun, harga kembali bangkit menyusul lonjakan serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran baru mengenai kelancaran pasokan dari wilayah tersebut.
Baca Juga: IMF Rilis Data Utang Negara 2026, Ini 20 Negara Teratas
Seorang pengelola kapal asal Yunani mengungkapkan pada hari Jumat bahwa seorang pelaut tewas dalam ledakan di sebuah kapal tanker produk minyak di Teluk pada tanggal 5 November, yang diduga disebabkan oleh serangan rudal.
Data dari badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, mengindikasikan bahwa serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak masih terus terjadi dengan frekuensi yang mendekati rekor tertinggi.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
