Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga bergerak relatif stabil pada Selasa (13/10/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mengimbangi dukungan harga dari kekhawatiran gangguan pasokan di Chile, salah satu produsen tembaga terbesar dunia.
Mengutip Reuters, harga tembaga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,2% menjadi US$ 14.590,50 per ton pada pukul 01.26 GMT.
Pada perdagangan sebelumnya, harga logam industri tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Baca Juga: AS Kecam Sanksi China terhadap Pejabat Belize dan Paraguay Terkait Taiwan
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) bergerak nyaris tidak berubah di level 110.720 yuan per ton.
Pergerakan harga tembaga tertahan oleh penguatan dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam 18 bulan. Permintaan terhadap aset safe haven meningkat di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Dolar AS yang lebih kuat membuat logam yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini dapat menekan permintaan dan membatasi kenaikan harga tembaga.
Di sisi lain, kekhawatiran pasokan masih menjadi perhatian pelaku pasar. Perusahaan tambang milik negara Chile, Codelco, menghentikan sebagian operasional tambang El Teniente setelah terjadi tanah longsor.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Dolar AS Bertahan Mendekati Level Tertinggi dalam 18 Bulan
Selain itu, tambang tembaga Centinela milik Antofagasta dan dua serikat pekerjanya dijadwalkan kembali menggelar perundingan di tengah aksi mogok kerja yang masih berlangsung.
Persediaan tembaga di luar Amerika Serikat juga menurun dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini terjadi setelah pengiriman tembaga dialihkan ke AS untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan tarif terhadap impor tembaga olahan.
Di tengah dinamika tersebut, analis BMI menaikkan proyeksi rata-rata harga tembaga pada 2026 menjadi US$ 13.500 per ton, dari perkiraan sebelumnya US$ 12.700 per ton.
Revisi ini didorong oleh distorsi pasar akibat kebijakan tarif serta keterbatasan pasokan yang masih berlanjut.
BMI memperkirakan, harga tembaga akan bergerak berfluktuasi tajam hingga akhir tahun, seiring pelaku pasar merespons perkembangan kebijakan tarif AS.
"Untuk sisa tahun ini, harga diperkirakan berfluktuasi tajam sebagai respons terhadap pemberitaan kebijakan tarif. Keputusan akhir AS kemungkinan akan menentukan arah harga dalam jangka pendek," kata BMI.
Baca Juga: Serangan Houthi di Riyadh, Arab Saudi Disorot soal Sistem Peringatan Dini
Pergerakan beragam juga terlihat pada logam industri lainnya di LME. Harga aluminium turun 0,4% menjadi US$ 3.039 per ton setelah menyentuh level terendah dalam delapan bulan pada Senin (12/10/2026).
Harga seng melemah 0,6% menjadi US$ 3.735 per ton, timbal stabil di US$ 1.882 per ton, nikel turun 0,2% menjadi US$ 15.585 per ton, dan timah terkoreksi 0,7% menjadi US$ 52.810 per ton.
Di SHFE, harga aluminium turun 0,6%, seng melemah 1,3%, nikel terkoreksi 0,4%, dan timah turun 0,4%. Sebaliknya, harga timbal naik 0,3%.














