Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Permintaan emas dari bank sentral dunia terus meningkat meskipun harga logam mulia tersebut masih bertahan di level historis yang tinggi. Sepanjang kuartal III-2026, bank sentral dan institusi resmi lainnya tercatat melakukan pembelian bersih sebanyak 321,2 ton emas.
Jumlah tersebut melonjak 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 226,3 ton. Pembelian pada kuartal III-2026 juga jauh melampaui rata-rata pembelian kuartalan selama lima tahun terakhir sebesar 227 ton.
Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC) bertajuk Gold Demand Trends Q3 2026 yang dirilis Selasa (3/11/2026), peningkatan pembelian tersebut memperlihatkan bahwa emas masih menjadi instrumen penting dalam strategi pengelolaan cadangan devisa sejumlah negara.
Dengan tambahan pembelian pada kuartal III, total akumulasi emas bank sentral dunia sepanjang Januari-September 2026 mencapai 675 ton. Angka tersebut meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
WGC mencatat, penguatan pembelian pada kuartal II dan III berhasil mengimbangi aktivitas akumulasi emas yang relatif lebih rendah pada awal tahun.
Menariknya, peningkatan permintaan tersebut berlangsung ketika harga emas masih berada di level tinggi. Meski harga rata-rata emas mulai melandai dibandingkan posisi puncaknya pada kuartal I-2026, bank sentral tetap melanjutkan strategi penambahan cadangan emas.
WGC menilai, keputusan tersebut lebih banyak didorong pertimbangan strategis jangka panjang, terutama diversifikasi aset dan pengelolaan risiko.
"Pertimbangan strategis jangka panjang, seperti diversifikasi dan manajemen risiko, tetap menjadi pendorong utama permintaan," ungkap WGC dalam laporannya.
Baca Juga: Harga Emas Mahal, Konsumen Dunia Beralih ke Perhiasan Lebih Ringan
China dan Polandia menjadi pembeli emas terbesar
Dari sejumlah negara yang melaporkan aktivitas pembelian emas, China dan Polandia menjadi dua pembeli terbesar pada kuartal III-2026.
Bank sentral China atau People's Bank of China (PBoC) menambah cadangan emas sebanyak 63 ton. Sementara itu, National Bank of Poland melakukan pembelian sebesar 40 ton.
Jika digabungkan, pembelian kedua negara tersebut mencapai 103 ton. Jumlah ini setara dengan sekitar 86% dari total pembelian bersih yang dilaporkan secara resmi selama kuartal III-2026.
Meski sama-sama meningkatkan cadangan emas, pola pembelian kedua negara menunjukkan perkembangan berbeda.
China mempercepat akumulasi emas pada kuartal III. Lebih dari separuh total pembelian emas negara tersebut sepanjang Januari-September 2026 terjadi pada periode tersebut.
Sebaliknya, pembelian Polandia mulai melambat setelah sebelumnya mencatatkan penambahan sebesar 51 ton pada kuartal II-2026.
Selain China dan Polandia, sejumlah bank sentral lainnya juga menambah kepemilikan emas dalam jumlah cukup besar.
National Bank of Kazakhstan dan Central Bank of Uzbekistan masing-masing membeli 14 ton emas. Sementara itu, bank sentral Republik Ceko menambah cadangan sebanyak 5 ton.
WGC menilai, aktivitas pembelian tersebut memperlihatkan dua kecenderungan. Pertama, sejumlah negara seperti China, Polandia, dan Republik Ceko masih melanjutkan akumulasi emas yang telah berlangsung selama beberapa tahun meskipun harga berada di level tinggi.
Kedua, beberapa negara pembeli emas, termasuk Kazakhstan, Uzbekistan, Ghana, dan Bolivia, merupakan negara dengan tingkat produksi emas yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar emas domestik dan program pembelian lokal turut memengaruhi strategi pengelolaan cadangan emas mereka.
Baca Juga: Aturan Baru Makin Galak! Negeri Tetangga Usulkan Denda Karhutla hingga Rp 284 Miliar
63% pembelian emas bank sentral tidak dilaporkan
Di balik besarnya permintaan emas bank sentral dunia, terdapat aktivitas transaksi yang belum sepenuhnya tercermin dalam laporan resmi masing-masing negara.
