kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

The Fed Bersiap Gelar Rapat Penting, Arah Suku Bunga Kian Tak Pasti


Senin, 27 April 2026 / 17:20 WIB
The Fed Bersiap Gelar Rapat Penting, Arah Suku Bunga Kian Tak Pasti
ILUSTRASI. Masa jabatan Jerome Powell berakhir 15 Mei, Kevin Warsh menguat sebagai pengganti. Keputusan ini krusial bagi pasar global (KONTAN/The Fed)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Para pembuat kebijakan di bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, dijadwalkan menggelar rapat penting pekan ini di Washington. Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi salah satu momen krusial, bahkan berpotensi menjadi rapat terakhir Jerome Powell sebagai pimpinan bank sentral AS.

Rapat ini berlangsung di tengah tekanan global yang meningkat, mulai dari lonjakan harga energi hingga konflik Iran yang masih berlangsung dan menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi serta kebijakan moneter.

Suku Bunga Diperkirakan Tetap, Arah Kebijakan Jadi Sorotan

Dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Rabu, Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, level yang telah bertahan sejak Desember lalu.

Namun, fokus utama pelaku pasar tertuju pada sinyal kebijakan ke depan, khususnya kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi kembali meningkat. Hal ini menjadi perhatian mengingat tekanan harga yang masih tinggi akibat konflik geopolitik.

Baca Juga: China Blokir Akuisisi Startup AI Manus oleh Meta, Rivalitas dengan AS Memanas

Powell juga diperkirakan akan memberikan kejelasan terkait rencananya setelah masa jabatannya berakhir pada 15 Mei, termasuk kemungkinan tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed.

Jalan Mulus Suksesi, Kevin Warsh Menguat

Peluang pengangkatan Kevin Warsh sebagai pengganti Powell semakin terbuka setelah hambatan politik di Senat AS mereda. Departemen Kehakiman AS sebelumnya menghentikan penyelidikan terhadap Powell terkait renovasi kantor pusat The Fed, yang sempat menjadi isu kontroversial.

Secara tradisional, pimpinan bank sentral AS mengundurkan diri dari dewan setelah masa jabatannya berakhir. Namun, Powell membuka kemungkinan untuk tetap menjabat hingga 2028, tergantung pada kepentingan institusi.

Dampak Perang Iran terhadap Inflasi

Konflik antara AS dan Iran yang dimulai pada 28 Februari terus memberikan tekanan pada pasar energi global. Harga minyak mentah acuan dunia, Brent crude, telah melonjak sekitar 50% sejak perang dimulai.

Gangguan di Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia—menjadi faktor utama lonjakan harga tersebut. Kondisi ini turut mendorong inflasi di AS ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Gubernur The Fed Christopher Waller menilai bahwa jika harga energi tetap tinggi dan gangguan pasokan berlanjut, maka tekanan inflasi dapat meluas ke berbagai sektor, sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Ia menyebut situasi ini sebagai kondisi yang “sangat rumit” bagi pembuat kebijakan, karena The Fed harus menghadapi inflasi tinggi di tengah potensi pelemahan pasar tenaga kerja.

Debat Internal: Tahan atau Naikkan Suku Bunga?

Sejumlah pejabat The Fed mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga sebagai langkah berikutnya, meskipun sebelumnya pasar memperkirakan pelonggaran kebijakan pada tahun ini.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Berpotensi Terus Naik, Wisatawan Disarankan Beli Lebih Awal

Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menyatakan bahwa kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat, namun tetap perlu diwaspadai risiko inflasi yang dapat meningkat akibat harga energi tinggi.

Menurutnya, jika ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali, maka kenaikan suku bunga dapat menjadi langkah yang diperlukan.

Ketidakpastian Kebijakan Masih Tinggi

Meski mayoritas pejabat mendukung penahanan suku bunga dalam jangka pendek, arah kebijakan ke depan masih belum pasti. Perdebatan utama kini berkisar pada apakah pernyataan resmi The Fed akan mulai mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga, sebuah perubahan signifikan dari sikap sebelumnya.

Analis dari Bank of America menilai The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, nada pernyataan Powell diperkirakan akan cenderung hawkish, mencerminkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang masih tinggi.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×