Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Eric Brewer, mantan analis senior intelijen AS yang memimpin penilaian terhadap program nuklir Iran, mengatakan tidak mengejutkan jika penilaian tidak berubah karena serangan AS baru-baru ini tidak memprioritaskan target terkait nuklir.
“Iran masih memiliki seluruh material nuklirnya, sejauh yang kita ketahui,” kata Brewer, yang kini menjabat wakil presiden program studi material nuklir di lembaga think tank pengendalian senjata Nuclear Threat Initiative. “Material itu kemungkinan berada di lokasi bawah tanah yang sangat dalam, tempat amunisi AS tidak dapat menembusnya.”
Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat AS mempertimbangkan operasi berisiko tinggi yang dapat secara signifikan menghambat upaya nuklir Iran. Opsi tersebut termasuk serangan darat untuk mengambil HEU yang diyakini disimpan di kompleks terowongan di lokasi Isfahan.
Iran berulang kali membantah sedang mengejar senjata nuklir. Badan intelijen AS dan IAEA menyatakan Teheran menghentikan upaya pengembangan hulu ledak pada 2003, meskipun beberapa pakar dan Israel berpendapat Iran diam-diam mempertahankan bagian penting program tersebut.
Dampak Pembunuhan Ilmuwan Nuklir
Para ahli mengatakan, menilai kapasitas nuklir Iran secara presisi sangat sulit, bahkan bagi lembaga intelijen terbaik di dunia.
Beberapa lembaga intelijen AS mempelajari program nuklir Iran secara independen. Walaupun sumber menggambarkan adanya konsensus luas mengenai kapasitas Iran untuk membangun senjata nuklir, penilaian yang berbeda tetap mungkin terjadi.
Ada kemungkinan ambisi nuklir Iran mundur lebih jauh daripada yang tercermin dalam estimasi intelijen.
Tonton: Iran Ajukan Deadline 30 Hari ke AS Akhiri Perang atau Konflik Makin Panas
Beberapa pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, berargumen bahwa serangan AS terhadap pertahanan udara Iran telah mengurangi ancaman nuklir dengan melemahkan kemampuan Iran mempertahankan situs nuklirnya jika suatu saat memutuskan mempercepat proses persenjataan.
Selain itu, ada dampak dari pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran oleh Israel.
David Albright, mantan inspektur nuklir PBB yang kini memimpin Institute for Science and International Security, mengatakan pembunuhan tersebut menambah ketidakpastian signifikan terhadap kemampuan Teheran membangun bom yang benar-benar berfungsi sesuai rencana.
“Saya kira semua orang sepakat bahwa pengetahuan tidak bisa dibom, tapi keahlian teknisnya bisa dihancurkan,” katanya.












