Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham India diperkirakan dibuka melemah pada perdagangan Kamis, seiring lonjakan harga minyak global yang kembali menembus level US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz, tanpa adanya tanda-tanda dimulainya kembali pembicaraan damai.
Kontrak berjangka GIFT Nifty tercatat berada di level 24.158 poin pada pukul 08.02 waktu setempat, mengindikasikan bahwa indeks acuan Nifty 50 akan dibuka di bawah penutupan sebelumnya di 24.378,1.
Sementara itu, harga minyak Brent Crude naik untuk sesi keempat berturut-turut dan mencapai US$102 per barel. Lonjakan ini dipicu ketidakpastian terkait situasi di Timur Tengah, khususnya gangguan pada jalur distribusi energi utama dunia.
Baca Juga: Arab Saudi dan Filipina Masuk Indeks Obligasi Emerging Markets JPMorgan Mulai 2027
Tekanan terhadap Ekonomi India
Lembaga keuangan global HSBC menurunkan rekomendasi saham India menjadi “underweight” dari sebelumnya “neutral”. Langkah ini didasarkan pada tingginya ketergantungan India terhadap impor energi serta potensi dampak lanjutan terhadap inflasi dan permintaan domestik.
India diketahui mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak dan gasnya. Kenaikan harga energi yang berkepanjangan berpotensi memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan tekanan inflasi.
Arus Modal Asing Keluar
Data sementara menunjukkan investor asing mencatatkan aksi jual bersih saham India senilai 20,78 miliar rupee (sekitar US$221,56 juta) pada Rabu. Ini merupakan hari kedua berturut-turut aksi jual, setelah sebelumnya investor asing sempat mencatatkan pembelian selama empat sesi perdagangan.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Suku Bunga Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi
Di tengah tekanan eksternal, pelaku pasar juga akan mencermati laporan kinerja sejumlah emiten besar anggota indeks Nifty 50.
Perusahaan asuransi jiwa SBI Life Insurance melaporkan penurunan tipis laba bersih pada periode Januari–Maret, dipicu lonjakan biaya operasional hingga sepertiga.
Sementara itu, peritel fesyen Trent Limited mencatatkan kenaikan laba kuartalan sebesar 26%, didorong peningkatan permintaan setelah pemotongan pajak konsumsi tahun lalu. Perusahaan juga mengumumkan rencana pembagian saham bonus perdana serta penggalangan dana hingga 25 miliar rupee.
Risiko Global Masih Tinggi
Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya terkait keamanan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global, terus menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar. Lonjakan harga minyak berpotensi menekan pasar negara berkembang seperti India, yang sangat bergantung pada impor energi.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pergerakan pasar saham India dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap volatil, seiring investor mencermati perkembangan geopolitik dan dinamika harga energi global.













