kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hong Kong menghadapi krisis terburuk sejak kembali ke China


Rabu, 07 Agustus 2019 / 15:21 WIB
Hong Kong menghadapi krisis terburuk sejak kembali ke China

Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Krisis politik Hong Kong makin menjadi. Bahkan, Kepala kantor Urusan Hong Kong dan Makau China mengatakan, Hong Kong kini menghadapi krisis terburuk sejak kembali dari pemerintahan Inggris ke China pada tahun 1997.

Kini lebih banyak protes anti-pemerintah yang mengguncang pusat keuangan Asia tersebut. "Krisis Hong Kong telah berlanjut selama 60 hari, dan semakin memburuk," kata Zhang Xiaoming, salah satu pejabat Cina paling senior yang mengawasi urusan Hong Kong dalam sebuah pertemuan di kota Shenzhen di China Selatan seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Market anjlok, kekayaan miliarder dunia hangus Rp 1.638 triliun dalam sehari!

Menurutnya, kekerasan semakin meningkat dan dampaknya terhadap masyarakat menyebar lebih luas. "Dapat dikatakan bahwa Hong Kong sekarang menghadapi situasi yang paling parah sejak penyerahannya ke China," ujarnya.

Hong Kong telah berbulan-bulan menghadapi gelombang protes dan terkadang dengan kekerasan. Pemicunya dari aksi menentang undang-undang ekstradisi yang sekarang ditangguhkan dan kemudian berkembang menjadi tantangan langsung kepada pemerintah.

Protes Hong Kong, yang berlanjut pada Rabu (7/8), menimbulkan tantangan besar bagi Presiden China Xi Jinping yang sedang bergulat dengan perang dagang kontra Amerika Serikat (AS) dan juga ekonomi yang melambat.

Baca Juga: Disebut manipulator mata uang, China intervensi pelemahan yuan

Zhang mengadakan forum pada Rabu (7/8) untuk membahas krisis politik di Hong Kong yang mencakup delegasi Hong Kong ke parlemen China, Kongres Rakyat Nasional dan badan konsultatif utama Cina, CPPCC. Tidak ada tokoh oposisi demokratis atau perwakilan pendemo yang diundang.

Beberapa peserta pertemuan itu menuturkan, Zhang di pertemuan mengutip pidato mantan pemimpin tertinggi Tiongkok Deng Xiaoping pada 1984 dan 1987 di mana ia mengatakan jika "kekacauan" terjadi di Hong Kong, "pemerintah pusat harus turun tangan".




TERBARU

Close [X]
×