Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir bandang dan longsor melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, menyebabkan hampir 1.500 orang dilaporkan hilang. Korban hilang tersebut mencakup lebih dari 700 warga negara asing yang sedang melakukan perjalanan wisata maupun ziarah ke kawasan Himalaya.
Warga negara India menjadi kelompok asing terbesar yang belum ditemukan, disusul warga Australia, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang.
Kementerian Luar Negeri India pada Kamis (27/8/2026) mengatakan sedikitnya 288 warga negara India masih hilang di Nepal, sementara sekitar 200 lainnya terjebak di China. Pemerintah Nepal menyebut tim penyelamat telah menemukan sekitar 100 wisatawan India yang sebelumnya dilaporkan hilang serta 25 pekerja asal China.
Bencana terjadi setelah dinding lumpur dan bebatuan runtuh ke sungai di kawasan Himalaya pada Rabu (26/8/2026). Arus air yang deras kemudian menerjang sejumlah wilayah, termasuk jalur menuju Tibet yang banyak digunakan peziarah.
Puluhan Peziarah India Hilang
Salah satu kelompok yang terdampak merupakan rombongan peziarah dari India bagian selatan yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.
Syed Sadique, pemilik agen perjalanan Super Yathra Agency di negara bagian Tamil Nadu, mengatakan perusahaannya mengirim hampir 60 orang dalam sebuah perjalanan ziarah menuju situs suci Hindu di China melalui Nepal.
Rombongan beranggotakan 57 orang tersebut meninggalkan India menuju Nepal pada Minggu (23/8/2026). Mereka dijadwalkan memasuki Tibet pada Rabu setelah menyelesaikan proses imigrasi di perbatasan Nepal-China.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal dan Drone, Fasilitas Energi Jadi Sasaran
Sadique mengatakan rombongan tersebut melakukan perjalanan menggunakan tiga bus di Nepal.
"Kelompok tersebut bepergian dengan tiga bus di Nepal," kata Sadique kepada Reuters.
"Seorang anggota kelompok memberi tahu kami bahwa satu kendaraan yang membawa sekitar 20 orang berhasil melewati lokasi dengan selamat, sementara para penumpang melihat bus lainnya terjun ke jurang," ujarnya.
Putra Sadique, Sayed Umar Farook, yang berprofesi sebagai pemandu perjalanan, termasuk dalam daftar orang yang masih hilang.
"Kami mendengar ketinggian air mulai surut, tetapi kawasan tersebut masih tertutup lumpur. Kami tidak tahu berapa banyak orang yang akan kembali dengan selamat," kata Sadique.
Gunung Kailash Jadi Tujuan Ziarah
Gunung Kailash merupakan salah satu tujuan ziarah penting bagi umat Hindu dan Buddha. Banyak warga India melakukan perjalanan melalui Nepal untuk mencapai kawasan pegunungan tinggi tersebut.
Dalam kepercayaan Hindu, Gunung Kailash diyakini sebagai tempat tinggal abadi Dewa Siwa dan istrinya, Parwati.
Pada Rabu pagi, gelombang air dalam jumlah besar menerjang pos perbatasan Gyirong di Tibet yang berada di jalur menuju kawasan ziarah. Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan derasnya air menyapu sejumlah orang dan kawasan di sekitar perbatasan.
Sementara itu, Distrik Rasuwa di Nepal bagian utara-tengah menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu tujuan trekking.
Agustus bukan merupakan musim puncak untuk aktivitas trekking di kawasan tersebut. Namun, periode ini bertepatan dengan musim utama perjalanan ziarah Kailash Mansarovar, ketika kondisi cuaca dan akses menuju Tibet umumnya dinilai lebih mendukung.
Ada yang Selamat dari Bus yang Diterjang Longsor
Salah satu peziarah asal Tamil Nadu yang selamat adalah Vallynayagi, 62 tahun. Ia berada di dalam bus yang berhasil lolos dari bencana.
Adik iparnya, A. Manoharan, mengatakan Vallynayagi sempat menghubungi keluarga pada Rabu siang dan menyampaikan bahwa dirinya selamat.
"Tiga bus bepergian bersama ketika longsor lumpur menghantam. Tampaknya bus yang berada di depan mereka dan bus di belakang mereka sama-sama terlempar," kata Manoharan kepada Reuters.
