kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.157   -45,00   -0,25%
  • IDX 5.130   -152,29   -2,88%
  • KOMPAS100 663   -23,14   -3,37%
  • LQ45 522   -17,91   -3,32%
  • ISSI 172   -5,00   -2,82%
  • IDX30 293   -9,77   -3,22%
  • IDXHIDIV20 394   -11,85   -2,92%
  • IDX80 76   -2,61   -3,31%
  • IDXV30 109   -3,23   -2,89%
  • IDXQ30 99   -3,00   -2,94%

Investasi AI dan Belanja Konsumen Topang Ekonomi AS di Kuartal III 2026


Kamis, 29 Oktober 2026 / 14:07 WIB
Investasi AI dan Belanja Konsumen Topang Ekonomi AS di Kuartal III 2026
ILUSTRASI. Pertumbuhan ekonomi AS kemungkinan mengalami percepatan pada kuartal III 2026, seiring dengan kuatnya belanja konsumen dan investasi AI. (REUTERS/Umit Bektas)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) kemungkinan mengalami percepatan pada kuartal III 2026, seiring dengan kuatnya belanja konsumen dan investasi bisnis yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). Faktor-faktor ini mampu mengimbangi dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Kekuatan ekonomi yang diantisipasi ini tampak sangat kontras dengan penilaian negatif rumah tangga terhadap kondisi ekonomi AS—sebuah sentimen yang tercermin dalam tingkat kepuasan publik yang sangat rendah terhadap Presiden Donald Trump serta penurunan tajam dalam sentimen konsumen.

Departemen Perdagangan AS akan merilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2026 pada Kamis ini (29/10/2026), kurang dari seminggu sebelum pemilihan umum sela (midterm elections) pada Selasa pekan depan, yang akan menentukan pihak mana yang menguasai Kongres AS.

"Masyarakat memang sangat kesal dengan tingginya harga energi dan pangan, namun fundamental ekonomi bagi konsumen sebenarnya masih cukup baik," ujar Gus Faucher, kepala ekonom di PNC Financial seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Jelang Keputusan Bunga Bank of Japan, Pasar Obligasi Jepang Bergerak Stabil

Fauchermasih melihat adanya pertumbuhan lapangan kerja, kenaikan upah, serta pasar saham yang kuat—yang terutama menopang belanja rumah tangga berpenghasilan tinggi. Akibatnya, konsumen terus meningkatkan pengeluaran mereka dengan laju yang cukup stabil.

Berdasarkan survei Reuters terhadap sejumlah ekonom, PDB AS diperkirakan tumbuh pada tingkat tahunan (annualized rate) sebesar 3,2% pada kuartal III 2026.

Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh sebesar 2,2% pada kuartal April-Juni. Namun, survei tersebut dilakukan sebelum dirilisnya laporan indikator ekonomi awal untuk bulan September pada hari Rabu lalu, yang menunjukkan pelebaran defisit perdagangan barang.

Hal ini terjadi karena tingginya permintaan akan barang modal—yang terkait dengan lonjakan investasi di bidang AI—mendorong angka impor ke rekor tertinggi.

Para ekonom memperkirakan, defisit perdagangan telah mengurangi setidaknya 4 poin persentase dari pertumbuhan PDB AS pada kuartal lalu. Meski demikian, dampak negatif tersebut kemungkinan diredam oleh investasi terkait AI, dengan belanja bisnis untuk peralatan diperkirakan mencatatkan pertumbuhan dua digit selama tiga kuartal berturut-turut.

Kecerdasan buatan (AI) kemungkinan turut berkontribusi terhadap pengeluaran untuk produk kekayaan intelektual. Selain itu, persediaan barang juga diperkirakan telah menambah pertumbuhan PDB pada kuartal III 2026.

Para investor kini semakin menyoroti meningkatnya biaya untuk proyek-proyek AI jangka panjang yang imbal hasilnya belum pasti. Perusahaan-perusahaan teknologi telah meminjam dana dalam jumlah besar selama setahun terakhir untuk membiayai pengembangan AI—sebuah faktor yang berpotensi menjadi risiko penurunan bagi belanja peralatan.

Meski demikian, para ekonom tidak memperkirakan hal ini akan menghambat perekonomian.

