kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Suku Bunga The Fed: Ada Peluang Kenaikan, Ini Sinyalnya!


Kamis, 19 Februari 2026 / 05:45 WIB
Suku Bunga The Fed: Ada Peluang Kenaikan, Ini Sinyalnya!
ILUSTRASI. Risalah The Fed terbaru tunjukkan pejabat terbelah soal suku bunga. Sebagian siap naikkan jika inflasi tak turun. Apa dampaknya? (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pejabat The Fed kompak menahan suku bunga pada pertemuan bulan lalu, namun terbelah soal langkah selanjutnya. Sebagian membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain siap memangkas suku bunga lagi bila tekanan harga mereda sesuai ekspektasi. 

Di sisi lain, seluruh anggota juga tengah mencermati dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian AS.

Mengutip Reuters, risalah rapat 27–28 Januari yang dirilis Rabu menunjukkan hampir semua anggota Federal Open Market Committee (FOMC) sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%. Namun, perbedaan pandangan muncul setelah keputusan tersebut.

Sebagian pejabat optimistis bahwa lonjakan produktivitas akibat perkembangan teknologi, termasuk AI, dapat membantu menekan inflasi. Tetapi mayoritas mengingatkan bahwa proses menuju target inflasi 2% kemungkinan berjalan lebih lambat dan tidak merata. Risiko inflasi bertahan di atas target dinilai masih signifikan.

AI Jadi Sumber Harapan dan Kekhawatiran

Dalam risalah tersebut disebutkan, beberapa peserta rapat menilai pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi akibat perkembangan teknologi atau regulasi dapat memberi tekanan turun pada inflasi. Namun sebagian besar tetap berhati-hati dan melihat potensi inflasi bertahan lebih lama.

Di sisi lain, ada pula kekhawatiran bahwa lonjakan investasi di sektor AI bisa memicu risiko keuangan, terutama karena kenaikan valuasi aset dan keterlibatan pasar swasta yang dinilai kurang transparan.

Baca Juga: Kilang Raksasa AS Buru Minyak Venezuela, Apa yang Terjadi?

Staf The Fed memperkirakan ekonomi AS masih akan tumbuh kuat. Namun pertumbuhan itu dinilai bisa melampaui kapasitas potensial ekonomi dan memicu tekanan inflasi baru. Pandangan ini berbeda dengan keyakinan sebagian pihak yang menilai peningkatan produktivitas akan cukup cepat untuk menopang pertumbuhan tanpa mendorong kenaikan harga.

Keputusan untuk menghentikan sementara pelonggaran moneter dinilai sebagai langkah tepat guna mengevaluasi dampak pemangkasan suku bunga 75 basis poin sepanjang tahun lalu. Hanya dua pejabat yang mendukung pemangkasan tambahan dalam rapat tersebut, yakni Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran, yang khawatir pasar tenaga kerja mulai melemah.

Menariknya, risalah juga memunculkan kembali kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tak kunjung turun ke target 2%. Saat ini, inflasi masih sekitar satu poin persentase di atas target tersebut.

Tantangan untuk Ketua The Fed Berikutnya

Perbedaan pandangan ini menjadi tantangan besar bagi calon ketua baru The Fed, Kevin Warsh, pilihan Presiden Donald Trump, yang dijadwalkan menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang jika mendapat persetujuan Senat.

Warsh dan Trump sama-sama menyuarakan perlunya pemangkasan suku bunga. Namun membangun konsensus di antara pembuat kebijakan yang terbelah bukanlah tugas mudah.

Meski pasar saat ini memperkirakan suku bunga tetap ditahan hingga rapat 16–17 Juni, yang berpotensi menjadi rapat pertama Warsh sebagai ketua, pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pada Juni dan September. Pasar belum melihat kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Tonton: Media Asing Ramai Ulas Gebrakan Militer RI yang Siapkan Jalan Tol Jadi Landasan Jet Tempur

Rapat The Fed berikutnya dijadwalkan pada 17–18 Maret, di mana pejabat akan memperbarui proyeksi ekonomi dan jalur suku bunga.

Data terbaru juga belum memberi kejelasan arah kebijakan. Inflasi Januari tercatat lebih rendah dari perkiraan, namun pertumbuhan lapangan kerja justru melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran menurun. Mayoritas pejabat menilai ekonomi masih akan tumbuh cukup solid dalam waktu dekat.

Selanjutnya: Harga Saham Blue Chip Ini Terus Melonjak Usai Anjlok, Akankah Jadi 'Game Changer'?

Menarik Dibaca: Warga Batang Wajib Tahu Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Lengkap Resmi Kemenag




TERBARU

[X]
×