Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - VATIKAN. Vatikan memastikan tidak akan ambil bagian dalam inisiatif Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Penegasan itu disampaikan Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, yang menilai penanganan krisis internasional semestinya berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Parolin, Tahta Suci memandang Dewan Perdamaian memiliki karakter yang berbeda dengan forum antarnegara pada umumnya. Karena itu, Vatikan memilih tidak terlibat.
Ia menekankan bahwa pada level global, pengelolaan konflik dan krisis seharusnya dikoordinasikan oleh PBB, sebuah prinsip yang selama ini konsisten disuarakan Vatikan.
Baca Juga: Vatikan Tolak Ikut Board of Peace Gagasan Donald Trump
Dewan Perdamaian dibentuk Trump menyusul rencana pengelolaan sementara Gaza pascagencatan senjata yang rapuh pada Oktober lalu.
Awalnya, dewan ini dirancang untuk mengawasi tata kelola sementara wilayah Gaza. Namun belakangan, Trump menyatakan dewan tersebut dengan dirinya sebagai ketua akan diperluas perannya untuk menangani konflik global.
Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis, dengan agenda utama membahas rekonstruksi Gaza.
Sejumlah pihak internasional bersikap hati-hati terhadap undangan Trump. Italia dan Uni Eropa menyatakan hanya akan hadir sebagai pengamat, tanpa bergabung secara resmi.
Sejumlah pakar hak asasi manusia mengkritik pembentukan dewan ini karena dinilai menyerupai struktur kolonial, terutama karena dipimpin langsung oleh presiden AS dan tidak melibatkan perwakilan Palestina.
Baca Juga: Vatikan Tidak Akan Bergabung dalam Dewan Perdamaian Inisiatif Trump, Ini Alasannya
Kritik juga datang dari kalangan akademisi dan pengamat internasional yang menilai keberadaan dewan berpotensi melemahkan peran PBB. Meski beberapa sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah memilih bergabung, negara-negara Barat lainnya sejauh ini cenderung menjaga jarak.
Situasi di Gaza sendiri masih jauh dari stabil. Gencatan senjata yang dimulai Oktober lalu kerap dilanggar. Ratusan warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas sejak kesepakatan tersebut berlaku.
Serangan Israel ke Gaza disebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, memicu krisis kelaparan, dan menyebabkan seluruh penduduk Gaza mengungsi di wilayahnya sendiri.
Sejumlah pakar HAM, akademisi, dan penyelidikan PBB menilai operasi militer tersebut memenuhi unsur genosida.
Israel menolak tuduhan itu dan menyatakan tindakannya sebagai pembelaan diri, menyusul serangan kelompok Hamas pada akhir 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 lainnya.
Baca Juga: Vatikan Tolak Ikut Board of Peace Gagasan Donald Trump
Sementara itu, Paus Leo, pemimpin umat Katolik dunia diketahui berulang kali mengecam kondisi kemanusiaan di Gaza.
Meski jarang terlibat langsung dalam dewan atau forum internasional, Vatikan memiliki jaringan diplomatik luas dan berstatus sebagai pengamat tetap di PBB, posisi yang selama ini digunakan untuk menyuarakan pendekatan multilateral dalam penyelesaian konflik global.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)