Sumber: The Guardian,Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA – Pemerintahan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, resmi mengambil langkah agresif guna membentengi ekonomi nasional dari hantaman krisis energi global.
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memaksa Roma mengeluarkan dekrit darurat untuk memperpanjang pemotongan cukai bahan bakar serta memberikan suntikan modal bagi sektor agribisnis dan eksportir.
Baca Juga: Italia Tolak Penggunaan Pangkalan di Sisilia oleh Pesawat AS untuk Perang Iran
"Langkah ini mendesak untuk mengatasi situasi yang sangat sensitif, ditandai dengan ketegangan internasional yang berdampak nyata pada biaya energi dan perekonomian," tegas PM Meloni seperti diunggah di akun media sosial X @GiorgiaMeloni pada Jumat (3/4).
Ia memastikan bahwa pemerintah akan terus memantau dinamika global demi melindungi lapangan kerja dan stabilitas bisnis.
Menjaga Daya Beli
Kebijakan utama yang menjadi tumpuan pemerintah Meloni adalah memangkas cukai Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan.
Sebelum intervensi, tarif cukai BBM Italia bertengger di angka € 672,90 per 1.000 liter (sekitar € 0,67 per liter).
Pemerintah Italia kemudian menyunatnya menjadi € 472,90 per 1.000 liter atau setara €0,47 per liter.
Penurunan sebesar € 0,20 per liter ini diharapkan memberikan napas lega di tingkat konsumen, dengan estimasi penurunan harga di SPBU mencapai € 0,25 per liter setelah kalkulasi pajak pertambahan nilai.
Untuk memuluskan langkah ini, pemerintah Italia tidak main-main dalam urusan anggaran. Pada tahap awal, dana sebesar € 417,4 juta mereka gelontorkan, yang kemudian ditambah lagi sebesar €500 juta untuk memperpanjang masa berlaku kebijakan.
Dengan total beban fiskal mencapai € 917,4 juta—nyaris menyentuh € 1 miliar—skala intervensi ini menunjukkan betapa gentingnya situasi krisis energi di Italia.
Baca Juga: AstraZeneca Siap Gelontorkan US$ 15 Miliar di China Hingga 2030
Menghukum Spekulan
Tak hanya bermain di sisi pajak, Italia juga memperketat pengawasan pasar. Otoritas berwenang kini memegang mandat penuh untuk menindak praktik price gouging atau aksi ambil untung tidak wajar oleh para spekulan.
Langkah preventif ini bertujuan memastikan subsidi negara benar-benar sampai ke tangan konsumen, terutama kelompok rentan, dan tidak "menguap" di rantai distribusi.
Ketegasan ini diberikan langsung oleh PM Meloni pada awal Maret dengan menyebut, "Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menghentikan spekulasi, bahkan dengan menaikkan pajak perusahaan." katanya.
Sedangkan Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini juga menegaskan, pemerintah akan memeriksa perusahaan energi dan siap menghukum jika terbukti spekulasi dengan pasokan bahan bakar ke masyarakat ini.
Pertahankan PLTU hingga 2038
Di sisi pasokan, Italia mengambil keputusan yang cukup kontroversial namun pragmatis: menunda masa pensiun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara hingga tahun 2038. "Italia akan menunda penghapusan pembangkit listrik tenaga batu bara hingga tahun 2038," kata Gilberto Pichetto Fratin, Menteri Lingkungan dan Keamanan Energi Italia
Kebijakan ini merupakan manuver tajam dari komitmen awal Italia yang ingin mempercepat transisi energi bersih.
Namun, demi stabilitas pasokan domestik dan memangkas ketergantungan pada impor minyak-gas yang fluktuatif, PM Meloni memilih memprioritaskan ketahanan energi jangka pendek ketimbang target lingkungan semata.
Intervensi jumbo ini jelas membuat postur anggaran Italia kian sesak. Pemerintah kini tengah melobi Uni Eropa agar memberikan kelonggaran terhadap aturan defisit anggaran.
Tanpa fleksibilitas dari Brussels, ruang gerak Italia untuk mempertahankan subsidi dan intervensi harga di masa depan dikhawatirkan akan tercekik.
Hal ini krusial untuk melindungi industri manufaktur dan eksportir. Jika biaya energi terus melesat, biaya produksi akan membengkak dan daya saing produk Italia di pasar global bisa terjerembap.
Tonton: PM Singapura Peringatkan Risiko Krisis Energi Global, Harga Minyak Sudah Naik 60%
Risiko Stagflasi
Sebagai strategi jangka menengah, Italia mulai berpaling dari Timur Tengah dan mempercepat kerja sama energi dengan Afrika Utara, khususnya Aljazair.
Sebagai gambaran, Aljazair saat ini memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari dan 95–105 miliar meter kubik gas per tahun. Adapun sekitar separuh gasnya diekspor—mayoritas ke Eropa, terutama Italia, Spanyol, dan Prancis sehingga menjadikan negara ini sebagai salah satu pemasok energi kunci bagi kawasan tersebut.
Berbeda dengan krisis tahun 1970-an, kali ini Italia tidak menerapkan sistem kuota atau pembatasan konsumsi BBM (rationing), melainkan fokus pada penguatan pasokan dan stabilitas harga.
Meski demikian, risiko besar tetap membayangi. Dengan lonjakan harga energi global yang telah menembus 60% sejak awal konflik, ancaman stagflasi—inflasi tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang loyo—menjadi hantu nyata bagi ekonomi Italia jika krisis ini terus berlarut.













