Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pekan ini menjadi momen penting bagi pelaku pasar global. Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh akan menjalani kesaksian pertamanya di hadapan Kongres Amerika Serikat sejak resmi menjabat, bertepatan dengan rilis data inflasi yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Melansir Bloomberg (12/7), Warsh dijadwalkan memberikan keterangan di Komite Jasa Keuangan DPR AS pada Selasa (15/7) waktu setempat, hanya beberapa jam setelah pemerintah merilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Juni. Sehari kemudian, ia kembali bersaksi di Senat usai terbitnya data inflasi produsen (Producer Price Index/PPI). Kombinasi dua agenda tersebut diperkirakan menjadi fokus utama investor untuk mengukur apakah tekanan inflasi mulai mereda atau justru kembali menguat.
Survei Bloomberg menunjukkan inflasi AS diperkirakan melandai setelah harga-harga sempat melonjak pada Maret hingga Mei. Turunnya harga bensin diperkirakan mendorong indeks harga konsumen mencatat penurunan bulanan pertama sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020. Meski demikian, tekanan di tingkat produsen diperkirakan masih bertahan karena dampak kenaikan harga energi akibat konflik di Iran belum sepenuhnya hilang dari rantai pasok. Bahkan, inflasi inti produsen tahunan diproyeksikan meningkat menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,9%.
Meski data inflasi menjadi perhatian utama, pelaku pasar belum melihat peluang besar bagi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga. Bloomberg Economics memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli baru sekitar 24%. Menurut mereka, peluang tersebut baru akan meningkat apabila inflasi jauh lebih tinggi dari perkiraan dan Warsh menyampaikan sinyal kebijakan yang jauh lebih agresif. Skenario tersebut dinilai masih kecil kemungkinannya.
Selain Warsh, sejumlah pejabat The Fed juga akan tampil sepanjang pekan ini. Gubernur Christopher Waller, Presiden The Fed New York John Williams, Gubernur Lisa Cook, Wakil Ketua Philip Jefferson, Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, serta Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka mengenai prospek ekonomi dan inflasi. Di sisi lain, Amerika Serikat juga akan merilis data penjualan ritel, produksi industri, pembangunan rumah baru, dan sentimen konsumen yang dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai kondisi ekonomi.
Baca Juga: Harga Emas Menguat Tipis, Tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga AS
Di luar Amerika Serikat, perhatian investor juga mengarah ke Kanada. Bank of Canada diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,25% untuk keenam kalinya secara berturut-turut. Bank sentral Kanada masih menghadapi dilema antara tekanan inflasi yang mereda akibat perlambatan perdagangan dengan Amerika Serikat dan kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, Asia akan diramaikan oleh keputusan suku bunga Bank of Korea serta rilis produk domestik bruto (PDB) China kuartal II. Bank sentral Korea Selatan diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 2,75% seiring inflasi yang masih tinggi, pelemahan nilai tukar won, dan kenaikan harga properti. Adapun ekonomi China diproyeksikan tumbuh 4,5% secara tahunan, lebih lambat dibanding periode sebelumnya. Data tersebut diperkirakan kembali menunjukkan kontras antara kinerja ekspor yang masih kuat dengan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya, tercermin dari penjualan ritel yang diperkirakan kembali melemah pada Juni.
Di Eropa, pelaku pasar akan mencermati data pertumbuhan ekonomi Inggris, pidato Menteri Keuangan Rachel Reeves dan Gubernur Bank of England Andrew Bailey, serta sejumlah indikator ekonomi kawasan euro. Sementara di Amerika Latin, Argentina diperkirakan kembali mencatat perlambatan inflasi, sedangkan Brasil dan Peru akan merilis sejumlah data pertumbuhan ekonomi yang menjadi acuan bagi investor untuk menilai prospek kawasan tersebut.
Dengan padatnya agenda ekonomi dan bank sentral sepanjang pekan, pergerakan pasar keuangan global diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh apakah data inflasi AS benar-benar mengonfirmasi bahwa tekanan harga mulai mereda, atau justru memaksa The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 3%, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi














