Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perekonomian global diperkirakan masih mampu mencatat pertumbuhan di atas 3% pada 2026 meskipun dibayangi lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah. Investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) riil global tumbuh 3,1% pada 2026. Proyeksi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada Juli lalu sebesar 3%.
Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa (13/10/2026), IMF menyebutkan bahwa ketahanan ekonomi global mulai menghadapi tekanan yang semakin besar. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel menjadi salah satu risiko utama terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Proyeksi pertumbuhan global tersebut kurang lebih sejalan dengan skenario paling optimistis yang disampaikan IMF pada April lalu, tetapi masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 yang mencapai 3,5%.
Untuk 2027, IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,4%. Angka tersebut tidak berubah dari perkiraan pada Juli lalu dan meningkat 0,2 poin persentase dibandingkan proyeksi April.
Baca Juga: Pengiriman Chip AI Nvidia ke China Anjlok 44%, Huawei Raup 28% Pasar
Kepala Ekonom IMF yang baru, Silvana Tenreyro, mengatakan perekonomian dunia masih menunjukkan ketahanan, tetapi berbagai risiko mulai mengancam prospek pertumbuhan.
“Perekonomian global telah menunjukkan ketahanan, tetapi ketahanan tersebut kini berada di bawah tekanan, dengan risiko terhadap pertumbuhan yang cenderung mengarah ke sisi negatif,” ujar Tenreyro kepada wartawan.
Ia menambahkan, konflik yang berlangsung lebih lama di Timur Tengah dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat menambah tekanan terhadap inflasi dan memperlambat pertumbuhan. Memburuknya prospek fiskal, penilaian ulang terhadap profitabilitas AI, serta peristiwa cuaca ekstrem juga dapat semakin memperburuk prospek ekonomi,” katanya.
Investasi AI Topang Pertumbuhan, tetapi Manfaatnya Tidak Merata
IMF menjelaskan, perbaikan tipis proyeksi pertumbuhan global terutama didorong oleh berlanjutnya investasi besar pada infrastruktur AI. Tren ini mendorong peningkatan proyeksi pertumbuhan sejumlah negara maju yang mengembangkan platform AI serta negara-negara yang memasok perangkat keras untuk teknologi tersebut.
Beberapa negara yang memperoleh manfaat dari rantai pasok perangkat keras AI antara lain Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, dan Thailand. Thailand menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada pekan ini.
Namun, manfaat dari perkembangan AI belum dirasakan secara merata oleh seluruh negara.
IMF mencatat, hanya 32 negara yang kini menyumbang 95% pertumbuhan ekonomi global. Jumlah tersebut menyusut dibandingkan April lalu, ketika 54 negara tercatat menyumbang porsi yang sama terhadap pertumbuhan dunia.
Revisi penurunan proyeksi pertumbuhan juga semakin meluas. Sejak proyeksi April diterbitkan, IMF telah menurunkan perkiraan pertumbuhan bagi 47% negara dalam cakupan analisisnya, termasuk sejumlah negara pengimpor energi yang tidak terhubung langsung dengan rantai nilai AI.
Wakil Direktur Riset IMF Petya Koeva Brooks mengatakan, pemerintah dan perusahaan telah bergerak cepat untuk meredam dampak lonjakan harga minyak.
Langkah yang dilakukan mencakup penggunaan cadangan energi, pengalihan pasokan dari pemasok lain, pemanfaatan sumber energi alternatif, serta pengurangan konsumsi minyak.
Menurut Brooks, pertumbuhan ekonomi global berpotensi hanya mencapai 2,5% pada 2026 jika langkah-langkah mitigasi tersebut tidak dilakukan. Namun, dampak positif dari berbagai upaya itu mulai berkurang seiring berlarutnya perang.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Indonesia Terparah dalam 11 Tahun, ASEAN Turun Tangan
Negara Teluk Hadapi Tekanan Ekonomi Terbesar
Negara-negara Teluk yang terdampak langsung perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menghadapi penurunan prospek ekonomi paling tajam.
IMF memperkirakan ekonomi Arab Saudi akan mengalami kontraksi 3,3% pada 2026. Proyeksi tersebut berbalik dari perkiraan pertumbuhan 1,7% yang disampaikan pada Juli lalu.
Sejumlah negara lain di kawasan tersebut juga diperkirakan mengalami resesi yang dalam. Ekonomi Iran diproyeksikan menyusut 7,6%, Irak 16%, Kuwait 16,7%, Qatar 15,6%, dan Uni Emirat Arab 3,9% pada 2026.
Tekanan tersebut mencerminkan besarnya dampak konflik terhadap negara-negara yang perekonomiannya berkaitan erat dengan sektor energi dan perdagangan di kawasan Timur Tengah.
Proyeksi Ekonomi Amerika Serikat dan Eropa Membaik
Di antara negara-negara dengan perekonomian terbesar, IMF memperkirakan ekonomi AS tumbuh 2,3% pada 2026 dan 2027.
Proyeksi pertumbuhan AS pada 2026 tidak berubah dari perkiraan sebelumnya, sedangkan proyeksi untuk 2027 meningkat 0,1 poin persentase dibandingkan Juli.
