Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral India menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat.
Mengutip Reuters, Rabu (7/10/2026), Reserve Bank of India (RBI) menaikkan suku bunga repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh enam anggota komite kebijakan moneter RBI.
RBI juga mengubah arah kebijakan dari sebelumnya “netral” menjadi “pengetatan terukur” atau calibrated tightening.
Baca Juga: Bursa Saham Jepang Ditutup Melemah, Investor Lakukan Profit Taking di Tengah Reli
Perubahan tersebut memberi sinyal bahwa bank sentral India masih membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Namun, Gubernur RBI Sanjay Malhotra mengatakan, keputusan mengenai waktu dan besaran kenaikan suku bunga selanjutnya akan bergantung pada perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi aktual.
“Ekonomi India telah kuat dan momentum pertumbuhan tetap luas,” ujar Malhotra. Ia menambahkan, prospek inflasi memburuk dibandingkan pertemuan kebijakan sebelumnya.
RBI kini memperkirakan inflasi mencapai 5,2%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 5%. Sementara inflasi inti diperkirakan mencapai 4,4%, dibandingkan proyeksi sebelumnya 4,3%.
Tekanan inflasi semakin menjadi perhatian setelah inflasi konsumen India pada Agustus mencapai 4,82% secara tahunan.
Angka tersebut berada di atas target jangka menengah RBI sebesar 4% selama tiga bulan berturut-turut.
Baca Juga: Porsche Bersiap Hadapi Era Penjualan Lebih Rendah, Fokus ke Mobil Mewah
Kenaikan harga energi dan pangan mulai menyebar ke berbagai sektor ekonomi. Hampir separuh komponen keranjang konsumsi India mencatat inflasi di atas 4%.
“Inflasi CPI utama diperkirakan rata-rata hampir 5,8% dalam tiga kuartal mendatang,” kata Malhotra.
Tekanan inflasi juga meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Iran. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara Asia.
India juga menghadapi dampak dari curah hujan monsun yang lebih rendah akibat fenomena El Niño, yang berpotensi memperburuk tekanan harga pangan.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi India masih memberikan ruang bagi RBI untuk memperketat kebijakan moneter.
RBI menaikkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk tahun fiskal berjalan menjadi 7,1%, dari proyeksi sebelumnya 6,7%.
Baca Juga: IMF Peringatkan 3 Ancaman Besar Ekonomi Global: Energi, Utang, dan AI
Pertumbuhan ekonomi India pada kuartal April-Juni tercatat 7,8% secara tahunan, jauh di atas proyeksi RBI sebesar 7%.
Meski demikian, kuatnya pertumbuhan kredit menjadi salah satu risiko yang turut diperhatikan bank sentral.
Pertumbuhan kredit perbankan India tercatat 18,8% pada Oktober, mencerminkan kuatnya permintaan pembiayaan.
Ekonom HDFC Bank Sakshi Gupta memperkirakan RBI masih dapat menaikkan suku bunga sebesar 50-75 basis poin dalam beberapa bulan mendatang.
“Jika konflik Asia Barat berlangsung lebih lama dan harga minyak tetap tinggi, risiko inflasi dapat meningkat lebih jauh sehingga membutuhkan siklus pengetatan yang lebih agresif,” ujar Gupta.
Sejalan dengan kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah India bertenor 10 tahun bergerak naik tipis ke 7,2269%. Sementara rupee berada di sekitar level penutupan sebelumnya, yakni 96,43 per dolar AS.
Indeks acuan Nifty 50 turun 0,3%, tetapi berhasil memangkas sebagian pelemahannya dari level terendah perdagangan.
Baca Juga: AI Mengancam, HSBC Dikabarkan Pangkas Pekerja Wealth Management Inggris hingga 70%
Likuiditas menjadi perhatian
Selain menaikkan suku bunga, RBI juga menghadapi tantangan dalam mengelola likuiditas perbankan.
Namun, bank sentral tidak mengumumkan langkah tambahan seperti kenaikan rasio cadangan untuk menyerap kelebihan likuiditas, meski sebelumnya pasar memperkirakan kebijakan tersebut.
“Reserve Bank akan menggunakan kombinasi instrumen manajemen likuiditas yang tepat,” kata Malhotra.
Program RBI untuk menarik dolar AS sekaligus menopang rupee telah mencapai hampir US$144 miliar hingga pertengahan September.
Dana hasil transaksi swap tersebut meningkatkan likuiditas sistem perbankan, yang sempat mencapai rekor 11,16 triliun rupee pada awal September.
Sejauh ini, RBI menggunakan penjualan obligasi dan foreign exchange swaps berjangka lebih panjang untuk menyerap kelebihan likuiditas.
Baca Juga: Daftar 20 Negara Produsen Kendaraan Terbesar di Dunia, Ada Indonesia
Keputusan untuk tidak menambah langkah pengetatan likuiditas turut menopang saham perbankan India. Nifty Bank Index naik 0,15% setelah sebelumnya sempat melemah 0,7%.
Ekonom Asia Pasifik State Street Investment Management Krishna Bhimavarapu menilai, kenaikan 25 basis poin merupakan langkah awal yang masuk akal.
“Kasus dasar kami tetap memperkirakan pengetatan kumulatif sebesar 100 basis poin dalam siklus ini,” kata Bhimavarapu.
Menurutnya, besaran akhir pengetatan akan bergantung pada dampak guncangan energi global, inflasi pangan, dinamika inflasi secara keseluruhan, serta arah kebijakan moneter bank sentral global dalam beberapa kuartal mendatang.














