Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak naik untuk sesi ketiga pada hari ini seiring memudarnya prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah; Iran menyatakan akan mengambil sikap yang lebih ofensif dan AS menutup kemungkinan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Selasa (18/8/2026) pukul 16.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 35 sen atau 0,39% menjadi US$ 91,22 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 81 sen atau 0,96% ke US$ 85,31 per barel.
Kedua kontrak tersebut berada di jalur kenaikan selama tiga hari berturut-turut; Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli selama sesi perdagangan, sementara WTI mencapai level tertinggi sejak 31 Juli.
Baca Juga: Rusia Peringatkan Inggris soal 'Konsekuensi' Pasokan Drone untuk Ukraina
"Sentimen pasar tetap tertopang oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tidak memperpanjang kesepakatan perdamaian AS-Iran serta kekhawatiran keamanan yang terus berlanjut di Selat Hormuz," tulis analis ING dalam sebuah catatan.
Kemajuan nyata dalam pembicaraan damai dan dimulainya kembali lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz yang strategis telah terhenti, sehingga mengancam akan memperpanjang konflik yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel melalui serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" karena upaya menuju pengakhiran perang secara permanen telah macet, demikian disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada hari Senin, sementara Washington menutup kemungkinan perpanjangan pakta gencatan senjata sementara.
"Tidak adanya kesepakatan apa pun akan berdampak pada ekspektasi harga minyak untuk periode mendatang di kuartal keempat dan bahkan hingga tahun 2027," ujar Suvro Sarkar, kepala riset energi di DBS Bank.
Data pelacakan menunjukkan bahwa sebuah proyektil menghantam kapal yang sedang melintas keluar dari Selat Hormuz pada hari Selasa; ini merupakan serangan terbaru dalam serangkaian insiden yang menjaga jumlah kapal yang melintas tetap berada di kisaran satu digit, meskipun sempat ada sedikit peningkatan dibandingkan akhir pekan.
Saudi Aramco telah melanjutkan kegiatan pemuatan minyak dari wilayah di dalam Selat Hormuz dan menawarkan kargo untuk dimuat melalui metode transfer antar-kapal (*ship-to-ship*) di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab.
"Iran kemungkinan besar memiliki kemampuan untuk menghentikan sepenuhnya arus minyak yang keluar dari Selat Hormuz kapan pun mereka anggap perlu. Atau, mereka akan segera memiliki kemampuan tersebut. Iran pastinya tidak hanya diam menunggu sanksi baru dari AS," kata analis SEB, Bjarne Schieldrop.
Baca Juga: Trump Sebut Iran Harus Menyerah, Kesepakatan Nuklir Masih Buntu
Secara terpisah, Iran sedang merundingkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan menyatakan bahwa kedua pihak sudah hampir mencapai kesepakatan.
Namun, Trump menanggapi perundingan tersebut dengan ancaman untuk membom negara Teluk itu, yang merupakan mitra keamanan lama AS.
Di wilayah lain Timur Tengah, kelompok Houthi Yaman meluncurkan rudal dalam serangan terhadap kapal-kapal yang mereka identifikasi sebagai satu kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah; hal ini disampaikan oleh juru bicara militer mereka, Yahya Saree, melalui aplikasi pesan Telegram.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