"Kemungkinan akan ada sikap yang lebih hati-hati terkait investasi di bidang AI, namun momentum dasarnya tetap cukup kuat," ujar Gregory Daco, kepala ekonom di EY-Parthenon. "Investasi yang berkaitan dengan AI kemungkinan akan tetap menjadi pilar utama aktivitas ekonomi AS, meskipun terdapat risiko pengurangan investasi serta pertanyaan mengenai imbal hasil dari seluruh investasi tersebut."

Baca Juga: Harga Minyak Jatuh, Harapan Perdamaian Meredam Kekhawatiran Konflik Timur Tengah

Perekonomian AS saat ini tumbuh dengan laju yang jauh melampaui tingkat pertumbuhan non-inflasioner—sekitar 2%—menurut pandangan sejumlah pejabat Federal Reserve. Pada hari Rabu, bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4,00%, sembari mengakui bahwa inflasi masih tetap tinggi.

Para ekonom memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember 2026. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan kepada wartawan bahwa aktivitas ekonomi tumbuh dengan laju yang kuat. Ia menambahkan, meskipun ketidakpastian masih ada—sebagian akibat perkembangan geopolitik—pengeluaran domestik tetap tangguh.

Belanja Konsumen Tetap Kuat

Belanja konsumen, yang mencakup lebih dari dua pertiga perekonomian, diproyeksikan tumbuh di atas 3,0%, setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,8% pada kuartal kedua. Tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berada di titik terendah dalam sejarah serta laju perekrutan tenaga kerja yang moderat turut menopang belanja konsumen, meskipun kenaikan upah terkadang masih tertinggal di belakang laju inflasi.

Rumah tangga kini cenderung lebih sedikit menabung dan mulai menggunakan dana cadangan mereka untuk membiayai pengeluaran. Dengan harga rata-rata bensin yang masih berada di atas $4 per galon—di tengah berlanjutnya konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran—para ekonom mengantisipasi kemungkinan adanya penurunan dalam belanja konsumen.

"Tampaknya rumah tangga berasumsi, saat konflik dimulai awal tahun ini, bahwa lonjakan harga energi hanya bersifat sementara," ujar Stephen Stanley, kepala ekonom AS di Santander US Capital Markets. 

Baca Juga: Bursa Asia Tergelincir Pendapatan Alphabet yang Meleset di Pagi Ini (29/10)

Kenaikan suku bunga hipotek akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan telah membuat investasi di sektor hunian kembali mengalami kontraksi pada kuartal lalu. Tingginya biaya pinjaman telah menutupi penurunan harga rumah, sehingga kepemilikan hunian menjadi sulit dijangkau oleh kalangan dewasa muda.

Sektor pembangunan rumah juga terkendala oleh kelangkaan lahan dan tenaga kerja—di tengah kebijakan imigrasi yang lebih ketat—serta tingginya harga material akibat tarif impor. Pembangunan pusat data (data center) untuk mendukung kecerdasan buatan (AI).

Investasi bisnis pada bangunan nonhunian kemungkinan meningkat setelah sempat stabil pada kuartal kedua. Pemulihan dalam belanja pemerintah juga diperkirakan akan terjadi.

Indikator permintaan domestik yang tidak mencakup persediaan, perdagangan, dan sektor pemerintah, diperkirakan melonjak pada kuartal lalu. Penjualan akhir kepada pembeli domestik dari sektor swasta tercatat tumbuh sebesar 4,6% pada kuartal kedua.

"Gambaran keseluruhannya adalah ekonomi AS tumbuh dengan laju yang cukup baik, namun faktor utamanya adalah lonjakan investasi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) serta konsumsi yang terutama dipicu oleh peningkatan kekayaan dari kepemilikan saham," ujar Dean Baker, ekonom senior di Center for Economic and Policy Research.

"Belum jelas sampai kapan kondisi ini dapat berlanjut; situasi ini tidak terlalu stabil, dan juga bukan kondisi yang sangat positif bagi sebagian besar pekerja," imbuhnya.

Baca Juga: Maskapai Penerbangan Mendesak CDC AS untuk Mengevaluasi Persyaratan Deklarasi Ebola


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×