Ini Pengakuan Mantan Pejabat Keamanan AS yang Bantu Rencanakan Kudeta di Negara Lain

Rabu, 13 Juli 2022 | 13:02 WIB Sumber: The Straits Times
Ini Pengakuan Mantan Pejabat Keamanan AS yang Bantu Rencanakan Kudeta di Negara Lain

ILUSTRASI. Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton berbicara di Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di Oxon Hill, Maryland, AS 24 Februari 2017. REUTERS/Joshua Roberts.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, pada Selasa (12/7) mengaku sempat terlibat dalam perencanaan kudeta di negara lain.

Dalam wawancaranya di kanal televisi CNN, Bolton juga menjelaskan latar belakang dari kerusuhan di US Capitol awal tahun lalu.

Bolton menyebut kerusuhan di US Capitol pada 6 Januari 2021 adalah salah satu dari bentuk kudeta yang gagal. 

"Serangan terhadap US Capitol adalah hasil dari Presiden saat itu, Donald Trump. Insiden itu bukan serangan terhadap demokrasi kita. Trump sedang mengejar Trump. Ini kejadian seumur hidup," ungkap Bolton, seperti dikutip The Straits Times.

Komentar Bolton ini disampaikan ketika komite Kongres sedang menentukan, apakah Trump dan pendukungnya terlibat dalam upaya kudeta AS awal tahun lalu. Kerusuhan tersebut menewaskan sedikitnya 5 orang dan melukai 140 petugas polisi.

Baca Juga: AS Prediksi Iran akan Mengirim Drone Bersenjata untuk Membantu Rusia

Bolton yang mengaku sempat terlibat dalam perencanaan kudeta di negara lain juga menyadari bahwa ada banyak hal yang dibutuhkan untuk melakukan kudeta.

"Sebagai seseorang yang telah membantu merencanakan kudeta, tidak di sini, tetapi, Anda tahu, di tempat lain, dibutuhkan banyak pekerjaan," lanjut Bolton.

Bolton tentu tidak menyebut pihak mana yang menggunakan jasanya. Namun, saat menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dia menganjurkan intervensi militer AS di Venezuela.

"Saya tidak akan membahas secara spesifik. Ternyata tidak berhasil. Saya melihat apa yang diperlukan oposisi untuk mencoba menggulingkan presiden yang dipilih secara ilegal telah gagal," kata Bolton sebelum membahas Venezuela.

Baca Juga: Presiden Belarusia: Negara Barat Membawa Dunia Lebih Dekat ke Ambang Perang Besar

Sebelum bekerja di bawah Trump, Bolton juga sempat bertugas di Departemen Kehakiman dan Departemen Luar Negeri AS selama tiga pemerintahan Republik, dimulai dengan Ronald Reagan pada 1980-an.

Bolton juga jadi salah satu tokoh yang mendorong invasi AS ke Irak dan menyuarakan dukungan untuk mengebom Iran dan Korea Utara. 

Kebijakan luar negeri yang intervensionis itu pada akhirnya membuat Bolton berselisih dengan Trump dan dipecat pada tahun 2019.

AS memang memiliki sejarah panjang dalam penggulingan pemerintah di berbagai belahan dunia. Mulai dari penggulingan perdana menteri nasionalis Iran Mohammad Mosaddegh pada tahun 1953, perang Vietnam, hingga invasinya ke Irak dan Afghanistan abad ini.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru