Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Senin (4/5/2026) memperingatkan bahwa inflasi sudah mulai meningkat dan perekonomian global bisa menghadapi “hasil yang jauh lebih buruk” jika perang di Timur Tengah berlanjut hingga 2027 dan harga minyak mencapai sekitar US$ 125 per barel.
Melansir Reuters, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan kelanjutan perang tersebut berarti skenario IMF yang sebelumnya memperkirakan perlambatan kecil pertumbuhan global dan kenaikan harga yang ringan sudah tidak lagi memungkinkan.
Akibatnya, “skenario buruk” (adverse scenario) IMF kini sudah terjadi, katanya. Ia menambahkan, ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali dan kondisi keuangan belum mengalami pengetatan, tetapi situasi itu bisa berubah jika perang terus berlanjut.
Georgieva menyampaikan hal tersebut dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Milken Institute.
Situasi terkini perang Timur Tengah
Seperti yang diberitakan sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan operasi militer baru untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun Iran merespons dengan serangan yang dilaporkan menghantam kapal-kapal komersial hingga memicu kebakaran di pelabuhan minyak Uni Emirat Arab (UEA).
Situasi ini membuat pasar energi global kembali siaga, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia.
Baca Juga: Serangan AS-Israel Belum Melumpuhkan Nuklir Iran, Intelijen Ungkap Fakta Mengejutkan
Reuters memberitakan, sejumlah kapal komersial dilaporkan terkena serangan dan sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA) terbakar akibat serangan Iran, setelah upaya Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur pelayaran memicu eskalasi terbesar dalam perang sejak gencatan senjata diumumkan empat minggu lalu. Amerika Serikat mengatakan pihaknya menghancurkan enam kapal kecil milik Iran.
Trump mengumumkan misi baru bernama “Project Freedom” melalui media sosial pada malam hari, dengan tujuan memungkinkan kapal-kapal yang terjebak dapat melintasi selat. Ini menjadi upaya pertama yang tampak jelas untuk menggunakan kekuatan angkatan laut guna membuka kembali jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
Namun, langkah tersebut pada tahap awal tampaknya justru menjadi bumerang. Tidak terjadi lonjakan lalu lintas kapal dagang, sementara Iran menunjukkan kekuatan. Iran sebelumnya telah mengancam akan merespons setiap eskalasi dengan serangan baru terhadap negara-negara tetangganya.
Militer AS mengatakan dua kapal dagang AS berhasil melintasi selat, namun tidak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada kapal yang melintas.
Tonton: Iran Ajukan Deadline 30 Hari ke AS Akhiri Perang atau Konflik Makin Panas
Komandan pasukan AS di kawasan itu mengatakan armadanya menghancurkan enam kapal kecil Iran, namun Iran juga membantah laporan tersebut. Laksamana Brad Cooper mengatakan ia “sangat menyarankan” pasukan Iran untuk menjauh dari aset militer AS yang menjalankan misi tersebut.
Otoritas Iran merilis peta wilayah laut yang mereka klaim kini berada di bawah kendalinya, diperluas jauh melampaui Selat Hormuz hingga mencakup garis pantai panjang milik Uni Emirat Arab.













