Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Defisit perdagangan Amerika Serikat melebar pada Maret seiring lonjakan impor yang didorong oleh gelombang investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Kenaikan impor tersebut melampaui peningkatan ekspor yang sebagian ditopang oleh pengiriman minyak mentah di tengah konflik di Timur Tengah.
Laporan Departemen Perdagangan AS pada Selasa (5/5/2026) mengonfirmasi defisit perdagangan menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini. Impor barang diperkirakan terus meningkat, terutama didorong oleh kebutuhan barang modal dalam ekspansi investasi AI.
Namun, kenaikan impor berpotensi tertahan oleh ekspor minyak bumi yang diperkirakan meningkat seiring terganggunya pasokan minyak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Baca Juga: UPDATE: Minyak Dunia Turun Tipis Selasa (5/5, Konflik Timur Tengah Tahan Penurunan
Ekonom AS Oxford Economics, Grace Zwemmer, menyatakan defisit perdagangan kemungkinan menyempit pada April karena lonjakan ekspor minyak dan produk turunannya.
Data Biro Analisis Ekonomi dan Biro Sensus menunjukkan defisit perdagangan naik 4,4% menjadi US$ 60,3 miliar pada Maret. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar US$ 60,9 miliar.
Defisit perdagangan tercatat memangkas 1,30 poin persentase dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama, di mana ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan 2,0%.
Impor naik 2,3% menjadi US$ 381,2 miliar. Impor barang meningkat 3,6% menjadi US$ 302,2 miliar, didorong lonjakan barang modal hingga mencapai rekor US$ 120,7 miliar.
Lonjakan ini mencerminkan percepatan investasi bisnis pada teknologi AI dan pusat data pendukungnya, yang sebagian besar masih bergantung pada bahan impor.
Impor aksesori komputer naik US$ 2,0 miliar, meskipun impor komputer turun US$ 2,3 miliar. Sementara itu, impor bahan industri termasuk minyak bumi naik US$ 2,1 miliar. Impor barang konsumsi meningkat US$ 2,4 miliar, dan impor kendaraan bermotor serta suku cadang naik US$ 3,6 miliar.
Di sisi lain, ekspor naik 2,0% menjadi rekor tertinggi US$ 320,9 miliar. Ekspor barang melonjak 3,1% menjadi US$ 213,5 miliar, didorong kenaikan US$ 5,0 miliar pada ekspor bahan industri, termasuk peningkatan ekspor minyak mentah sebesar US$ 2,8 miliar.
Baca Juga: Inflasi Filipina Tembus 7,2%, Risiko Kenaikan Suku Bunga Kian Besar
Ekspor produk minyak lainnya naik US$ 1,7 miliar, sementara pengiriman bahan bakar minyak meningkat US$ 1,6 miliar.
Ekspor makanan, pakan, dan minuman mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022, terutama didorong oleh kedelai. Namun, ekspor barang konsumsi justru turun US$ 1,7 miliar.
Defisit perdagangan barang melebar 4,8% menjadi US$ 88,7 miliar, dan setelah disesuaikan dengan inflasi meningkat 6,7% menjadi US$ 90,8 miliar.
Sementara itu, impor jasa turun US$ 1,9 miliar menjadi US$ 79,0 miliar akibat penurunan biaya penggunaan kekayaan intelektual, transportasi, dan perjalanan.
Ekspor jasa juga turun tipis US$ 0,3 miliar menjadi US$ 107,4 miliar, dipengaruhi penurunan layanan perjalanan, meskipun ekspor jasa transportasi serta layanan keuangan dan bisnis lainnya meningkat.
Amerika Serikat mencatat defisit perdagangan barang dengan sejumlah negara, termasuk China, Taiwan, Vietnam, Meksiko, Kanada, India, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Israel. Defisit dengan Uni Eropa juga meningkat sebesar US$ 4,1 miliar menjadi US$ 9,2 miliar pada Maret.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah memberlakukan tarif terhadap sejumlah mitra dagang dengan alasan untuk mengatasi defisit perdagangan tersebut.













