Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Boeing telah menandatangani kontrak baru senilai US$ 289 juta dengan Israel untuk mengirimkan hingga 5.000 bom pintar baru yang diluncurkan dari udara, kata sebuah sumber kepada Reuters pada hari Selasa (10/3/2026).
Kontrak baru ini tidak terkait dengan serangan udara AS-Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran, dengan pengiriman yang dijadwalkan baru akan dimulai dalam 36 bulan, Bloomberg News melaporkan sebelumnya, mengutip seseorang yang mengetahui masalah tersebut.
Boeing menolak berkomentar ketika dihubungi oleh Reuters.
Bom Berdiameter Kecil (Small Diameter Bomb) buatan Boeing adalah amunisi berpemandu yang dapat diluncurkan oleh jet Israel ke target yang berjarak lebih dari 40 mil (64 kilometer).
Baca Juga: Harga Minyak WTI Dibuka Menguat 5% pada Pagi Ini (11/3), Konflik Timur Tengah Memanas
Tahun lalu, Boeing mendapatkan kontrak senilai US$ 8,6 miliar dari Pentagon untuk memproduksi dan mengirimkan jet F-15 ke Israel sebagai bagian dari penjualan militer asing antara kedua pemerintah.
AS telah lama menjadi pemasok senjata terbesar bagi sekutu terdekatnya di Timur Tengah.
Reuters melaporkan di pekan lalu bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah melewati Kongres AS menggunakan wewenang darurat untuk mempercepat penjualan lebih dari 20.000 bom ke Israel senilai sekitar US$ 650 juta.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada hari Sabtu bahwa Israel akan membeli tambahan amunisi penting senilai US$ 298 juta melalui penjualan komersial langsung.
Sebelumnya tahun ini, Departemen Luar Negeri AS menyetujui lebih dari US$ 6,5 miliar dalam tiga kontrak terpisah untuk potensi penjualan militer ke Israel, yang mencakup helikopter Apache buatan Boeing.













