Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran berencana mengumumkan zona terbatas baru di kawasan Teluk dalam beberapa hari ke depan. Teheran juga akan merilis peta koridor pelayaran baru di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) yang kembali mengganggu lalu lintas kapal dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan, zona terbatas tersebut akan dimulai dari wilayah tempat blokade AS terhadap Iran berlaku dan meluas ke sejumlah area di Teluk.
Pernyataan itu disampaikan Rezaei dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran pada Minggu (6/9/2026). Meski belum banyak rincian mengenai rencana tersebut, ia mengatakan setiap kapal yang memasuki zona baru akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Selain zona terbatas, Iran juga tengah mempersiapkan peta jalur pelayaran baru untuk melintasi Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia dan sebagian besar lalu lintas kapal tanker telah terganggu akibat konflik yang berlangsung.
“Peta koridor internasional baru yang berada di perairan Iran dan Oman, dan Iran akan memiliki kewenangan pengelolaan di dalamnya, telah disepakati dan seharusnya ditandatangani dalam beberapa hari ke depan,” kata Rezaei.
Baca Juga: China Kembangkan Robot Humanoid untuk Perang, Siapkan Teknologi ke Medan Tempur
Ia menegaskan Iran hanya akan menjamin Selat Hormuz tetap terbuka apabila AS menghentikan tindakan yang dianggap Teheran sebagai ancaman terhadap Iran.
“Kami hanya akan berkomitmen bahwa Selat Hormuz tetap terbuka ketika mereka (Amerika) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” ujar Rezaei.
Lalu Lintas Selat Hormuz Merosot
Ketegangan tersebut terjadi sekitar enam bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu perang. Konflik kini cenderung menemui jalan buntu setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada Juni lalu kembali runtuh.
Setelah aktivitas militer relatif mereda sepanjang sebagian besar Agustus, serangan balasan antara kedua pihak kembali terjadi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9/2026), termasuk satu kapal di dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap kapal perang AS di kawasan tersebut.
Iran masih memiliki kemampuan untuk menyerang kepentingan AS di negara-negara tetangga sekaligus mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Indeks KOSPI Ditutup ke Level Tertinggi Sejak 23 Juli, Ditopang Saham Produsen Chip
Data pelayaran yang dikutip Reuters pada Senin menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei.
Gangguan tersebut turut mendorong harga minyak dunia melanjutkan kenaikan setelah mencatat penguatan besar pada pekan sebelumnya. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 0,8% menjadi di atas US$97 per barel.
Sanksi AS Tekan Ekonomi Iran
Di sisi lain, Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar akibat sanksi Amerika Serikat, terutama terhadap sektor minyak.
Pemerintah Iran mengatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi dampak sanksi tersebut. Namun, tiga sumber senior Iran mengatakan kampanye AS untuk menekan perekonomian Iran melalui blokade ekspor minyak dan upaya menghentikan penghindaran sanksi semakin sulit dihadapi Teheran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan AS harus menyadari bahwa situasi telah berubah.
“Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan,” kata Qalibaf dalam pidato yang dipublikasikan melalui kanal Telegram miliknya.
Menurut Qalibaf, selain menghadapi tekanan di bidang militer, pertempuran utama Iran saat ini berkaitan dengan produksi dan kehidupan masyarakat.
Ia menyebut fluktuasi tajam nilai tukar, inflasi, pengangguran, serta pengelolaan pasar sebagai tantangan utama yang harus dihadapi pemerintah.
Baca Juga: Liquid Network Diretas, Bitcoin Senilai US$320 Juta Dikuras Hacker
Qalibaf mengatakan masyarakat Iran masih dapat menoleransi kesulitan ekonomi, tetapi tidak dapat menerima kesalahan pengelolaan ataupun ketidakaktifan pemerintah.
Iran Bantah Sanksi Akan Ubah Kebijakan
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan Teheran akan merespons tekanan ekonomi AS melalui reformasi ekonomi.
Ia juga menolak anggapan bahwa sanksi ekonomi akan membuat Iran mengubah kebijakan atau keputusannya.
“Mereka berbicara tentang tekanan ekonomi dan isolasi, memutus hubungan keuangan, dan mereka berpikir bahwa dengan menekan perekonomian suatu negara, mereka dapat mengubah keputusan rakyatnya,” kata Madanizadeh seperti dikutip media pemerintah Iran.
“Saya harus memperjelas satu hal: tanggung jawab untuk mereformasi perekonomian Iran berada di tangan pemerintah dan rakyat Iran, bukan Departemen Keuangan AS,” lanjutnya.
Pulau Kharg Jadi Titik Strategis
Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di antara negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sebelum perang, sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran dikirim melalui pusat ekspor di Pulau Kharg.
Namun, arus ekspor tersebut terganggu sejak AS memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran pada pertengahan April.
CENTCOM menyatakan hingga Minggu telah mengalihkan 92 kapal komersial, menonaktifkan tiga kapal dan menaiki dua kapal untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade.
Ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada 31 Agustus mengunggah video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan Pulau Kharg dihancurkan.
Pemerintah Iran sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan respons keras apabila pulau tersebut diserang.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan Pulau Kharg telah terkena serangan sekitar 550 kali dalam beberapa bulan terakhir, tetapi aktivitas di pusat ekspor tersebut masih terus berjalan.
Baca Juga: Dolar AS Goyah, Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga September Makin Besar
AS Klaim Aliran Minyak Masih Berjalan
Blokade di Selat Hormuz juga berdampak terhadap harga bahan bakar dan menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilihan umum AS pada November, ketika kendali Kongres akan diperebutkan.
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan arus minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung.
“Transit kami melalui Selat Hormuz saat ini rata-rata lebih dari 9 juta barel per hari, dan dengan adanya jaringan pipa akses yang melewati Selat, kami mungkin masih berada pada sekitar dua pertiga atau lebih dari arus sebelum konflik,” kata Wright kepada CNN.
“Jadi, Iran masih menimbulkan masalah, tetapi Angkatan Laut Amerika Serikat memenangkan pertempuran tersebut,” lanjutnya.