WGC memperkirakan total permintaan emas bank sentral mencapai 321 ton pada kuartal III-2026. Namun, pembelian bersih yang dilaporkan secara resmi hanya sekitar 120 ton.
Artinya, sekitar 63% dari total estimasi pembelian emas bank sentral pada periode tersebut berasal dari transaksi yang tidak dilaporkan atau belum tercatat dalam statistik resmi.
Menurut WGC, fenomena pembelian emas yang tidak dilaporkan ini telah berlangsung sejak 2022.
Aktivitas tersebut dapat mencakup pembelian maupun penjualan emas yang tidak tercermin dalam data resmi, baik karena keterlambatan pelaporan maupun tidak adanya keterbukaan informasi mengenai transaksi.
Dalam menyusun estimasi permintaan emas bank sentral, Metals Focus sebagai penyedia data WGC turut menggunakan sumber informasi tambahan di luar laporan resmi masing-masing negara.
Karena itu, data pembelian emas yang diumumkan secara terbuka belum tentu menggambarkan seluruh aktivitas transaksi bank sentral dunia.
Besarnya transaksi yang tidak dilaporkan juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisis perkembangan permintaan emas global.
Baca Juga: Google Perluas Program Pensiun Dini Sukarela di Beberapa Negara, Ada Apa?
Rusia tercatat mengurangi cadangan emas 19 ton
Di tengah dominasi aktivitas pembelian, sejumlah bank sentral juga melakukan pengurangan kepemilikan emas selama kuartal III-2026.
WGC mencatat Qatar, Republik Kyrgyzstan, dan Uni Emirat Arab termasuk negara yang mengurangi cadangan emasnya. Namun, jumlah pengurangan tersebut relatif kecil dibandingkan total kepemilikan emas masing-masing negara.
Rusia menjadi salah satu negara dengan penjualan emas terbesar yang dilaporkan secara resmi pada periode tersebut.
Bank sentral Rusia tercatat mengurangi kepemilikan emas sebanyak 19 ton pada kuartal III-2026. Menurut WGC, pengurangan tersebut menjadi satu-satunya penurunan cadangan emas dalam jumlah signifikan yang dilaporkan selama periode tersebut.
Secara keseluruhan, aktivitas pembelian masih mendominasi transaksi emas bank sentral dunia. Kondisi ini memperlihatkan bahwa strategi diversifikasi dan pengelolaan risiko tetap menjadi pertimbangan penting dalam pengelolaan cadangan devisa.
Tonton: Update ! Harga Emas Antam Menguat Sore Hari Ini (4 November 2026)
Pembelian emas bank sentral diproyeksi menyamai 2025
Melihat perkembangan hingga kuartal III-2026, WGC meningkatkan proyeksi pembelian emas bank sentral untuk sepanjang tahun ini.
WGC memperkirakan total pembelian emas bank sentral pada 2026 setidaknya dapat menyamai realisasi sepanjang 2025.
Proyeksi tersebut meningkat setelah pembelian pada kuartal III-2026 tercatat lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, WGC juga melakukan revisi kenaikan terhadap data pembelian emas pada kuartal II-2026.
Permintaan dari sektor resmi diperkirakan tetap kuat hingga kuartal IV-2026. Meski demikian, WGC mengingatkan bahwa aktivitas pembelian emas bank sentral tetap memiliki sensitivitas terhadap perubahan harga.
Berdasarkan data periode kuartal III-2022 hingga kuartal III-2026, WGC menemukan korelasi negatif antara imbal hasil emas dan permintaan bank sentral.
Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pergerakan harga emas dan keputusan pembelian bank sentral. Namun, hubungan tersebut dinilai belum cukup stabil untuk dijadikan dasar dalam menentukan batas bawah harga emas.
Dengan total pembelian yang telah mencapai 675 ton sepanjang Januari-September 2026, bank sentral diperkirakan tetap menjadi salah satu sumber utama permintaan emas global hingga akhir tahun.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/11/04/202349926/bank-sentral-dunia-borong-321-ton-emas-pada-kuartal-iii-2026?page=all#page2













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