"Namun entah bagaimana, bagian jalan yang dilalui bus mereka tidak ikut tersapu," lanjutnya.
Baca Juga: Rusia Ancam Serang Target Militer Inggris, Ketegangan Semakin Meningkat
Manoharan mengatakan lumpur sempat masuk ke dalam bus. Para penumpang kemudian berhasil menyelamatkan diri dengan keluar dari kendaraan dan berjalan menuju lereng bukit.
Para peziarah tersebut awalnya dievakuasi ke sebuah kamp militer. Mereka kemudian diterbangkan menggunakan pesawat menuju lokasi di dekat Kathmandu dan diperkirakan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat menuju ibu kota Nepal.
Keluarga Korban Mulai Kehilangan Harapan
Bencana tersebut memicu kepanikan keluarga para korban di India dan sejumlah negara lainnya. Mereka membanjiri saluran bantuan pemerintah, operator perjalanan, hingga media sosial untuk mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarga mereka.
Kementerian Luar Negeri India mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah Nepal untuk membantu warga negaranya yang terdampak banjir.
Kedutaan Besar India di Kathmandu bersama pemerintah sejumlah negara bagian, termasuk Tamil Nadu, Kerala, dan Andhra Pradesh, telah membuka saluran bantuan bagi keluarga yang mencari informasi mengenai kerabat mereka.
Sandeep Mohapatra dan istrinya, pasangan yang tinggal di Australia dan berasal dari negara bagian Odisha, India timur, juga termasuk dalam daftar orang yang hilang.
"Kami terakhir berbicara dengan mereka pada 23 Agustus dan menerima pesan singkat pada hari berikutnya. Sejak saat itu, kami tidak mendapatkan informasi apa pun mengenai keberadaan mereka," kata sepupu Sandeep, Soumya Mohapatra.
"Kami kehilangan harapan setelah mendengar skala kehancuran dan jumlah korban meninggal," ujarnya.
Satu Rombongan Peziarah Dilaporkan Hilang
Pemimpin spiritual India, Sadhguru Jaggi Vasudev, mengatakan sebanyak 77 peziarah dari berbagai negara serta tiga staf Isha Foundation termasuk dalam daftar orang yang hilang.
Kelompok tersebut disebut telah menyelesaikan perjalanan ziarah dan sedang menjalani proses imigrasi di sisi perbatasan China ketika komunikasi terputus.
Maa Gambhiri, koordinator Isha Sacred Walks, mengatakan kepada kantor berita India ANI bahwa pihaknya terakhir berkomunikasi dengan pemimpin rombongan pada Rabu pagi.
"Kami berbicara dengan pemimpin kelompok pada pukul 09.05 waktu setempat pada Rabu. Namun ketika kami mencoba menghubunginya lagi 10 menit kemudian, kami tidak dapat menghubungi dia maupun orang lain. Tampaknya insiden tersebut terjadi dalam rentang waktu itu," kata Gambhiri.
Baca Juga: Perang Iran Masuk Babak Akhir, Sanksi AS Terancam Buntu Hadapi China dan India
Operator Tur Kesulitan Mendapatkan Informasi
Operator perjalanan di Nepal juga menerima banyak panggilan dari keluarga korban di berbagai negara.
Leaf Holidays Treks & Expeditions, operator perjalanan yang berbasis di Kathmandu, mengatakan 46 klien dan sembilan staf mereka masih hilang.
Direktur pelaksana perusahaan tersebut, Gopal Thapa, bahkan terbang menggunakan helikopter menuju perbatasan untuk mencari informasi mengenai para korban. Namun, kondisi di lokasi membuat pencarian sangat sulit.
"Saya terbang ke perbatasan dengan helikopter untuk mengumpulkan informasi, tetapi saya tidak menemukan apa pun," kata Thapa kepada Reuters.
"Ini adalah kehancuran total. Seluruh kawasan tersebut sudah hilang," ujarnya.
Thapa mengatakan banyak keluarga terus menghubunginya untuk mendapatkan kabar mengenai kerabat mereka.
"Begitu banyak keluarga menghubungi saya, tetapi saya tidak memiliki kabar untuk disampaikan kepada mereka. Harapannya sangat kecil," katanya.
Tim penyelamat Nepal dan pihak berwenang terkait masih melakukan pencarian terhadap korban yang hilang di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Besarnya jumlah korban serta kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi dan pencarian.














