kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.362   -27,28   -0,37%
  • KOMPAS100 1.021   -6,48   -0,63%
  • LQ45 751   -1,06   -0,14%
  • ISSI 259   -0,96   -0,37%
  • IDX30 401   1,72   0,43%
  • IDXHIDIV20 497   5,73   1,17%
  • IDX80 115   -0,59   -0,51%
  • IDXV30 134   1,20   0,90%
  • IDXQ30 129   0,61   0,48%

AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya


Kamis, 12 Maret 2026 / 20:17 WIB
AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. MARKETS-STOCKS/EARNINGS (REUTERS/Christian Hartmann). Pemerintah AS menilai lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel kecil kemungkinan terjadi, meski konflik Timur Tengah memanas.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menilai lonjakan harga minyak hingga US$ 200 per barel kecil kemungkinan terjadi, meskipun konflik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan dan ketegangan di jalur pelayaran utama minyak dunia.

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan pemerintah saat ini lebih fokus pada operasi militer dan upaya menstabilkan situasi ketimbang berspekulasi mengenai lonjakan harga minyak yang ekstrem.

“Saya kira kecil kemungkinan harga mencapai US$ 200 per barel. Saat ini fokus kami adalah pada operasi militer dan menyelesaikan masalah yang ada,” kata Wright dalam wawancara dengan CNN, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Tergelincir di Pagi Ini (26/1), Terseret Kekhawatiran Pasokan

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang berdampak pada terganggunya pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global.

Sehari sebelumnya, pejabat militer Iran justru memperingatkan harga minyak bisa melonjak tajam jika konflik terus memburuk. Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan harga minyak sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan.

“Bersiaplah menghadapi harga minyak US$ 200 per barel karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan yang telah Anda destabilkan,” ujarnya.

Ketegangan militer juga berdampak langsung pada pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 6% hingga mendekati US$ 100 per barel pada Kamis, setelah dua kapal tanker terbakar di sebuah pelabuhan Irak akibat serangan yang diduga dilakukan kapal kecil bermuatan bahan peledak.

Lonjakan harga terjadi meskipun lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency (IEA) sehari sebelumnya sepakat melepas cadangan minyak strategis secara besar-besaran. 

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Ditutup Menguat Tipis, Brent Tetap di Bawah US$ 60 Per Barel

Total pelepasan mencapai 400 juta barel, dengan sekitar 40% berasal dari AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

Di sisi pasokan, perang di kawasan Teluk Timur Tengah memaksa negara-negara produsen memangkas produksi minyak sedikitnya 10 juta barel per hari, setara sekitar 10% dari permintaan global. 

IEA menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.

Wright juga mengatakan Angkatan Laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal komersial yang melintasi Strait of Hormuz. Namun, ia menilai pengawalan tersebut “sangat mungkin” mulai dilakukan sebelum akhir bulan ini.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×