Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Para pejabat Federal Reserve (The Fed) hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan lalu, namun tetap terpecah mengenai langkah kebijakan selanjutnya.
Sejumlah pejabat membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain cenderung mendukung pemangkasan lebih lanjut jika tekanan harga mereda sesuai perkiraan.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Januari yang dirilis Rabu (18/2/2026) menunjukkan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% didukung oleh “hampir seluruh” anggota.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak Lebih dari 2% Rabu (18/2), di Tengah Ketegangan Geopolitik
Namun, perdebatan muncul terkait prospek inflasi, arah kebijakan berikutnya, serta dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian.
Pertemuan tersebut merupakan salah satu yang terakhir bagi Ketua The Fed Jerome Powell sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei.
Presiden AS Donald Trump telah menunjuk mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai penggantinya.
Tantangan bagi Warsh nantinya adalah membangun konsensus di antara para pembuat kebijakan, terutama terkait dorongan Trump dan Warsh untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Optimisme dan Kekhawatiran Soal AI
Risalah mencerminkan dua pandangan berbeda terkait AI. Beberapa pejabat menilai pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi akibat perkembangan teknologi atau regulasi dapat menekan inflasi secara keseluruhan.
“Beberapa peserta memperkirakan pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi terkait perkembangan teknologi atau regulasi dapat memberikan tekanan turun pada inflasi,” demikian tertulis dalam risalah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Melonjak 4% Rabu (18/2), Geopolitik Panaskan Pasar
Namun mayoritas pejabat memperingatkan bahwa proses menuju target inflasi 2% kemungkinan akan lebih lambat dan tidak merata dari perkiraan umum. Mereka juga menilai risiko inflasi tetap berada di atas target masih cukup signifikan.
Selain potensi peningkatan produktivitas, AI juga dipandang membawa risiko, terutama terkait lonjakan valuasi aset dan keterlibatan pasar swasta yang kurang transparan.
The Fed menilai perkembangan AI menghadirkan potensi besar, tetapi juga ketidakpastian dan risiko terhadap stabilitas keuangan.
Perpecahan Soal Arah Suku Bunga
Meskipun sebagian besar pejabat memperkirakan inflasi akan mereda tahun ini sehingga membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga, risalah juga untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir menyebut kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target.
Saat ini, inflasi masih sekitar satu poin persentase di atas target 2% The Fed.
Baca Juga: Energi AS Melesat, Jepang Suntik US$ 36 Miliar ke Proyek Raksasa
“Beberapa peserta menyatakan mereka dapat mendukung pendekatan dua arah terhadap kebijakan suku bunga ke depan, termasuk kemungkinan penyesuaian naik jika inflasi tetap di atas target,” tulis risalah tersebut.
Sebagian pejabat lainnya menilai suku bunga perlu dipertahankan untuk beberapa waktu hingga terdapat bukti lebih jelas bahwa disinflasi kembali berjalan sesuai jalur.
Sementara itu, beberapa pejabat lain memasukkan pemangkasan suku bunga lanjutan dalam proyeksi dasar mereka terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Dua gubernur The Fed, Christopher Waller dan Stephen Miran, tercatat memberikan suara berbeda dengan mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan Januari karena kekhawatiran terhadap potensi pelemahan pasar tenaga kerja.
“Para pembuat kebijakan bergerak ke arah yang berlawanan sementara inflasi masih berada di atas target. Mereka bahkan belum sepakat apakah suku bunga saat ini bersifat restriktif atau netral. Ketua berikutnya akan menghadapi tantangan berat dalam membangun konsensus,” ujar David Russell, Kepala Strategi Pasar Global TradeStation.
Baca Juga: Vatikan Tolak Bergabung dengan Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Ini Alasannya
Pasar Tunggu Kepemimpinan Baru
Nada risalah dinilai cenderung hawkish karena menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap berada di level saat ini untuk beberapa waktu.
Pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga pertemuan 16–17 Juni, yang diperkirakan menjadi pertemuan pertama Warsh sebagai Ketua The Fed jika telah dikonfirmasi Senat.
Pasar memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni dan kembali pada September, tanpa mencerminkan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Pertemuan kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 17–18 Maret, di mana The Fed akan memperbarui proyeksi ekonomi dan jalur suku bunga.
Baca Juga: Kepemimpinan ECB, Spekulasi Mundur Lagarde Ancam Stabilitas Euro
Data ekonomi sejak pertemuan Januari belum memberikan kejelasan penuh. Inflasi konsumen Januari tercatat lebih rendah dari perkiraan, namun pertumbuhan lapangan kerja melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran menurun.
Sebagian besar pejabat tetap memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat akan berlanjut.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)