Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – DUBAI. Perang yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran diperkirakan menekan perekonomian Timur Tengah, Afrika Utara, dan Pakistan sepanjang 2026.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi kawasan tersebut mengalami kontraksi 1,3% tahun ini, sebelum kembali tumbuh 6,6% pada 2027.
Dalam laporan prospek ekonomi regional yang dirilis di Dubai pada Kamis (22/10/2026), IMF memperingatkan bahwa gangguan lebih lanjut terhadap produksi energi dan jalur perdagangan dapat memperburuk prospek ekonomi kawasan.
IMF menyebut dampak perang telah menekan berbagai sektor ekonomi, mulai dari produksi energi, pelayaran, pariwisata, perdagangan, hingga kepercayaan pelaku ekonomi. Meskipun diperkirakan pulih pada 2027, aktivitas ekonomi di negara-negara tersebut secara umum masih akan berada di bawah proyeksi sebelum perang.
Baca Juga: Putin Sepakati Perundingan Damai Rusia-Ukraina, Bisa Dimulai November 2026
Dampak konflik juga tidak merata di seluruh kawasan. Menurut IMF, negara-negara pengekspor minyak menghadapi tekanan lebih besar akibat gangguan produksi energi dan pengiriman. Sementara itu, negara-negara pengimpor minyak menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif lebih baik.
Dalam skenario dasar yang digunakan, IMF mengasumsikan konflik akan mereda pada awal 2027 dan aktivitas perdagangan berangsur kembali normal sepanjang tahun tersebut. Namun, lembaga tersebut menegaskan prospek ekonomi masih dibayangi ketidakpastian yang sangat tinggi.
"Risiko utama berasal dari gangguan lebih lanjut terhadap produksi energi dan jalur perdagangan yang dapat mendorong harga energi lebih tinggi," kata IMF dalam pernyataan yang merangkum pesan utama laporan tersebut.
IMF juga memperingatkan kemungkinan pengetatan kondisi keuangan eksternal. Risiko ini dapat meningkat apabila investor mengevaluasi ulang potensi peningkatan produktivitas yang didorong oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sementara suku bunga naik lebih lanjut di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi fiskal.
Baca Juga: Merger Tesla dan SpaceX Terancam Terganjal China, Ini Penyebabnya
Di sisi lain, negara-negara pengimpor minyak dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Permintaan domestik di negara-negara tersebut masih mendapat dukungan dari aliran remitansi dan pariwisata, kondisi keuangan yang menguntungkan, serta respons kebijakan yang cepat untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga komoditas.
Di luar kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Pakistan, IMF juga menyoroti perkembangan ekonomi Kaukasus dan Asia Tengah. Pertumbuhan di kawasan tersebut diperkirakan mulai melambat menuju tingkat yang lebih berkelanjutan.
IMF memproyeksikan ekonomi Kaukasus dan Asia Tengah tumbuh 5,2% pada 2026, kemudian melambat menjadi 5% pada 2027.
Menghadapi ketidakpastian global, IMF kembali menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan fiskal. Pemerintah juga didorong untuk mempertahankan independensi bank sentral serta menjalankan reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja.














