kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.143   46,00   0,25%
  • IDX 5.370   -69,71   -1,28%
  • KOMPAS100 695   -8,06   -1,15%
  • LQ45 540   -7,07   -1,29%
  • ISSI 184   -2,44   -1,31%
  • IDX30 302   -3,96   -1,29%
  • IDXHIDIV20 398   -4,97   -1,23%
  • IDX80 80   -0,86   -1,06%
  • IDXV30 111   -1,24   -1,10%
  • IDXQ30 101   -1,20   -1,18%

Harga Minyak Turun, Didorong Harapan Meredanya Ketegangan Iran


Senin, 26 Oktober 2026 / 12:49 WIB
Harga Minyak Turun, Didorong Harapan Meredanya Ketegangan Iran
ILUSTRASI. Harga minyak turun pada hari Senin (26/10/2026) setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir enam bulan pada pekan lalu. (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak turun pada hari Senin (26/10/2026) setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir enam bulan pada pekan lalu. Penurunan ini terjadi di tengah harapan akan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun serangan yang terus berlanjut terhadap produsen utama, Arab Saudi, membuat para investor tetap waspada.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), turun US$ 2,23 atau 2,16% menjadi US$ 101,04 per barel pada pukul 04.26 GMT. Harga minyak mentah berjangka Brent turun US$ 2,21 atau 1,89% menjadi US$ 114,51.

Pada hari Jumat, harga minyak ditutup dengan kenaikan hampir US$ 3 setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi. Brent mengakhiri pekan dengan kenaikan 6%, sementara WTI ditutup lebih tinggi 2,3%.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Usai Reli Pekan Lalu, Brent ke US$ 114,51 & WTI ke US$ 101,04

Pada hari Minggu, mediator dari Qatar bertolak ke Teheran sebagai bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan regional, yang dilakukan dalam koordinasi dengan Amerika Serikat, ungkap seorang pejabat yang mengetahui situasi tersebut.

"Kekhawatiran akan kembali terjadinya permusuhan militer di Timur Tengah—yang menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak mentah pekan lalu—telah mereda pagi ini, namun jeda ini mungkin hanya bersifat sementara," ujar Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak, Vanda Insights.

Hari menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump belum menepis ekspektasi pasar bahwa serangan terhadap Iran masih mungkin terjadi setelah pemilihan umum paruh waktu pada 3 November mendatang.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi, dengan risiko yang masih cenderung mengarah pada kenaikan harga," tambahnya. 

Meskipun terdapat pembicaraan mediasi, serangan terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan telah menyerang sebuah bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi pada hari Sabtu. Pada hari Minggu, Arab Saudi mengumumkan telah mencegat lebih banyak rudal dan pesawat nirawak (drone).

Baca Juga: Emas Rebound Setelah Anjlok 4% Sepekan, Pasar Menanti Keputusan The Fed

Dampak dari perang AS-Israel melawan Iran, yang dimulai pada 28 Februari, terus terasa seiring dengan upaya berbagai perusahaan dalam menyesuaikan diri terhadap gangguan pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb—dua jalur perairan vital yang terdampak oleh konflik tersebut.

Pada hari Senin, menteri energi dari Arab Saudi dan Singapura menyatakan bahwa perusahaan minyak milik negara, Saudi Aramco, akan mulai menyimpan minyak mentah di Singapura mulai paruh kedua tahun 2027. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan rantai pasok Aramco di kawasan tersebut.

"Meskipun risiko pasokan di sekitar Selat Hormuz masih sangat nyata, penurunan harga saat ini tampaknya lebih mencerminkan penyesuaian posisi dan manajemen risiko, alih-alih perbaikan yang berarti dalam situasi pasokan yang sebenarnya," ujar Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, turut mempertegas kekhawatiran mengenai situasi pasokan. Dalam sebuah acara industri di Singapura pada hari Senin, ia menyatakan bahwa pasar energi pada tahun 2027 diperkirakan tidak akan kembali ke kondisi seperti sebelum perang melawan Iran terjadi.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×