kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Jelang peresmian, Trans-Pacific Partnership hapus pasal usulan Amerika


Rabu, 21 Februari 2018 / 13:19 WIB
Jelang peresmian, Trans-Pacific Partnership hapus pasal usulan Amerika
ILUSTRASI. Trans-Pacific Partnership - TPP di APEC

Berita Terkait

Sumber: Reuters | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Rancangan akhir kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership rampung dan rilis Rabu (21/2). Kesepakatan perdagangan negara-negara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik ini terus berjalan meski tanpa kepesertaan Amerika Serikat (AS).

Lebih dari 20 pasal dihapus atau diubah pada rancangan final, termasuk ketentuan soal kekayaan intelektual yang awalnya disertakan atas usulan AS. Kesepakatan ini rencananya akan diteken Maret.


Tahun lalu, TPP sempat hampir buyar ketika Presiden AS terpilih Donald Trump menarik diri dari kesepakatan dan memprioritaskan ekonomi AS. Dari 12 negara, 11 negara tersisa yang dipimpin oleh Jepang memfinalisasi kesepakatan perdagangan pada Januari lalu.

Kesepakatan perdagangan ini disebtu Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Rencananya, para anggota TPP akan meneken perjanjian pada 8 Maret mendatang di Cile.

Kesepakatan TPP akan menurunkan bea masuk perdagangan yang totalnya mencapai US$ 10 triliun, atau lebih dari 13% total PDB global. Jika menghitung kepesertaan AS sebelumnya, total penurunan bisa mencapai 40% dari total PDB global.

"Perubahan besar TPP 11 adalah penghentian keseluruhan ketentuan awal. Para anggota menangguhkan kesepakatan yang kontroversial, terutama bidang farmasi," kata Kimberlee Weatherall, profesor hukum di University of Sidney kepada Reuters.

Banyak perubahan ini yang merupakan usulan dari AS, seperti perlindungan kekayaan intelektual obat-obatan. Rencana ini sebelumnya memicu kekhawatiran beberapa negara dan aktivis karena bisa mengerek harga obat.

Beberapa pejabat Jepang dan negara-negara anggota lain menganggap keberhasilan kesepakatan TPP ini sebagai penangkal melawan proteksionisme AS yang terus berlanjut.

"CPTPP menjadi lebih penting karena meningkatnya kekhawatiran efektivitas operasional aturan World Trade Organisation," kata David Parker, Menteri Perdagangan Selandia Baru.

Dalam World Economic Forum di Swis bulan lalu, Trump mengatakan bahwa AS mungkin saja kembali mengikuti TPP jika mendapatkan kesepakatan lebih baik. Tapi, Parker mengatakan bahwa prospek masuknya AS lagi sangat kecil.

Parker mengatakan, kesepakatan ini akan dimulai pada akhir 2018 atau semester pertama 2019. Sebelas anggota TPP adalah Australia, Brunei, Kanada, Cile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam.




TERBARU

×