kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Notulen The Fed Ungkap Perdebatan Panas soal Arah Suku Bunga AS


Rabu, 07 Oktober 2026 / 21:11 WIB
Notulen The Fed Ungkap Perdebatan Panas soal Arah Suku Bunga AS
ILUSTRASI. Federal Reserve / The Fed (REUTERS/Kevin Lamarque)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Notulen rapat kebijakan terakhir Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mengungkap perdebatan yang lebih luas di antara para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) dibandingkan dengan keputusan kenaikan suku bunga yang disepakati secara bulat.

Notulen rapat yang digelar pada 15-16 September tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, terutama di tengah perbedaan pandangan mengenai seberapa persisten tekanan inflasi dan kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin setelah rapat September, ke kisaran 3,75%-4,00%. Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk mengurangi "dosis akomodasi" ketika inflasi terlihat masih tertahan di atas target bank sentral sebesar 2%.

Menurut Warsh, kebijakan moneter saat itu juga dinilai belum memberikan tekanan yang cukup terhadap perekonomian AS secara keseluruhan.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Jalur Transit Ilegal di Selat Hormuz

Kenaikan suku bunga tersebut juga dipandang sebagai kelanjutan dari sikap hawkish yang disampaikan Warsh dalam sejumlah pernyataan pada akhir musim panas. Saat itu, ia menegaskan bahwa The Fed akan menurunkan inflasi "dengan kecepatan yang memadai", meskipun hal tersebut berarti menaikkan suku bunga dan berseberangan dengan tuntutan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan biaya pinjaman lebih rendah.

Perdebatan soal kenaikan suku bunga

The Fed saat ini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober, kurang dari sepekan sebelum pemilihan kongres paruh waktu AS.

Notulen rapat September akan menjadi perhatian investor karena dapat menunjukkan seberapa dalam perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan.

Di satu sisi, terdapat pejabat yang menilai inflasi masih cukup kuat dan persisten sehingga membutuhkan pengetatan kebijakan secara berkelanjutan. Di sisi lain, sejumlah pejabat cenderung lebih bersabar hingga data ekonomi terbaru menunjukkan kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga.

"Kami memperkirakan notulen akan menunjukkan bahwa meskipun terdapat kesepakatan luas mengenai keputusan kebijakan, para pejabat memiliki beragam pandangan mengenai kebijakan moneter di masa depan," tulis analis Citi.

Perbedaan pandangan tersebut antara lain terlihat dari pendekatan yang lebih sabar yang disampaikan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams sejak pertemuan September.

Sebaliknya, Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan menilai setidaknya masih diperlukan dua kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk mengendalikan inflasi.

Notulen rapat tersebut akan dirilis pada pukul 14.00 waktu Eastern Daylight Time (EDT) atau pukul 18.00 GMT.

Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 70 Rudal, 20 Orang Tewas

Data ekonomi AS mulai melemah

Dalam pertemuan September, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%.

Proyeksi yang diterbitkan setelah pertemuan menunjukkan bahwa 16 dari 18 pejabat The Fed yang menyampaikan proyeksi masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.

Namun, data ekonomi yang dirilis setelah pertemuan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Inflasi pada Agustus tercatat meningkat lebih rendah dari perkiraan, sementara pertumbuhan lapangan kerja pada September juga berada di bawah ekspektasi.

"Kami memperkirakan beberapa pejabat tidak setuju dengan karakterisasi Ketua Warsh mengenai perekonomian yang begitu kuat sehingga kenaikan suku bunga tidak akan 'menimbulkan kerugian'," tulis analis Citi.

"Kami juga memperkirakan beberapa pejabat menilai data inflasi sebelum pertemuan sebagai sesuatu yang 'menggembirakan'," lanjut mereka.

Setelah rapat September, investor sempat memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam dua pertemuan berikutnya, yakni pada Oktober dan Desember.

Namun, ekspektasi tersebut berubah setelah John Williams menyatakan bahwa "tidak perlu ada urgensi" dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Pernyataan tersebut kemudian mendapat dukungan dari Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 1% di Sore Ini (7/10), Terseret Penguatan Dolar AS;

Warsh sendiri belum memberikan pernyataan publik sejak konferensi pers setelah pertemuan pada 16 September. Sikap tersebut sejalan dengan komitmennya untuk mengurangi pemberian panduan mengenai arah kebijakan moneter.

Investor perkirakan The Fed tahan suku bunga

Pasar kini secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Sebelum pertemuan berikutnya, bank sentral AS akan memperoleh data inflasi melalui Consumer Price Index (CPI) untuk September. The Fed juga diperkirakan sudah memiliki cukup data untuk memperkirakan secara lebih dekat inflasi September berdasarkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.

Indeks PCE merupakan indikator inflasi yang digunakan The Fed dalam menetapkan target inflasi sebesar 2%.

Dengan demikian, data inflasi dan ketenagakerjaan terbaru akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga atau kembali melakukan pengetatan dalam pertemuan berikutnya.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×