Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak turun pada Rabu (2/9/2026) setelah sempat naik ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan di awal sesi perdagangan. Para pedagang menimbang risiko gangguan pasokan akibat serangan AS dan Iran semalam, di tengah tanda-tanda bahwa pasokan minyak mentah terus mengalir ke pasar.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 57 sen, atau 0,60%, menjadi US$ 94,08 per barel pada pukul 11.35 GMT, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 72 sen, atau 0,80%, menjadi US$ 89,50.
Harga minyak mentah Brent dan WTI AS sebelumnya sempat naik ke level tertinggi sejak 24 Juli, masing-masing mencapai angka tertinggi sesi di US$ 97,04 dan US$ 92,29 per barel.
Baca Juga: Uber Bakal PHK 3.300 Pekerja
"Pasar menghadapi risiko biner," ujar Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
"Pengumuman bahwa kesepakatan telah tercapai, atau adanya kemajuan, dapat membuat harga anjlok, sementara eskalasi apa pun akan semakin melemahkan prospek kesepakatan damai. Itulah sebabnya harga minyak tetap sangat fluktuatif, dengan potensi perubahan harga sebesar US$5 ke arah mana pun bergantung pada perkembangan terbaru."
AS dan Iran kembali berada dalam situasi konfrontasi pada hari Rabu setelah terjadinya aksi saling serang paling signifikan dalam beberapa minggu terakhir, di mana Washington mengancam akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat.
Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz—jalur air vital yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima dari konsumsi minyak global, namun kini secara efektif telah ditutup oleh Iran bagi pelayaran komersial.
Dua kapal tanker minyak mengalami kerusakan dan tidak dapat beroperasi setelah menghantam ranjau laut saat mencoba melintasi Selat Hormuz; demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Iran pada hari Rabu yang disebarluaskan oleh media pemerintah.
Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah dalam Lebih dari Tiga Minggu, Ini Penyebabnya
"Aktivitas transfer muatan antar-kapal dalam beberapa pekan terakhir memungkinkan ekspor minyak tetap berlangsung melalui Selat Hormuz, sehingga sedikit mengurangi tekanan pada pasar minyak. Namun, arus ini menghadapi risiko tinggi gangguan akibat serangan militer," ujar Hamad Hussain, ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics.
Menteri Energi AS Chris Wright pada hari Selasa menyatakan bahwa 17 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada hari Senin, seraya menyebut angka tersebut sebagai volume minyak mentah tertinggi yang melewati jalur air itu sejak arus pengiriman sempat berkurang akibat konflik yang melibatkan Iran.
"Jika konflik semakin memanas dan terjadi gangguan yang lebih parah terhadap pelayaran di Timur Tengah, harga minyak mentah Brent sangat mungkin melonjak hingga melampaui angka US$ 100," tambah Hussain.
Di tempat lain, Rusia melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) berskala besar yang menyasar infrastruktur energi di wilayah selatan Ukraina, tepatnya di Odesa, pada malam hari; informasi ini disampaikan oleh operator sistem transmisi Ukrenergo pada hari Rabu.














