kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Wall Street Waspadai Lonjakan Minyak dan Inflasi Akibat Perang Timur Tengah


Jumat, 03 April 2026 / 20:02 WIB
Wall Street Waspadai Lonjakan Minyak dan Inflasi Akibat Perang Timur Tengah
ILUSTRASI. Konflik Timur Tengah picu harga minyak tembus US$110. Data inflasi AS 10 April akan tentukan nasib pasar. Cek dampaknya sekarang! (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perang Timur Tengah yang melibatkan serangan militer AS dan Israel terhadap Iran mulai menunjukkan dampaknya terhadap ekonomi Amerika Serikat dan kinerja perusahaan-perusahaan di Wall Street.

Investor kini memantau data inflasi terbaru dan laporan laba perusahaan awal minggu depan untuk menilai sejauh mana konflik memengaruhi pasar.

S&P 500 Mengakhiri Tren Negatif

Indeks saham S&P 500 mencatat kenaikan pada minggu yang dipersingkat libur, memutus tren lima minggu berturut-turut mengalami penurunan. Namun, kuartal sebelumnya menjadi kuartal terburuk sejak 2022, terdorong oleh konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi sejak akhir Februari.

“Sulit bagi pasar untuk melepaskan perhatian dari Timur Tengah, harga minyak, dan risiko yang muncul,” kata Matthew Miskin, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments.

“Pasar sangat fokus pada risiko geopolitik dan bagaimana semua ini akan berkembang,” tambahnya.

Baca Juga: Italia Siaga Stagflasi! PM Meloni Guyur €1 Miliar dan Pertahankan PLTU hingga 2038

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya

Dampak perang terhadap pasokan minyak menjadi fokus utama investor, terutama di Selat Hormuz, jalur kritis pengiriman minyak yang kini banyak terhambat. Harga minyak mentah AS menembus US$110 per barel pada Kamis, setelah sempat melewati US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

“Pasar saat ini bergerak mengikuti harga minyak,” ujar Doug Huber, Deputy Chief Investment Officer di Wealth Enhancement Group.

“Ekspektasi inflasi, pasar obligasi — semuanya terkait dengan pergerakan minyak,” katanya.

Indeks Harga Konsumen dan Risiko Inflasi

Indeks Harga Konsumen (CPI) AS, yang akan dirilis 10 April, menjadi indikator awal dampak lonjakan energi akibat perang. Dengan harga minyak yang naik sekitar 90% sejak awal tahun, harga bensin rata-rata di AS naik di atas US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Laporan CPI diperkirakan naik 0,9% secara bulanan, sementara CPI inti yang mengecualikan energi dan makanan diperkirakan naik 0,3%. Miskin memperingatkan bahwa efek perang dan lonjakan harga energi terhadap barang dan jasa lainnya mungkin baru terlihat secara luas di laporan berikutnya.

Musim Laporan Keuangan Q1

Musim laporan keuangan kuartal pertama juga menjadi perhatian investor. Perusahaan-perusahaan seperti Delta Air Lines dan Constellation Brands dijadwalkan merilis laporan minggu depan. Secara keseluruhan, laba perusahaan S&P 500 diproyeksikan naik 14,4% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Misi Artemis II Dimulai, Kapsul Orion Bawa Astronot ke Jarak Terjauh di Luar Angkasa

“Musim laporan Q1 yang dimulai pertengahan April seharusnya menunjukkan bahwa pertumbuhan laba dasar masih menguat dan meluas,” catat analis ekuitas Deutsche Bank.

Tantangan Pasar di Tengah Ketidakpastian

Selain konflik Timur Tengah, saham AS menghadapi tantangan lain seperti gangguan akibat kecerdasan buatan dan kelemahan kredit swasta, yang menambah ketidakpastian pasar. Investor kini berupaya mengumpulkan data real-time untuk memetakan tren inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan harga energi yang tetap tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang berlanjut, pasar AS tetap berada di bawah tekanan meskipun ada harapan bahwa laporan laba kuartal pertama akan memberikan dorongan positif bagi investor.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×