Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah. Dana Moneter Internasional juga memperingatkan bahwa ekonomi dunia semakin mendekati skenario yang lebih buruk seiring berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam laporan terbarunya yang dirilis pada pertemuan musim semi IMF dan World Bank di Washington, IMF menyajikan tiga skenario pertumbuhan ekonomi global: skenario dasar, skenario memburuk, dan skenario parah, tergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pada skenario terburuk, IMF memperingatkan ekonomi global berada di ambang resesi. Harga minyak diperkirakan rata-rata mencapai US$ 110 per barel pada 2026 dan naik menjadi US$ 125 per barel pada 2027.
Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan Ratusan Drone, Infrastruktur Pelabuhan Jadi Sasaran
Untuk proyeksi utamanya, IMF menggunakan skenario yang lebih optimistis dengan asumsi konflik berlangsung singkat dan harga minyak mulai normal pada paruh kedua 2026. Dalam skenario ini, harga minyak rata-rata diperkirakan mencapai US$ 82 per barel pada 2026, jauh di bawah harga minyak Brent yang pada Selasa berada di kisaran US$ 96 per barel.
Namun, Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan proyeksi tersebut bisa jadi sudah tidak lagi relevan. Menurut dia, gangguan energi yang terus berlangsung dan belum adanya jalan keluar yang jelas dari konflik membuat skenario memburuk semakin mungkin terjadi.
Dalam skenario menengah tersebut, konflik berlangsung lebih lama dan menjaga harga minyak di sekitar US$ 100 per barel tahun ini serta US$ 75 per barel pada 2027. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun menjadi 2,5% pada tahun ini dari 3,4% pada 2025.
Risiko Resesi Global dan Lonjakan Inflasi
IMF menyebut skenario paling parah terjadi apabila konflik berkepanjangan dan harga minyak melonjak lebih tinggi lagi, memicu gejolak besar di pasar keuangan dan pengetatan kondisi finansial global. Dalam situasi tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia bisa merosot hingga 2,0%.
Menurut IMF, kondisi ini akan membuat dunia berada sangat dekat dengan resesi global. Sejak 1980, pertumbuhan di bawah level tersebut hanya terjadi empat kali, termasuk saat krisis keuangan global 2009 dan pandemi COVID-19 pada 2020.
Gourinchas mengatakan sejumlah negara bahkan bisa masuk ke jurang resesi jika harga minyak bertahan di kisaran US$ 110 per barel pada 2026 dan US$ 125 per barel pada 2027. Harga energi yang tinggi dalam jangka panjang juga dapat memicu ekspektasi bahwa inflasi akan bertahan lebih lama.
Baca Juga: Iran Diam-Diam Gunakan Satelit Mata-Mata China untuk Pantau Pangkalan Militer AS
Jika ekspektasi inflasi meningkat, bank sentral kemungkinan harus kembali memperketat kebijakan moneter untuk menurunkan inflasi, bahkan dengan dampak ekonomi yang lebih menyakitkan dibandingkan periode 2022.
Dalam skenario parah, inflasi global pada 2026 diperkirakan melampaui 6%, jauh lebih tinggi dibandingkan skenario dasar IMF yang memproyeksikan inflasi sebesar 4,4%.
Proyeksi Ekonomi Negara-Negara Besar
IMF memangkas tipis proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat menjadi 2,3% pada tahun ini, turun 0,1 poin persentase dibandingkan proyeksi Januari. Pemangkasan tersebut tertahan oleh dampak positif pemotongan pajak, efek penurunan suku bunga, dan investasi pusat data kecerdasan buatan.
Untuk 2027, ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,1%.
Sementara itu, kawasan Zona Euro menghadapi tekanan lebih besar akibat ketergantungan pada energi impor. IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan kawasan tersebut masing-masing 0,2 poin persentase menjadi 1,1% pada 2026 dan 1,2% pada 2027.
Ekonomi Jepang diperkirakan tumbuh 0,7% pada 2026 dan 0,6% pada 2027. Sementara pertumbuhan China diproyeksikan mencapai 4,4% pada 2026 dan melambat menjadi 4,0% pada 2027 akibat tekanan dari sektor properti, penurunan angkatan kerja, dan produktivitas yang melemah.
Timur Tengah dan Negara Berkembang Paling Terdampak
IMF menilai negara berkembang dan pasar negara berkembang akan terdampak lebih besar dibandingkan negara maju karena ketergantungan mereka terhadap energi. Pertumbuhan ekonomi kelompok ini diperkirakan turun menjadi 3,9% pada 2026.
Kawasan yang paling terdampak adalah Timur Tengah dan Asia Tengah, di mana pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan merosot dua poin persentase menjadi hanya 1,9%.
Baca Juga: Korea Selatan Amankan 273 Juta Barel Minyak di Tengah Krisis Selat Hormuz
Beberapa negara diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi cukup dalam pada 2026, termasuk Iran sebesar 6,1%, Qatar sebesar 8,6%, Irak sebesar 6,8%, Kuwait sebesar 0,6%, dan Bahrain sebesar 0,5%.
Meski demikian, jika konflik hanya berlangsung singkat, IMF memperkirakan kawasan tersebut bisa pulih dengan cepat pada 2027 dengan pertumbuhan mencapai 4,6%.
Di antara negara berkembang, India menjadi titik terang. IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan India menjadi 6,5% pada 2026 dan 2027, didorong momentum ekonomi yang kuat dan kesepakatan penurunan tarif impor AS.
IMF Ingatkan Risiko Subsidi Energi
IMF juga memperingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam memberikan subsidi energi, pemotongan pajak bahan bakar, atau pembatasan harga untuk meredam lonjakan biaya energi.
Menurut Gourinchas, langkah perlindungan terhadap kelompok rentan memang penting, tetapi harus dilakukan secara sangat terarah dan bersifat sementara agar tidak memperburuk defisit anggaran dan utang publik.













