Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga seng mencatat level tertinggi dalam empat tahun pada Jumat (28/8/2026), mendekati US$ 4.000 per metrik ton.
Kenaikan tersebut didorong menyusutnya persediaan seng yang tersedia di London Metal Exchange (LME), sehingga kembali memicu kekhawatiran investor terhadap ketatnya pasokan.
Baca Juga: Ekspor Melonjak, Laba BYD Naik 29,8% pada Kuartal II 2026
Melansir Reuters, kontrak seng LME tiga bulan naik 1,2% menjadi US$ 3.929 per metrik ton dalam perdagangan resmi open outcry. Sebelumnya, harga seng sempat menyentuh US$ 3.955 per metrik ton, level tertinggi sejak Mei 2022.
Sepanjang Agustus 2026, harga seng telah menguat sekitar 7,4%. Jika bertahan hingga akhir bulan, kenaikan tersebut akan menjadi performa bulanan terbaik seng sejak Januari 2026.
Perdagangan LME akan ditutup pada Senin (31/8/2026) karena hari libur nasional di Inggris.
Persediaan Seng LME Menyusut
Tekanan pasokan semakin terlihat dari data persediaan LME. Sebanyak 19.125 ton seng tercatat mengalami pembatalan warrant atau instruksi untuk menarik logam dari gudang LME, sebagian besar berada di Singapura.
Pembatalan tersebut membuat persediaan seng yang tersedia di gudang LME turun menjadi sekitar 75.600 ton, setara dengan hanya sekitar dua hari konsumsi global.
Baca Juga: China Ubah Sistem Penjualan Rumah, Dorong Penjualan Hunian yang Sudah Jadi
Broker Marex menilai penurunan persediaan dapat terus memberikan dukungan terhadap harga seng dalam jangka pendek.
"Jika persediaan terus keluar, pasokan spot yang ketat dapat terus mendukung harga seng," tulis Marex dalam catatannya.
Namun, Marex juga memperingatkan bahwa harga yang tinggi dapat menarik kembali pasokan seng dalam jumlah besar ke gudang LME. Jika hal tersebut terjadi, peningkatan persediaan dapat dengan cepat meredakan kekhawatiran terkait pasokan.
Kondisi pasar jangka pendek juga tercermin dari harga kontrak seng tunai LME yang hampir US$ 200 per ton lebih tinggi dibandingkan kontrak tiga bulan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya keketatan pasokan untuk kebutuhan segera.
Baca Juga: Korban Banjir Nepal-China Tembus 552 Orang, Operasi Penyelamatan Dilanjutkan
Persediaan China Masih Tinggi
Sementara itu, kondisi di pasar China relatif berbeda. Kontrak seng di Shanghai Futures Exchange (SHFE) hanya naik 0,1% pada Jumat.
Persediaan seng di SHFE memang turun dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi masih berada pada level relatif tinggi, yakni 153.669 ton.
Ekspor seng dari China juga turut meredakan kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan di luar negeri.
Selain seng, persediaan tembaga di SHFE juga mengalami penurunan signifikan. Stok tembaga tercatat anjlok 19,1% menjadi 72.428 ton.
Baca Juga: Tencent Rilis Model AI Open Source Baru, Punya 770 Miliar Parameter
Harga Tembaga Mendekati Rekor
Di LME, harga tembaga naik 0,6% menjadi US$ 14.365 per ton. Harga tersebut semakin mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 14.527,50 per ton.
Tembaga juga berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kesembilan secara berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 4,2% sepanjang Agustus.
Pelaku pasar turut mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), terutama untuk mencari petunjuk mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato kepada para ekonom di Jackson Hole pada Jumat.
Sementara itu, harga aluminium naik 0,2% menjadi US$ 3.240 per ton, sedangkan timbal turun 0,3% menjadi US$ 1.910 per ton.
Harga nikel naik 0,6% menjadi US$ 16.975 per ton, sementara timah naik tipis 0,1% menjadi US$ 55.420 per ton.














