Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar keuangan global bergerak hati-hati pada Selasa (28/4/2026) seiring investor mencermati kebuntuan konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Saham global cenderung stabil, sementara harga minyak melonjak akibat terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Harga minyak mentah jenis Brent naik 2,7% menjadi US$111,20 per barel, level tertinggi dalam tiga pekan. Sementara itu, minyak mentah AS menguat 2,9% ke US$99,10 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup.
Konflik Iran Buntu, Pasokan Energi Tertekan
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah meninjau proposal terbaru dari Teheran untuk mengakhiri konflik. Namun, Presiden Donald Trump disebut tidak puas dengan usulan tersebut karena tidak mencakup program nuklir Iran.
Kondisi ini membuat konflik yang telah berlangsung selama dua bulan berada dalam situasi buntu. Dampaknya, aliran energi global terganggu dan mendorong harga minyak terus menanjak dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Arab Saudi Berpotensi Pangkas Harga Minyak untuk Pasar Asia dari Rekor Tinggi
Pasar Saham dan Sentimen Investor
Di pasar saham, kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,1%, sementara indeks teknologi Nasdaq melemah 0,4%. Di Eropa, indeks STOXX 600 bergerak datar setelah sempat melemah di awal perdagangan.
Meski demikian, musim laporan keuangan emiten (earnings season) membantu meredam tekanan pasar. Analis menyebut selama aliran minyak utama masih terganggu, risiko kenaikan biaya energi akan terus membayangi.
Investor juga menantikan laporan kinerja perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Apple, yang akan menjadi ujian bagi reli pasar berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dolar Menguat, Yen Stabil
Indeks dolar AS naik 0,2%, didorong ketidakpastian geopolitik. Mata uang ini masih dianggap sebagai aset safe haven di tengah konflik Iran, meskipun sebagian penguatannya sejak Maret mulai terkoreksi.
Di sisi lain, yen Jepang relatif stabil setelah keputusan Bank of Japan mempertahankan suku bunga jangka pendek di level 0,75%. Keputusan tersebut diambil dengan perbedaan suara yang cukup tajam di internal bank sentral.
Yen sempat menguat, namun kemudian melemah tipis ke level 159,53 per dolar AS. Pelaku pasar mewaspadai potensi intervensi otoritas Jepang jika mata uang tersebut menembus level psikologis 160 per dolar.
Baca Juga: Uni Eropa Desak ASEAN Hindari Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi Global
Fokus ke Kebijakan Bank Sentral Global
Perhatian pasar pekan ini juga tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, Bank of England, dan European Central Bank.
Ketiganya diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun investor akan mencermati sinyal kebijakan ke depan, terutama terkait tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Risiko Inflasi Meningkat
Kombinasi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Jika gangguan pasokan berlanjut, biaya energi yang tinggi berpotensi membebani konsumen dan dunia usaha secara luas.
Dengan negosiasi damai yang masih belum menunjukkan kemajuan signifikan, pasar global diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek, seiring pelaku pasar menunggu kepastian arah konflik dan kebijakan ekonomi global.
- inflasi
- Investasi
- pasar saham
- Suku Bunga
- Federal Reserve
- Bank of Japan
- bank sentral
- pasar keuangan global
- Selat Hormuz
- Dolar AS
- harga minyak
- kebijakan moneter
- inflasi global
- geopolitik
- harga minyak brent
- Indeks Nasdaq
- Pasar Saham Global
- Indeks S
- Konflik Iran
- Pasokan Energi Global
- nilai dolar AS
- Konflik Iran Amerika Serikat
- Harga minyak mentah AS
- Bank Sentral Global













