kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Serangan AS-Israel Belum Melumpuhkan Nuklir Iran, Intelijen Ungkap Fakta Mengejutkan


Selasa, 05 Mei 2026 / 04:05 WIB
Serangan AS-Israel Belum Melumpuhkan Nuklir Iran, Intelijen Ungkap Fakta Mengejutkan
ILUSTRASI. Penilaian intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun senjata nuklir tidak berubah sejak musim panas tahun lalu. (via REUTERS/Majid-Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penilaian intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun senjata nuklir tidak berubah sejak musim panas tahun lalu, ketika para analis memperkirakan serangan AS-Israel telah memundurkan jadwal Iran hingga sekitar satu tahun, menurut tiga sumber yang mengetahui hal tersebut.

Mengutip Reuters, penilaian mengenai program nuklir Teheran tetap secara umum tidak berubah bahkan setelah dua bulan perang yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump, yang salah satu tujuannya adalah mencegah Republik Islam itu mengembangkan bom nuklir.

Serangan terbaru AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari berfokus pada target militer konvensional, meskipun Israel telah menyerang sejumlah fasilitas nuklir penting.

Perkiraan jadwal yang tidak berubah ini menunjukkan bahwa untuk benar-benar menghambat program nuklir Teheran secara signifikan, mungkin diperlukan penghancuran atau pemindahan sisa stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, atau highly enriched uranium (HEU).

Perang telah melambat sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 7 April untuk mengejar perdamaian. Namun ketegangan tetap tinggi karena kedua pihak tampak masih sangat terpecah, sementara Iran juga telah memperlambat arus lalu lintas di Selat Hormuz, yang menghambat sekitar 20% pasokan minyak dunia dan memicu krisis energi global.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terbuka mengatakan bahwa AS bertujuan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir melalui negosiasi yang sedang berlangsung dengan Teheran.

Baca Juga: Iran Serang UEA Usai Trump Luncurkan “Project Freedom”

Dua sumber mengatakan, sebelum perang 12 hari pada Juni, badan intelijen AS menyimpulkan bahwa Iran kemungkinan dapat memproduksi cukup uranium dengan tingkat kemurnian untuk bom dan membangun bom dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Seluruh sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas intelijen AS.

Setelah serangan AS pada Juni yang menghantam kompleks nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan, estimasi intelijen AS memundurkan jadwal tersebut menjadi sekitar sembilan bulan hingga satu tahun, menurut dua sumber dan satu orang lain yang mengetahui penilaian tersebut.

Serangan itu menghancurkan atau merusak parah tiga pabrik pengayaan yang diketahui beroperasi saat itu. Namun badan pengawas nuklir PBB belum dapat memverifikasi keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Badan tersebut meyakini sekitar setengahnya disimpan di kompleks terowongan bawah tanah di Pusat Riset Nuklir Isfahan, namun belum dapat memastikan sejak inspeksi dihentikan.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menilai total stok HEU tersebut akan cukup untuk membuat 10 bom jika diperkaya lebih lanjut.

“Walaupun Operasi Midnight Hammer telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, Operasi Epic Fury melanjutkan keberhasilan itu dengan melumpuhkan basis industri pertahanan Iran yang sebelumnya mereka gunakan sebagai perisai pelindung dalam mengejar senjata nuklir,” kata juru bicara Gedung Putih Olivia Wales, merujuk pada operasi pada Juni dan perang terbaru yang dimulai Februari.

“Presiden Trump sudah sejak lama menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir — dan ia tidak menggertak,” tambahnya.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS tidak menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 4%, Ancaman Rudal dan Insiden Kebakaran Jadi Pemicu

Menghentikan Program Nuklir Teheran Jadi Tujuan Utama AS

Pejabat AS, termasuk Trump, berulang kali menyebut kebutuhan untuk menghilangkan program nuklir Iran sebagai tujuan utama perang.

“Iran tidak boleh dibiarkan memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan operasi ini,” tulis Wakil Presiden JD Vance di X pada 2 Maret.

Perkiraan yang tidak berubah tentang berapa lama Iran membutuhkan waktu untuk membangun senjata tersebut, menurut sumber, sebagian mencerminkan fokus kampanye militer terbaru AS dan Israel.

Meskipun Israel menyerang target terkait nuklir, termasuk fasilitas pemrosesan uranium pada akhir Maret, serangan AS lebih terkonsentrasi pada kemampuan militer konvensional, kepemimpinan Iran, serta basis industri militernya.

Perkiraan yang tidak berubah itu juga mungkin disebabkan oleh terbatasnya target nuklir besar yang dapat dihancurkan dengan mudah dan aman setelah operasi militer pada Juni, menurut sejumlah analis.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×