kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Kapal perang AS kembali hadir di Selat Taiwan, China masih bungkam


Selasa, 23 November 2021 / 11:15 WIB
Kapal perang AS kembali hadir di Selat Taiwan, China masih bungkam
ILUSTRASI. Kapal perusak berpeluru kendali USS Milius tiba untuk bergabung dengan Forward Deployed Naval Force (FDNS) di pangkalan angkatan laut AS di Yokosuka, Jepang 22 Mei 2018.


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer AS kembali mengirimkan kapal perangnya untuk transit di Selat Taiwan, titik sensitif dalam hubungan Taiwan dan China. Bagi AS, kunjungan ini merupakan komitmen mereka untuk mengkampanyekan kebebasan navigasi di wilayah tersebut.

Dilansir dari Reuters, Angkatan Laut AS melaporkan satu unit kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, USS Milius, telah melakukan transit rutin di Selat Taiwan melalui perairan internasional yang sesuai dengan hukum internasional.

"Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Militer AS terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun yang diizinkan oleh hukum internasional," ungkap Angkatan Laut AS dalam laporannya hari Selasa (23/11).

Untuk saat ini China, yang biasanya selalu memberi respons cepat, masih bungkam dan belum memberikan komentar terkait kehadiran kapal perang AS tersebut.

Kehadiran rutin militer AS di Selat Taiwan selalu membuat gusar China. Pemerintah China meyakini bahwa melalui kunjungan tersebut AS berusaha untuk membangkitkan ketegangan regional.

Baca Juga: Taiwan: Pertahanan perlu diperkuat, kami butuh lebih banyak teman

Bulan lalu, militer China mengecam AS dan Kanada karena masing-masing mengirim kapal perang melalui Selat Taiwan. Dalam pernyataannya, China menyebut kedua negara tersebut bisa mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.

Hingga saat ini China masih mengklaim Taiwan secara demokratis memerintah sebagai wilayahnya sendiri. Pihaknya juga cukup rutin melakukan misi angkatan udara ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan selama sekitar satu tahun terakhir. Aktivitas ini praktis memicu kemarahan Taiwan.

Puncak kunjungan China di ADIZ Taiwan terjadi pada 1 - 4 Oktober lalu. Selama periode 4 hari itu, China tercatat telah mengirim sekitar 150 pesawat ke zona pertahanan Taiwan.

AS, meski tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, telah sejak lama menjadi pendukung utama demokrasi Taiwan sekaligus pemasok senjata terbesar untuk pulau itu. Ketegangan ini dimanfaatkan AS untuk semakin gencar mempromosikan demokrasi dan kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik.

Selanjutnya: Xi Jinping: China tidak akan pernah mengejar hegemoni dan menindas negara kecil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×