Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Spekulan pasar sekaligus investor legendaris Doug Casey memprediksi akan terjadi depresi ekonomi besar (massive economic depression) pada tahun 2026.
Menurutnya, hanya aset-aset langka tertentu yang mampu menjadi benteng perlindungan di tengah guncangan ekonomi global tersebut.
Dalam wawancara dengan David Lin pada 5 Januari, Chairman Casey Research itu menyampaikan pandangannya terkait pasar keuangan, mata uang, dan standar hidup masyarakat.
Casey menilai perekonomian Amerika Serikat (AS) tengah mendekati titik kritis setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan yang ditopang oleh utang besar dan pelemahan nilai dolar.
Ia juga memprediksi bahwa kenaikan pasar saham AS kini semakin terkonsentrasi pada segelintir perusahaan teknologi besar dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sebuah kondisi yang menurutnya mirip dengan gelembung dot-com di akhir 1990-an.
Baca Juga: PBB Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat Hingga 2026
“AI akan berfungsi dan berkembang, tetapi dana yang dialokasikan ke sektor ini saat ini terlalu dini dan harganya sudah sangat mahal serta berbahaya,” ujar Casey.
Seiring dengan pandangannya tersebut, Casey mengaku mengambil posisi defensif dalam portofolionya. Ia lebih memilih emas, perak, serta sejumlah komoditas tertentu sebagai perlindungan terhadap sistem keuangan yang dinilainya semakin tidak stabil.
Pelemahan Dolar AS Dorong Harga Emas dan Perak
Di tengah reli parabolik harga logam mulia, Casey, yang dikenal dengan pandangan kontrariannya mengungkapkan bahwa pergerakan harga yang naik lurus tanpa koreksi biasanya memicu nalurinya untuk menjual. Meski demikian, ia menegaskan bahwa emas dan perak tetap layak menjadi aset jangka panjang.
“Grafik itu sangat menakutkan bagi saya,” kata Casey, merujuk pada lonjakan harga perak baru-baru ini.
“Namun, dengan kondisi moneter global yang sangat bergejolak, saya justru merasa sangat nyaman untuk terus memiliki perak fisik,” tambahnya.
Baca Juga: Inflasi China Capai Level Tertinggi 3 Tahun, Tekanan Deflasi Mereda
Menurutnya, kelemahan struktural dolar AS menjadi faktor utama di balik lonjakan harga aset lindung nilai.
Casey berpendapat bahwa pemerintah federal AS telah “terjebak di sudut”, sehingga memaksa bank sentral The Federal Reserve mencetak triliunan dolar setiap tahun hanya untuk membiayai defisit anggaran yang terus membengkak.
Meski demikian, minat publik terhadap saham-saham sektor logam mulia masih relatif rendah. Kondisi ini, menurut Casey, bisa menjadi indikasi bahwa kenaikan harga saat ini belum mencapai puncak akhirnya. Ia juga menegaskan bahwa koreksi harga tidak akan mengubah strategi investasinya.
“Jika harga turun kembali ke US$50, US$40, atau bahkan US$30 per ons, saya tidak peduli, karena ini adalah aset yang ingin terus saya akumulasi untuk jangka panjang,” tegasnya.
Ekonomi AS Disebut Menuju “Rumah Potong Hewan”
Casey juga mengkritik optimisme berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Ia menolak anggapan bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang kuat otomatis mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Baca Juga: Survei Forum Ekonomi Dunia Menunjukkan Berbisnis Lebih Sulit pada Tahun 2025
Pandangan ini sejalan dengan kritik yang juga sering disampaikan ekonom Steve Hanke.
Meski mengakui bahwa ekonomi AS saat ini tampil lebih baik dibandingkan kawasan lain yang tengah melemah, seperti Eropa, Casey menilai keunggulan relatif tersebut menyesatkan. Ia menggambarkan AS sebagai “kuda yang paling tampan di jalan menuju rumah potong hewan”.
Lebih lanjut, Casey meragukan keandalan data ekonomi resmi pemerintah AS. Ia mengaku tidak lebih percaya pada statistik lembaga pemerintah AS dibandingkan data dari negara-negara dengan ekonomi yang kronis tidak stabil.
Salah satu pernyataan Casey yang paling mencolok adalah klaim bahwa warga Amerika dengan pendapatan di bawah US$140.000 per tahun pada dasarnya sudah mendekati garis kemiskinan, jika biaya hidup riil diperhitungkan secara menyeluruh.













