kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.795   54,00   0,30%
  • IDX 6.405   -0,69   -0,01%
  • KOMPAS100 832   -1,28   -0,15%
  • LQ45 631   -1,68   -0,27%
  • ISSI 225   0,34   0,15%
  • IDX30 353   -1,16   -0,33%
  • IDXHIDIV20 431   -1,20   -0,28%
  • IDX80 95   -0,13   -0,14%
  • IDXV30 120   0,09   0,07%
  • IDXQ30 112   -0,55   -0,49%

Banjir Dahsyat Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang


Kamis, 27 Agustus 2026 / 08:33 WIB
Banjir Dahsyat Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Masih Hilang
ILUSTRASI. Banjir Nepal (REUTERS/Navesh Chitrakar)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Tim penyelamat masih mencari ratusan orang yang hilang setelah longsoran lumpur dan bebatuan menghantam sungai di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China. Bencana tersebut memicu banjir besar yang menerjang sejumlah kota dan lembah pegunungan Nepal.

Sedikitnya 157 jenazah telah ditemukan hingga Rabu (26/8/2026) malam, menurut kepolisian Nepal. Namun, jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah karena ratusan orang dilaporkan belum ditemukan.

Baca Juga: Bank Sentral Korea (BOK) Kerek Suku Bunga Jadi 3%, Tertinggi Sejak Januari 2025

Kementerian Pariwisata Nepal menyebut sekitar 340 warga negara asing termasuk di antara lebih dari 400 wisatawan yang masih hilang setelah bencana melanda kawasan pegunungan yang populer sebagai tujuan pendakian dan ziarah.

Video yang telah diverifikasi menunjukkan derasnya aliran air bercampur lumpur dan bebatuan menyapu puluhan orang di kawasan perbatasan. Rumah, jalan, serta proyek pembangkit listrik di Nepal turut hancur diterjang banjir.

Di sisi Tibet, otoritas China juga memperingatkan adanya potensi korban dalam jumlah besar setelah longsor menerjang kawasan penyeberangan perbatasan di Gyirong

Longsor Es dan Bebatuan Picu Banjir

Laporan awal pejabat Nepal menyebut gempa bumi mungkin menjadi pemicu runtuhnya bagian bawah gletser yang kemudian menyebabkan banjir.

Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan bahwa gempa berkekuatan 4,4 yang awalnya dilaporkan terjadi saat bencana sebenarnya merupakan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es gletser serta aliran material longsor.

Baca Juga: Nvidia Dikabarkan Bakal Akuisisi Hugging Face, Nilai Kesepakatan Capai US$ 13 Miliar

Berdasarkan kajian awal citra satelit Planet Labs, longsoran es dan batu memicu banjir yang membawa material dalam jumlah besar di Sungai Lhende. Lokasi longsoran diperkirakan sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perbatasan Rasuwagadhi Nepal-China.

Upaya penyelamatan menghadapi kendala besar karena sejumlah wilayah terdampak sulit dijangkau. Helikopter penyelamat bahkan belum dapat mendarat di Syapru Besi dan Timure di distrik pegunungan Rasuwa karena kondisi sungai yang masih berada jauh di atas level normal.

"Kerusakan terlihat di mana-mana. Permukiman di sepanjang sungai benar-benar tersapu. Lima kerabat saya sendiri masih hilang," kata Tula Bahadur BK, seorang pekerja kesehatan di Rasuwa, kepada Reuters.

Seorang korban selamat, Keshav Prasad Baral, 68 tahun, menceritakan bagaimana arus lumpur menerjang rumahnya.

"Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar yang langsung menuju ke arah kami. Ketika masuk ke rumah, saya mencoba meraih tangan istri saya dan membawanya ke teras. Namun, dia tersapu lumpur," ujarnya.

Baral kemudian diselamatkan menggunakan helikopter beberapa jam kemudian. Namun, istrinya masih belum ditemukan.

Baca Juga: Atasi Harga Daging Sapi yang Melonjak, Trump Tandatangani Keputusan Presiden

Ratusan Turis Asing Hilang

Banyak korban berada di kawasan tersebut untuk melakukan ziarah ke Kailash Mansarovar, situs suci di Tibet yang dihormati oleh umat Hindu, Buddha dan sejumlah agama lainnya.

Juru bicara Dewan Pariwisata Nepal Sunil Sharma mengatakan, berdasarkan laporan Associated Press, terdapat 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris dan 24 warga Kanada di antara wisatawan yang hilang.

Australia juga mengonfirmasi 34 warganya masih belum ditemukan.

Baca Juga: UEFA Segera Cabut Ancaman Boikot FIFA, Piala Dunia U-20 Wanita Tetap Jalan

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan proses mendapatkan informasi mengenai warga negaranya cukup sulit karena Nepal memiliki sumber daya yang terbatas untuk menangani bencana berskala besar.

Amerika Serikat mengatakan Departemen Luar Negeri mengetahui adanya warga negaranya yang terdampak banjir dan terus memantau situasi.

Korea Selatan juga melaporkan delapan warganya yang bekerja di sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air masih hilang. Malaysia dan Jepang turut melaporkan adanya warga negara mereka yang belum ditemukan.

Perbatasan China-Nepal Rusak Parah

Di wilayah China, media pemerintah Xinhua melaporkan longsor menerjang pelabuhan perbatasan Gyirong dan memutus akses jalan, komunikasi serta jaringan listrik di wilayah Shigatse dekat perbatasan Nepal.

China melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang masih hilang di Gyirong. Jumlah tersebut masih dalam proses verifikasi dan operasi pencarian serta penyelamatan terus dilakukan.

Baca Juga: AS Klaim Peretas China Bobol Departemen Kehakiman, NASA, The Fed Hingga Senat

Seorang penyelamat yang diwawancarai CCTV mengatakan tim masih berupaya menghubungi pelabuhan perbatasan Gyirong. Namun, hingga saat itu belum ada hasil.

Pemeriksaan awal menggunakan drone menunjukkan seluruh jalan menuju perbatasan telah rusak parah.

Banjir juga memicu kewaspadaan di India. Otoritas mengeluarkan peringatan banjir di negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar yang berbatasan dengan Nepal. Kedua wilayah tersebut dilalui sejumlah sungai yang mengalir dari pegunungan Nepal menuju dataran rendah.

Pemerintah Bihar mengatakan sekitar 5.000 orang telah dievakuasi dari enam distrik dan jumlah warga yang akan dievakuasi diperkirakan mencapai 10.000 hingga 12.000 orang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tim dan mitranya telah mengerahkan bantuan berupa pasokan serta personel untuk mendukung masyarakat yang terdampak bencana di Nepal.


Video Terkait



TERBARU

[X]
×