kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Tiga Tahun Israel Bombardir Gaza: Rasa Kemanusian yang Hilang untuk Warga Palestina


Kamis, 08 Oktober 2026 / 04:00 WIB
Tiga Tahun Israel Bombardir Gaza: Rasa Kemanusian yang Hilang untuk Warga Palestina
ILUSTRASI. Tiga Tahun Israel Bombardir Gaza: Rasa Kemanusian yang Hilang untuk Warga Palestina


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jalur Gaza. Setelah 7 Oktober 2026, kekejaman tentara zionis Israel terhadap warga Gaza resmi berlangsung selama tiga tahun. Dalam rentang waktu tersebut, Jalur Gaza mengalami perubahan yang sangat drastis akibat gelombang serangan, pengungsian massal secara besar-besaran, serta kerusakan parah pada infrastruktur perumahan dan fasilitas-fasilitas esensial.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 74.245 warga Palestina tewas sejak perang ini pertama kali dimulai. Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat diumumkan pada Oktober 2025, kekerasan ternyata belum sepenuhnya berhenti di wilayah tersebut. Kementerian mencatat ada sebanyak 1.462 warga Palestina tewas sejak perjanjian damai itu mulai berlaku.

Dampak dari eskalasi berkepanjangan ini tidak hanya meninggalkan duka dari sisi korban jiwa. Sekitar dua juta penduduk Gaza harus menghadapi transformasi drastis dalam aspek kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari tempat tinggal yang layak, ketersediaan air bersih dan aliran listrik, peluang kerja, hak atas pendidikan, hingga akses layanan kesehatan yang memadai.

Kehidupan Sehari-hari yang Semakin Lumpuh

Kondisi harian masyarakat di Gaza kini berada dalam bayang-bayang kesulitan ekstrem. Sebagian besar warga kehilangan akses yang layak terhadap rumah, air bersih, listrik, hingga sarana transportasi umum.

  • Krisis Tempat Tinggal: Data PBB pada bulan September menunjukkan bahwa 94 persen penduduk sangat bergantung pada bantuan kebutuhan rumah tangga dasar dan tempat tinggal. Sekitar 65 persen rumah tangga terpaksa tinggal di dalam tenda-tenda darurat atau pusat penampungan setelah terpaksa meninggalkan tempat tinggal asli mereka akibat hantaman serangan maupun perintah evakuasi militer.
  • Kerawanan Air Bersih: Pada awal Agustus, tercatat 91 persen rumah tangga yang disurvei mengalami kerawanan air dengan tingkat sedang hingga tinggi, mengalami lonjakan signifikan dari angka 84 persen pada bulan Juni sebelumnya.
  • Kelistrikan dan Komunikasi: Jaringan listrik utama di Jalur Gaza hingga kini belum berfungsi normal. Seluruh rumah tangga dan fasilitas penting terpaksa mengandalkan generator di tengah kelangkaan pasokan bahan bakar, oli mesin, serta suku cadang. Kerusakan infrastruktur jalan serta jaringan telekomunikasi juga memperparah hambatan mobilitas perjalanan, akses telepon, hingga internet.

Akibat keterbatasan ini, berbagai aktivitas dasar manusia seperti mengambil air bersih, mengisi daya perangkat seluler, memasak, hingga mencuci pakaian kini menuntut perencanaan yang jauh lebih matang bagi para penyintas.

Baca Juga: Ketidakadaan Ijazah SMA Wapres Gibran Menjadi Sorotan Media Luar Negeri

Sektor Ekonomi dan Pertanian Runtuh

Selain krisis kemanusiaan, fondasi perekonomian di Jalur Gaza hancur lebur akibat blokade dan pertempuran berkepanjangan.

  • Hancurnya Bisnis: Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan bahwa 92 persen unit usaha telah mengalami kerusakan total atau hancur sejak Oktober 2023.
  • Tingkat Pengangguran: Angka pengangguran melonjak drastis hingga menyentuh angka 78 persen.
  • PDB dan Industri: Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita pada tahun 2025 tercatat anjlok menjadi hanya 212 dollar AS, yang berarti tinggal 17 persen saja jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada tahun 2022. Sektor pertanian dan industri masing-masing hanya menyumbang sekitar 6 persen dari total kapasitas produksi tahun 2022, sementara sektor konstruksi merosot tajam hingga tersisa sekitar 1 persen saja.

