kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

Risalah The Fed Bikin Pasar Tegang, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat


Kamis, 21 Mei 2026 / 05:38 WIB
Risalah The Fed Bikin Pasar Tegang, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
ILUSTRASI. Risalah rapat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve menunjukkan semakin banyak pejabat yang membuka peluang kenaikan suku bunga di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat perang Iran. (Leah Millis/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Risalah rapat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve menunjukkan semakin banyak pejabat yang membuka peluang kenaikan suku bunga di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat perang Iran.

Mengutip Reuters, dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 April yang dirilis Rabu (20/5/2026), mayoritas pejabat The Fed menilai pengetatan kebijakan moneter kemungkinan diperlukan apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2%.

“Beberapa pengetatan kebijakan kemungkinan akan menjadi langkah yang tepat jika inflasi tetap tinggi secara persisten,” tulis risalah tersebut.

Risalah juga mengungkap banyak pejabat sebenarnya ingin menghapus bahasa dalam pernyataan kebijakan yang masih memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga di masa depan.

Dalam terminologi The Fed, istilah “many” atau “banyak” berada sedikit di bawah “majority” atau mayoritas. Hal ini menunjukkan kubu hawkish di internal The Fed semakin besar.

Situasi tersebut dinilai akan menjadi tantangan besar bagi calon Ketua The Fed baru, Kevin Warsh, yang sebelumnya dikenal lebih mendukung penurunan suku bunga sebelum konflik Iran memanas.

Para pembuat kebijakan The Fed secara umum menilai suku bunga perlu dipertahankan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Mayoritas besar pejabat juga melihat risiko inflasi membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali ke target 2%.

Baca Juga: SpaceX Siap Pecahkan Rekor IPO Terbesar Dunia, Salip Saudi Aramco

Meski masih ada beberapa pejabat yang mendukung pemangkasan suku bunga apabila inflasi mereda, jumlahnya kini lebih sedikit dibandingkan rapat Maret lalu.

Kepala Ekonom Global Oxford Economics, Ryan Sweet, mengatakan membangun konsensus untuk mengubah arah suku bunga akan menjadi tugas sulit dalam waktu dekat.

Perang Iran disebut menjadi faktor utama yang mendorong perubahan sikap pejabat The Fed menjadi lebih hawkish. Konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan itu menyebabkan lonjakan harga energi dan memperluas tekanan biaya pada berbagai barang dan jasa.

Risalah April juga menjadi rapat terakhir yang dipimpin Jerome Powell sebelum pergantian kepemimpinan.

The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% bulan lalu. Namun, empat pejabat menyatakan dissent atau perbedaan pendapat, jumlah terbanyak sejak 1992.

Salah satu pejabat, Stephen Miran, tetap mendukung pemangkasan suku bunga. Sementara tiga pejabat lainnya justru menolak penggunaan bahasa yang masih membuka peluang pemangkasan suku bunga.

Kelompok hawkish menilai inflasi masih jauh di atas target The Fed dan berpotensi meningkat lebih lanjut akibat perang Iran yang mendorong harga minyak melonjak lebih dari 50%.

Selain itu, tingkat pengangguran AS yang stabil dan penciptaan lapangan kerja yang masih kuat dianggap menunjukkan ekonomi belum membutuhkan stimulus melalui penurunan suku bunga.

Tonton: Trump Tinggal 1 Jam Serang Iran! Timur Tengah di Ambang Perang Besar?

Pasar obligasi global kini semakin mencerminkan keyakinan bahwa The Fed dan bank sentral utama dunia kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga untuk menghadapi inflasi akibat perang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang menjadi indikator ekspektasi kebijakan The Fed, melonjak dari di bawah 3,40% pada akhir Februari menjadi di atas 4,10% pada Selasa, level tertinggi dalam 15 bulan.

Survei Reuters terbaru juga menunjukkan ekspektasi ekonom terhadap penurunan suku bunga tahun ini mulai berubah drastis. Kurang dari 50% ekonom kini memperkirakan pemangkasan suku bunga sebelum Desember, turun dari sekitar dua pertiga pada bulan lalu.

Tabel Poin Penting Risalah The Fed

Indikator Perkembangan
Sikap pejabat The Fed Semakin hawkish
Peluang kenaikan suku bunga Meningkat
Target inflasi The Fed 2%
Suku bunga saat ini 3,50% - 3,75%
Jumlah dissent 4 pejabat
Penyebab utama Inflasi akibat perang Iran
Harga minyak Naik lebih dari 50%
Ekspektasi pasar Pemangkasan suku bunga makin kecil

Tabel Kubu di Internal The Fed

Kelompok Pandangan
Hawkish Ingin suku bunga tetap tinggi atau naik
Dovish Masih mendukung pemangkasan suku bunga
   




TERBARU

[X]
×