Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - DUBAI/CAIRO/WASHINGTON. Iran menunjukkan kembali pengaruh militernya di Selat Hormuz dengan merilis video operasi pasukan elite yang disebut berhasil menguasai sebuah kapal kargo besar.
Hal itu terjadi di tengah runtuhnya upaya perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis dunia tersebut.
Dalam video yang disiarkan televisi pemerintah Iran, tampak pasukan bertopeng menaiki kapal kargo menggunakan speedboat, memanjat tangga tali, lalu memasuki lambung kapal sambil membawa senjata.
Baca Juga: Iran Kembali Ketatkan Kendali Selat Hormuz, Ini Pesan Keras Terbaru dari Teheran
Rekaman tersebut juga menampilkan dua kapal lain yang disebut telah disita Iran karena diduga melintas tanpa izin di wilayah perairan strategis itu.
Iran mengklaim aksi tersebut merupakan penegakan aturan pelayaran di kawasan Selat Hormuz, jalur yang selama ini menjadi titik vital distribusi energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati wilayah tersebut sebelum konflik terbaru pecah.
“Operasi ini adalah bentuk penegakan kedaulatan maritim Iran di wilayah strategis,” demikian penjelasan yang disampaikan media pemerintah Iran terkait penyitaan kapal tersebut.
Namun aksi itu kembali memicu kekhawatiran global atas stabilitas jalur energi dunia, terutama karena kemampuan Iran mengganggu lalu lintas kapal tetap dianggap signifikan meski menghadapi tekanan militer dari AS.
Baca Juga: Serangan Drone Iran Berpotensi Mengganggu Selat Hormuz Berbulan-bulan
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meremehkan ancaman kapal-kapal kecil Iran yang disebutnya tidak terlalu berbahaya. Ia menyatakan tetap terbuka pada kesepakatan damai, namun juga memberi peringatan keras jika negosiasi gagal.
“Saya tidak terburu-buru. Saya ingin kesepakatan terbaik. Jika tidak ada kesepakatan, saya akan menyelesaikannya secara militer,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump juga mengklaim militer AS masih memegang kendali penuh atas situasi di Selat Hormuz, bahkan menyebut wilayah itu tertutup rapat sampai Iran bersedia mencapai kesepakatan.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan aktivitas udara tak dikenal di sejumlah wilayah Iran. Media pemerintah Iran menyebut sistem pertahanan udara di Teheran dan beberapa kota lain telah merespons kemunculan drone kecil.
Namun tidak ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Baca Juga: Iran Kenakan Tarif Selat Hormuz, Biaya Kapal Minyak Bisa Tembus Rp 33 Miliar
Sementara itu, Israel memperingatkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran, meski gencatan senjata yang dimulai 8 April masih berlaku secara tidak resmi.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan negaranya siap menunggu lampu hijau dari AS untuk melanjutkan serangan.
“Serangan kali ini akan berbeda dan jauh lebih mematikan,” kata Katz, seraya menambahkan bahwa target dapat mencakup pemimpin tertinggi Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, pasar global bereaksi negatif. Harga minyak berfluktuasi tajam, sementara saham di AS melemah dalam perdagangan yang tidak stabil. Investor juga mencermati risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Iran sendiri menegaskan bahwa pembukaan kembali perundingan tidak akan dilakukan sebelum AS mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran. Tehran menilai kebijakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Trump dan Israel Menekan Iran Menjelang Tenggat Waktu untuk Membuka Selat Hormuz
Meski demikian, Washington mengklaim tetap melanjutkan operasi pengawasan di jalur laut internasional, termasuk tindakan terhadap kapal tanker yang diduga membawa minyak Iran.
Situasi ini menambah ketidakpastian global, di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekonomi dunia akibat lonjakan harga energi dan perlambatan aktivitas industri di berbagai negara.












