kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.778   37,00   0,21%
  • IDX 6.490   84,64   1,32%
  • KOMPAS100 845   11,84   1,42%
  • LQ45 639   6,30   1,00%
  • ISSI 229   3,87   1,72%
  • IDX30 357   3,02   0,85%
  • IDXHIDIV20 436   3,52   0,81%
  • IDX80 96   1,26   1,33%
  • IDXV30 121   1,42   1,18%
  • IDXQ30 113   0,77   0,68%

Ini Penyebab Banjir Bandang Mematikan di Nepal Menurut Para Ahli


Kamis, 27 Agustus 2026 / 14:07 WIB
Ini Penyebab Banjir Bandang Mematikan di Nepal Menurut Para Ahli
ILUSTRASI. Banjir Nepal (REUTERS/Navesh Chitrakar)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI/LONDON. Banjir bandang mematikan di dekat perbatasan Nepal dengan Tibet pada Rabu (26/8/2026), kemungkinan dipicu ketika bagian bawah gletser patah dan jatuh ke dasar lembah yang berada ratusan meter di bawahnya. Demikian disampaikan para ahli yang mengutip citra satelit dari Planet Labs.

Penyebab runtuhnya gletser tersebut belum jelas, namun pejabat Nepal mengindikasikan kemungkinan adanya gempa bumi di wilayah itu. US Geological Survey meyebutkan, getaran yang dilaporkan sebenarnya adalah energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es gletser, yang diikuti oleh aliran puing.

Pihak berwenang khawatir jumlah total korban akan jauh lebih banyak dibandingkan hampir 170 jenazah yang telah ditemukan sejauh ini. Hampir 1.500 orang, termasuk setidaknya 700 warga asing, dinyatakan hilang.

Citra satelit wilayah tersebut dari Planet Labs yang memperlihatkan kondisi sebelum dan sesudah kejadian, dan telah ditinjau oleh Reuters, menunjukkan lereng gunung yang tadinya hijau subur kini tertimbun puing dan sedimen berwarna cokelat.

"Dapat dipastikan bahwa sebagian besar ujung gletser tersebut runtuh dan memicu peristiwa ini—kemungkinan juga melibatkan atau membawa serta sejumlah besar batuan dan sedimen," kata Vikram Gupta, seorang ahli geologi teknik yang mengajar di Universitas Sikkim, India.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Nepal dan Tibet, Hampir 1.500 Orang Hilang

Ahli ilmu bumi Dan Shugar, seorang profesor madya di Universitas Calgary, mengatakan bahwa citra tersebut tampaknya menunjukkan adanya pencairan salju dalam jumlah besar pada 24 jam sebelum bencana terjadi.

"Beberapa gletser di lembah itu tertutup salju kemarin, namun hari ini sebagian besarnya hanya berupa es terbuka. Jadi dengan kata lain (dan saya belum melihat data stasiun cuaca apa pun), suhunya kemungkinan hangat," ujarnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada tahun 2023 bahwa pegunungan bersalju di Nepal telah kehilangan hampir sepertiga massa esnya dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun akibat pemanasan global.

Badan tersebut menambahkan bahwa gletser di Nepal—yang terletak di antara dua negara penghasil emisi karbon terbesar, India dan Tiongkok—mencair 65% lebih cepat pada dekade terakhir dibandingkan dekade sebelumnya.

"Berdasarkan apa yang saya lihat pada citra satelit pagi ini dari Planet Labs, bagian bawah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh menghantam dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter di bawahnya," kata Shugar.

Ia mengatakan, aktivitas konstruksi juga bisa menjadi faktor penyebab, dan "apakah perubahan iklim turut berperan adalah hal yang pastinya akan kami selidiki dalam waktu dekat".

Longsoran Es dan Batu

Andrew Zolli, Chief Impact Officer Planet mengatakan, organisasinya akan segera merilis citra yang lebih lengkap di bawah lisensi terbuka untuk membantu upaya penanganan di lapangan.

"Analisis Dan menunjukkan bahwa peristiwa ini mungkin merupakan akibat dari runtuhnya gletser yang dipicu oleh pencairan cepat," tulis Zolli di LinkedIn. "Apakah peristiwa tersebut juga dipengaruhi oleh faktor iklim adalah hal yang saya yakin akan diteliti lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang."

Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berlokasi di wilayah yang paling terdampak parah di distrik pegunungan Rasuwa, yang memiliki populasi sekitar 50.000 jiwa.

Baca Juga: Ratusan Warga Asing Hilang Akibat Banjir Dahsyat di Nepal, Warga India Terbanyak

Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal menyatakan banjir yang melibatkan material gletser tersebut terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor yang berlangsung sekitar 20 km (12 mil) di sebelah timur laut titik perbatasan Nepal-Tiongkok.

"Banjir bandang tersebut disebabkan oleh longsoran es dan batuan di sisi wilayah Nepal," kata Prakash Pokharel, seorang ahli geologi di lembaga tersebut yang telah meninjau citra dari Planet Labs.

Frekuensi dan intensitas banjir, tanah longsor, longsoran salju, serta kekeringan terus meningkat di wilayah Hindu Kush Himalaya; selain itu, perubahan yang kian cepat pada kondisi air, lahan, dan udara di kawasan tersebut menimbulkan ancaman besar bagi penduduk, menurut International Centre for Integrated Mountain Development.

Kelompok tersebut menyatakan pada hari Rabu bahwa banjir bandang itu memicu aliran deras yang membawa air, sedimen, dan bongkahan batu besar melintasi sistem sungai Bhote Koshi dan Trishuli; mereka juga menambahkan bahwa ketinggian air sungai di wilayah hilir Galchhi dilaporkan naik hingga sembilan meter (30 kaki) dalam waktu 30 menit.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×