Lonjakan harga juga memperparah beban hidup warga. Catatan PBB menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok pada September masih berada di kisaran 200 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum Oktober 2023.

Hilangnya sumber pendapatan membuat banyak keluarga harus bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan, utang, maupun pekerjaan informal, sementara kelangkaan uang tunai memicu pergeseran tren ke sistem pembayaran digital dan dompet elektronik.

Tonton: Gaji PNS Bakal Dibayar Lewat Koperasi Pemerintah Siapkan Aturan Baru

Sektor Pendidikan dan Kesehatan Berada di Titik Nadir

Anak-anak dan generasi muda Gaza menjadi salah satu kelompok demografi yang paling parah terdampak oleh krisis multidimensi ini.

  • Darurat Pendidikan: UNICEF melaporkan bahwa hampir 98 persen sekolah di wilayah Gaza mengalami kerusakan atau hancur total. Hingga April 2026, sekitar 700.000 anak dengan rentang usia 4 hingga 17 tahun kehilangan hak atas pendidikan tatap muka selama hampir tiga tahun berturut-turut. Sebagian pelajar terpaksa mengikuti kegiatan belajar di dalam tenda atau ruang darurat, sementara sekitar 200.000 anak lainnya sama sekali tidak memiliki akses pendidikan.
  • Lumpuhnya Fasilitas Kesehatan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, hanya 19 rumah sakit yang masih dapat beroperasi itu pun tanpa ada satupun yang bekerja menggunakan kapasitas penuh.
  • Evakuasi Pasien: Kelangkaan obat-obatan, alat penunjang medis, bahan diagnostik, serta bahan bakar membuat layanan kesehatan vital—seperti penanganan kanker, cuci darah (dialisis), dan penyakit kronis—terhambat parah. Tercatat sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi keluar dari Gaza demi mendapatkan perawatan medis lanjutan sejak Oktober 2023, sementara puluhan ribu pasien lainnya masih tertahan tanpa kejelasan layanan medis khusus.

Tonton: UU Pelindungan Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Turun dari 5 Tahun

Wilayah Tempat Tinggal Semakin Menyempit

Ruang gerak dan ruang hidup penduduk Gaza kian tergerus dari waktu ke waktu. Garis Kuning (Yellow Line) yang berfungsi sebagai batas penempatan pasukan Israel serta zona pembatasan akses telah bergeser semakin jauh merangsek ke kawasan permukiman padat menyusul kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025.

Laporan Euro-Med Human Rights Monitor pada bulan September mengungkapkan bahwa kendali militer beserta pembatasan akses oleh Israel kini mencakup sekitar 70 persen wilayah Gaza. Akibat situasi ini, lebih dari dua juta warga Palestina terpaksa berdesakan dan terkonsentrasi di area yang mencakup kurang dari 30 persen wilayah saja.

Kawasan Rafah di bagian selatan Gaza menjadi salah satu wilayah yang paling drastis perubahannya. Sempat menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta jiwa pengungsi, operasi militer yang dilancarkan pada Mei 2024 memaksa lebih dari 800.000 orang meninggalkan Rafah. Saat ini, hampir seluruh wilayah kota tersebut berada di bawah kendali penuh pihak militer Israel, kecuali kawasan Mawasi Rafah di sebelah barat.

Di tengah karut-marut tata kelola keamanan dan pemerintahan, Hamas yang sebelumnya memegang kendali atas Gaza sejak 2007 sempat mengumumkan rencana penyerahan kewenangan administratif kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) pada bulan Juli lalu, namun transisi tersebut hingga kini belum juga terlaksana secara utuh.

Tiga tahun berselang, masa depan dan kepastian hidup jutaan warga Gaza masih diliputi ketidakpastian di tengah reruntuhan dan krisis yang belum menemukan titik akhir.





Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/10/07/180832170/7-oktober-2026-tiga-tahun-gaza-hancur-akibat-perang-israel-hamas-begini?page=all#page2. 


 

IHSG Turun Hari ini, Berikut 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (7 Oktober 2026).


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×