kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,15   -24,18   -2.48%
  • EMAS989.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Jepang, China, dan Korea Selatan Peringatkan Risiko Pemulihan Ekonomi Asia, Apa Saja?


Kamis, 12 Mei 2022 / 13:16 WIB
Jepang, China, dan Korea Selatan Peringatkan Risiko Pemulihan Ekonomi Asia, Apa Saja?
ILUSTRASI. Tesla Model 3 buatan China di pabrik Tesla di Shanghai, China, 7 Januari 2020. Jepang, China, dan Korea Selatan memperingatkan risiko pemulihan ekonomi Asia. REUTERS/Aly Song.


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Para pemimpin keuangan dari Jepang, China, dan Korea Selatan pada Kamis (12/5) memperingatkan risiko pemulihan ekonomi Asia dari pandemi Covid-19, dan berkomitmen untuk mendukung stabilitas pasar serta kebijakan fiskal yang sehat.

Risiko tinggi termasuk kenaikan awal tak terduga suku bunga "di beberapa negara maju", percepatan inflasi, dan gangguan dari perang di Ukraina, menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari tiga negara mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama.

Pernyataan itu menyusul pertemuan tahunan, yang berlangsung secara online, sebelum para pemimpin itu akan bertemu secara virtual dengan rekan-rekan mereka dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), juga pada Kamis.

Pemimpin keuangan Jepang, China, dan Korea Selatan menegaskan komitmen tiga negara untuk menggunakan langkah-langkah dukungan, yang tidak mereka tentukan, untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan kesinambungan fiskal jangka panjang.

Baca Juga: Pemerintah Akan Sesuaikan Postur APBN 2022, Tak Lagi Difokuskan untuk Pandemi

"Kita harus tetap waspada terhadap peningkatan risiko di mana pemulihan ekonomi regional sedang diekspos,di atas konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung dan normalisasi kebijakan moneter yang lebih awal dari perkiraan di beberapa negara maju," kata mereka.

"Faktor-faktor ini bisa menjadi risiko penurunan prospek ekonomi regional, menyebabkan volatilitas pasar keuangan dan aliran modal," sebut pemimpin keuangan Jepang, China, dan Korea Selatan dalam pernyataan bersama, seperti dikutip Reuters.

Pernyataan itu tidak menyebutkan negara tertentu. Tetapi, kenaikan suku bunga AS dan penurunan terkait aset bank sentral telah mendorong dollar AS naik. Hal ini telah meningkatkan prospek pelarian modal dari beberapa pasar negara berkembang dan peningkatan beban utang dalam dollar AS.

Pemimpin keuangan Jepang, China, dan Korea Selatan juga menghindari referensi untuk pergerakan pasar mata uang, terutama kenaikan dollar AS dan penurunan yen, atau sanksi terhadap invasi Rusia ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi khusus."

Sebaliknya, mereka menggarisbawahi kemajuan dalam inisiatif regional, termasuk mekanisme yang bertujuan membantu negara-negara pada saat kesulitan keuangan, kesepakatan pertukaran mata uang Multilateralisasi Chiang Mai Initiative.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×