kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Survei Forum Ekonomi Dunia Menunjukkan Berbisnis Lebih Sulit pada Tahun 2025


Kamis, 08 Januari 2026 / 21:27 WIB
Survei Forum Ekonomi Dunia Menunjukkan Berbisnis Lebih Sulit pada Tahun 2025
ILUSTRASI. SWITZERLAND WEF DAVOS TUESDAY (JASPER JACOBS/BELGA via REUTERS). Survei daring yang dirilis menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos akhir bulan ini melibatkan 799 eksekutif di 81 negara.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - ZURICH. Dunia usaha global menghadapi tantangan yang semakin berat sepanjang 2025. Hal ini tercermin dari survei World Economic Forum (WEF) yang menunjukkan memburuknya kerja sama global di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, iklim, teknologi, hingga keamanan.

Survei daring yang dirilis menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos akhir bulan ini melibatkan 799 eksekutif di 81 negara. 

Hasilnya, sebanyak 43% responden menilai kegiatan berbisnis pada 2025 menjadi lebih sulit dibandingkan 2024. Sebaliknya, hanya 7% yang menilai kondisi justru membaik, sementara sisanya menilai tidak berubah atau tidak memberikan pendapat.

Sekitar empat dari sepuluh eksekutif menyebut meningkatnya hambatan perdagangan, pergerakan talenta, dan arus modal lintas negara sebagai faktor utama yang mempersulit dunia usaha. Hanya sekitar 10% yang berpandangan sebaliknya.

Baca Juga: Strategi Segmentasi Pasar yang Relevan agar Bisnis Lebih Tepat Sasaran

WEF dalam laporan Global Cooperation Barometer 2026 menyoroti kebijakan tarif Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu ketidakpastian. 

Presiden AS Donald Trump pada April 2025 mengumumkan serangkaian tarif terhadap mitra dagang negaranya, yang sempat menguji ketahanan rantai pasok global. Meski demikian, sebagian tarif kemudian diturunkan seiring tercapainya kesepakatan dengan sejumlah negara.

WEF mencatat, fakta bahwa enam dari sepuluh eksekutif tidak menempatkan perdagangan sebagai masalah utama menunjukkan banyak perusahaan mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka untuk menghadapi gejolak tersebut.

Di luar perdagangan, kerja sama di bidang perdamaian dan keamanan juga dinilai memburuk. Sebanyak 42% responden melihat penurunan kerja sama di sektor ini, sementara hanya 13% yang menilai ada perbaikan. 

Kerja sama terkait iklim dan sumber daya alam juga dinilai makin menantang oleh 29% responden, meski 17% melihat adanya peningkatan.

Baca Juga: OPEC Optimistis Ekonomi Dunia Bakal Membaik di Paruh Kedua Tahun ini

Meski demikian, laporan WEF juga mencatat perkembangan positif di sektor energi bersih. Investasi global baru di energi terbarukan naik hampir 10% pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kapasitas terpasang energi surya dan angin bahkan melonjak 67% menjadi 408 gigawatt.

Survei lain yang dilakukan WEF pada September terhadap anggota Global Future Councils menunjukkan pandangan yang lebih pesimistis. Sebanyak 85% responden menilai kerja sama global secara keseluruhan menurun pada 2025 dibandingkan 2024, lebih tinggi dibandingkan persepsi para eksekutif.

Baca Juga: Penerapan LPG 3 Kg Satu Harga Lebih Sulit dari BBM Satu Harga, Ini Alasannya

Temuan ini menegaskan bahwa meski dunia usaha masih mampu beradaptasi, melemahnya kerja sama global tetap menjadi tantangan besar bagi perekonomian dunia ke depan.

Selanjutnya: Klaim Pengangguran AS di Awal Januari Mencapai 208.000, Lebih Baik dari Proyeksi

Menarik Dibaca: Hasil Malaysia Open 2026, 5 Wakil Indonesia Menembus Babak Perempat Final




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×