Perekonomian AS diperkirakan tetap ditopang oleh konsumsi swasta yang kuat, pemotongan pajak, dan investasi AI. Meski demikian, dampak positif investasi AI terhadap pertumbuhan akan sebagian terimbangi oleh tingginya kandungan impor dalam investasi tersebut.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro pada 2026 dinaikkan menjadi 1,1% dari sebelumnya 0,9%.
Peningkatan tersebut didorong oleh investasi AI yang lebih kuat, keterlibatan dalam rantai nilai AI melalui sektor seperti industri kimia Jerman, serta kenaikan belanja pertahanan di negara-negara Uni Eropa.
IMF juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris pada 2026 sebesar 0,3 poin persentase dari perkiraan Juli menjadi 1,3%. Peningkatan investasi AI menjadi salah satu faktor pendorong revisi tersebut.
Untuk China, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,5% pada 2026 dan 4% pada 2027. Kedua proyeksi itu turun 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan Juli.
Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan semakin menekan permintaan domestik China yang masih lemah, meskipun kinerja ekspornya tetap kuat.
Baca Juga: Rupiah dan Won Korea Melemah Selasa (13/10), Dolar Taiwan Catat Penurunan Terbesar
Sebaliknya, India diperkirakan mempertahankan posisinya sebagai negara dengan perekonomian utama yang tumbuh paling cepat di dunia.
IMF memproyeksikan ekonomi India tumbuh 7% pada 2026 dan 2027. Proyeksi tersebut masing-masing naik 0,6 poin persentase untuk 2026 dan 0,3 poin persentase untuk 2027 dibandingkan perkiraan Juli.
Permintaan domestik yang kuat, aktivitas sektor jasa, dan investasi AI menjadi faktor yang menopang prospek pertumbuhan India.
Inflasi Global Diperkirakan Masih Tinggi
Di tengah peningkatan investasi teknologi dan tekanan harga energi, IMF memperkirakan inflasi konsumen global secara keseluruhan mencapai 4,7% pada 2026.
Untuk 2027, inflasi global diproyeksikan melambat menjadi 4,1%.
Meski demikian, proyeksi tersebut masih dibayangi ketidakpastian mengenai perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia.
Dalam skenario dasar IMF, Selat Hormuz diasumsikan kembali dibuka pada Maret 2027. Kondisi pelayaran secara luas diperkirakan kembali seperti sebelum perang pada Oktober 2027.
IMF juga menggunakan asumsi harga minyak rata-rata sebesar US$ 96 per barel pada 2026 dan US$ 87 per barel pada 2027.
Namun, jika konflik memburuk dan mendorong harga minyak mencapai US$ 130 per barel hingga kuartal I-2027, dampaknya terhadap perekonomian global dapat menjadi jauh lebih besar.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan berkurang 0,2 poin persentase pada 2026 dan 0,5 poin persentase pada 2027.
Inflasi global pada 2027 juga berpotensi meningkat 1,1 poin persentase menjadi 5,2%.
Risiko Investasi AI dan Utang Pemerintah Membayangi Ekonomi Global
Selain harga energi, perkembangan investasi AI menjadi sumber ketidakpastian besar bagi prospek ekonomi global. IMF menilai teknologi tersebut memiliki potensi untuk mempercepat pertumbuhan, tetapi juga dapat menimbulkan risiko apabila hasil investasi tidak sesuai harapan.
Dalam skenario adopsi AI yang lebih cepat disertai percepatan investasi, PDB global berpotensi meningkat tambahan 0,6% hingga 2029. Sebagian besar manfaat diperkirakan dinikmati oleh AS dan China.
Baca Juga: Harga Tembaga Stabil Selasa (13/10), Dolar AS Kuat Redam Kekhawatiran Pasokan Chile
Sebaliknya, apabila peningkatan produktivitas yang diharapkan dari AI tidak terwujud dan memicu penurunan tajam investasi, PDB AS dapat turun 0,8% secara langsung.
Dampaknya juga dapat merambat ke negara-negara pengekspor teknologi di Asia. IMF memperkirakan penurunan PDB secara langsung akibat efek tersebut dapat mencapai 0,4% pada 2028.
Penurunan investasi juga berpotensi memicu koreksi tajam harga aset dan memperketat kondisi keuangan. Kondisi tersebut dapat menekan konsumsi, terutama di AS.
Kenaikan imbal hasil obligasi global turut berpotensi menghambat aktivitas ekonomi. Secara keseluruhan, IMF memperkirakan kombinasi berbagai dampak tersebut dapat mengurangi output ekonomi global sebesar 1,1% pada 2028, termasuk penurunan output AS sebesar 1,8%.
IMF juga memperingatkan bahwa tingginya utang publik, terutama di negara-negara maju, meningkatkan risiko kenaikan tajam biaya pinjaman yang dapat membebani prospek pertumbuhan.
Karena itu, IMF mendesak pemerintah untuk tidak lagi menunda langkah-langkah memperkuat cadangan fiskal dan menyusun rencana jangka menengah yang kredibel guna mengembalikan utang ke tingkat yang berkelanjutan.
Peringatan tersebut diperkirakan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, ketika para pemimpin ekonomi dan keuangan dunia membahas langkah untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat ketahanan perekonomian global.














