kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

IMF mengaku salah dalam menangani krisis Yunani


Jumat, 07 Juni 2013 / 10:10 WIB
IMF mengaku salah dalam menangani krisis Yunani
ILUSTRASI. Manajemen PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk


Sumber: BBC |

LONDON. Ekonomi Eropa masih porak poranda. Tapi hal itu tak membuat Dana Moneter Internasional (IMF) mengurungkan pengakuan dosa. Donor keuangan internasional itu mengaku melakukan kekeliruan dalam menangani paket talangan dana internasional tahap pertama untuk Yunani.

Dalam laporannya IMF mengatakan terlalu optimistis terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi Yunani ketika menyepakati paket dengan Uni Eropa pada Mei 2010.

Dana Moneter Internasional mengaku melanggar peraturannya sendiri terkait pemberian akses pada situasi tertentu.

Untuk mendapatkan akses dengan perkecualian itu, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah utang publik dapat dipertahankan dalam waktu dekat.

"Bahkan dengan diterapkannya kebijakan-kebijakan yang telah disetujui, berbagai ketidakpastian begitu besar sehingga staf tidak mampu membuktikan bahwa utang dapat dipertahankan dengan kemungkinan besar," kata IMF dalam laporannya.

IMF lebih skeptis

Namun staf IMF tetap memberikan bantuan dengan perkecualian karena muncul kekhawatiran dampak krisis di Yunani akan menyebar ke negara-negara pengguna mata uang euro dan juga berdampak buruk bagi perekonomian dunia.

Menurut IMF, kreditur swasta seharusnya memikul tanggungan lebih besar tetapi hal tersebut ditolak oleh sebagian negara pengguna mata uang euro.

Negara-negara yang menolak mempunyai bank yang memberikan pinjaman besar kepada Yunani.

IMF juga menyebut bahwa di masa depan, lembaga keuangan tersebut harus lebih skeptis tentang data yang disodorkan pemerintah karena ternyata tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding perkiraan dan resesi lebih buruk.




TERBARU

[X]
×