Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - KATHMANDU/BEIJING. Nepal dan China kembali melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan korban banjir di kawasan Himalaya pada Jumat (28/8/2026), setelah risiko meluapnya danau akibat longsoran es dan material batuan dinilai mulai terkendali.
Bencana banjir yang terjadi pada Rabu (26/8/2026) akibat runtuhnya gletser tersebut telah menewaskan sedikitnya 547 orang di Nepal dan lima orang di Tibet, China. Hampir 1.000 orang lainnya masih dilaporkan hilang di kedua negara.
Banjir bandang membawa material batu, es, lumpur, dan puing-puing dalam jumlah besar melalui sistem sungai di kawasan Himalaya. Runtuhan tersebut juga membentuk sebuah danau yang terus menampung dan meningkatkan volume air.
Baca Juga: Vietnam Dorong Qualcomm dan Samsung Perbesar Investasi AI dan Semikonduktor
Danau Glasial Memicu Kepanikan Baru
Pada Jumat, volume air di danau tersebut telah mencapai lebih dari 2,5 juta meter kubik, meningkat dari sekitar 1,5 juta–2 juta meter kubik sehari sebelumnya.
Air kemudian meluap ke Sungai Lhende Khola dan mengalir menuju Sungai Trishuli, menurut otoritas dan saksi di Nepal.
Kondisi tersebut sempat memicu kepanikan dan peringatan dari pemerintah Nepal. Operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan selama sekitar tiga jam karena adanya kekhawatiran danau dapat jebol.
Di sisi China, seluruh personel dan kendaraan penyelamat juga sempat ditarik ke lokasi yang lebih aman untuk mengantisipasi risiko tersebut, menurut laporan stasiun televisi pemerintah China CCTV.
Operasi kemudian kembali dilanjutkan setelah risiko dinilai mereda.
Baca Juga: Tencent Rilis Model AI Open Source Baru, Punya 770 Miliar Parameter
“Pada siang hari, setelah risiko yang ditimbulkan oleh danau yang terbendung di hulu dinilai dapat dikelola, operasi pencarian dan penyelamatan untuk bencana longsor lumpur Gyirong segera dilanjutkan dan ditingkatkan,” kata CCTV.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet mengatakan, operasi sempat dihentikan setelah adanya peringatan banjir. Namun, pemantauan menunjukkan kenaikan permukaan air hanya sekitar 0,6 meter.
Banjir yang terjadi pada Rabu menghantam desa dan lembah di sepanjang kawasan Himalaya.
Bencana tersebut menghancurkan pembangkit listrik, jalan, serta jembatan yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa di Tibet.
Jalur tersebut juga populer di kalangan wisatawan, pendaki, dan peziarah.
Dari orang yang masih hilang, sedikitnya 540 orang merupakan warga negara asing, termasuk banyak peziarah Hindu asal India yang tengah menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di Tibet.
Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak bencana tersebut. Truk pembawa bantuan juga dilaporkan terhambat setelah danau yang terbentuk akibat longsoran tersebut meluap.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv dengan Gelombang Drone, Gudang dan Rumah Rusak
China Perkuat Pemantauan Danau Gletser
Di Beijing, Politbiro Partai Komunis China menggelar pertemuan pada Jumat untuk mengarahkan penanganan bencana.
Pertemuan yang dipimpin Presiden Xi Jinping meminta otoritas menyusun rencana pencarian dan penyelamatan secara ilmiah serta mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencari korban hilang, baik warga China maupun warga negara asing.
China juga meminta penguatan pemantauan terhadap danau gletser, risiko longsor, serta danau yang terbentuk akibat bendungan alami.
Selain itu, pemerintah China meminta peningkatan bantuan darurat kepada wilayah terdampak di Nepal dan memperkuat kerja sama internasional dalam penanggulangan bencana.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv dengan Gelombang Drone, Gudang dan Rumah Rusak
Perdana Menteri China Li Qiang sebelumnya telah tiba di kawasan Gyirong yang terdampak bencana pada Kamis sore. Kunjungan tersebut menunjukkan tingginya perhatian pemerintah China terhadap bencana tersebut.
Namun, hingga Kamis malam, tim penyelamat China dilaporkan belum mencapai lokasi yang paling parah terdampak di sisi perbatasan, yakni kawasan penyeberangan Gyirong. Tim penyelamat masih membersihkan material longsoran dari jalan akses utama menuju lokasi.
Rekaman yang beredar pada Rabu memperlihatkan aliran air berlumpur dan material longsoran dalam jumlah besar menghantam bangunan di kawasan perbatasan hanya dalam hitungan detik.
Di wilayah Gyirong County, Tibet, jumlah orang yang masih hilang mencapai 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, menurut CCTV. Sejauh ini, lima orang telah dikonfirmasi meninggal dunia di sisi China.
Baca Juga: Stok Kopi Arabika Capai Titik Terendah dalam 26 Tahun, Harga Bisa Naik
Tim Penyelamat Gunakan Helikopter
Di Nepal, tim penyelamat menggunakan helikopter untuk mencari korban selamat sekaligus menjatuhkan bantuan darurat ke wilayah yang terisolasi akibat banjir.
Petugas tanggap darurat, termasuk tim yang menggunakan anjing pelacak, juga menemukan dan mengevakuasi puluhan jenazah yang terbawa arus hingga ke wilayah dataran rendah.
Dibga Tamang menjadi salah satu warga terakhir yang diselamatkan dari wilayah Rasuwa pada Kamis. Ia dievakuasi menggunakan helikopter bersama tiga orang lainnya menuju sebuah pangkalan militer di Nuwakot.
“All of our people have gone. They are dead,” kata Tamang kepada Reuters.
Di salah satu pangkalan militer, sejumlah warga berdatangan untuk mencari informasi mengenai anggota keluarga mereka yang hilang atau meninggal.
Jenazah dibawa ke barak, sementara daftar warga yang telah diselamatkan ditempel di luar untuk membantu keluarga mencari informasi.
Baca Juga: Gelombang Drone Rusia Serang Ibukota Ukraina
Nepal Tolak Bantuan Tim Penyelamat Asing
Sejumlah negara telah menawarkan bantuan untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, pemerintah Nepal menyatakan belum membutuhkan bantuan negara lain untuk menjalankan misi pencarian dan penyelamatan.
Tim tanggap cepat Korea Selatan telah berada di Kathmandu, tetapi belum dikerahkan karena pemerintah Nepal belum memiliki rencana untuk menerima tim penyelamat asing, menurut Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
The Kathmandu Post melaporkan India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh telah meminta pemerintah Nepal mengizinkan tim pencarian dan penyelamatan mereka membantu operasi penanganan bencana.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan Washington telah menawarkan bantuan kepada Nepal.
“It's a terrible thing. We are sending aid and we've spoken to the leadership and we let them know anything they want, they'll have,” kata Trump.













