Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT AM MAIN. Isu pengunduran diri Christine Lagarde dari kursi Presiden European Central Bank (ECB) memicu gejolak di pasar keuangan Eropa. Laporan Financial Times (18/2) mengabarkan Lagarde disebut-sebut akan mundur sebelum masa jabatannya berakhir pada Oktober 2027. Kabar ini langsung menekan euro yang melemah 0,15% ke level US$ 1,1834 pada perdagangan Rabu (waktu setempat), mencerminkan kekhawatiran investor atas potensi ketidakpastian kepemimpinan bank sentral kawasan euro.
Mengutip sumber yang mengetahui pemikiran Lagarde, Financial Times menulis keputusan itu diduga membuka ruang bagi Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk ikut menentukan suksesi pucuk pimpinan ECB. Langkah ini dinilai sarat dimensi politik, mengingat masa jabatan kedua Macron berakhir pada April 2027 dan ia tak bisa mencalonkan diri kembali. Di sisi lain, survei menunjukkan peluang kemenangan partai sayap kanan National Rally yang dipimpin Jordan Bardella dan Marine Le Pen kian menguat.
ECB buru-buru membantah laporan tersebut. “Presiden Lagarde sepenuhnya fokus pada misinya dan belum mengambil keputusan apa pun terkait akhir masa jabatannya,” ujar juru bicara ECB. Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure juga menolak berkomentar lebih jauh. “Sejauh yang saya tahu, beliau ada di sini dan dalam kondisi baik,” katanya di sela pertemuan para menteri kawasan euro di Brussel.
Baca Juga: Lego Bidik Pendirian 50 Toko di India
Spekulasi ini muncul tak lama setelah François Villeroy de Galhau mundur sebelum masa jabatannya sebagai Gubernur Bank of France berakhir. Banyak pengamat melihat langkah tersebut memberi ruang bagi Macron menentukan pengganti di bank sentral nasional, dan kini isu serupa menyeret ECB.
Secara fundamental, posisi Lagarde di ECB dinilai krusial. Sejak menjabat pada 2019 setelah sebelumnya memimpin International Monetary Fund (IMF), Lagarde menghadapi serangkaian krisis, mulai dari pandemi hingga lonjakan inflasi akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kebijakan pengetatan moneter agresif ECB di bawah kepemimpinannya dianggap berperan besar menahan laju inflasi di kawasan euro.
Lagarde sendiri sebelumnya telah menepis wacana mundur lebih awal. Pada Juni tahun lalu, ia menegaskan bertekad menyelesaikan masa jabatannya. Karena itu, selama belum ada pernyataan resmi, pasar kemungkinan akan terus dibayangi spekulasi politik yang berpotensi mengganggu stabilitas euro dan arah kebijakan moneter Eropa ke depan.
Baca Juga: MTN Caplok IHS, Tebus Menara US$ 6,2 Miliar













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)