Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - RIYADH. Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, menyatakan serangan Iran terhadap kapal tanker minyak milik perusahaan pelayaran nasionalnya menewaskan dua pelaut asal Filipina.
Kapal tanker Sidr, yang dioperasikan oleh Bahri, merupakan salah satu dari dua kapal tanker super (supertanker) pengangkut minyak Saudi yang dilaporkan terkena serangan pada Senin (31/8/2026) malam ketika melintasi Selat Hormuz.
Iran sebelumnya telah mengancam kapal tanker yang berupaya melintasi jalur perairan sempit tersebut tanpa izin. Ancaman ini berpotensi menghambat ekspor energi dari negara-negara tetangga yang kaya minyak di kawasan Teluk.
Baca Juga: Bank Sentral India Berhasil Tarik US$ 136,38 Miliar Valas untuk Perkuat Rupee
Sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati Selat Hormuz.
Bahri mengatakan dua pelaut tersebut tewas dalam sebuah insiden keamanan yang melibatkan kapal Sidr pada Senin pukul 23.40 waktu setempat atau Selasa pukul 02.40 WIB.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan pentingnya menghentikan eskalasi serta menghormati keselamatan pelayaran internasional dan keamanan pasokan energi global.
"Kerajaan menekankan perlunya menghentikan eskalasi serta menghormati keselamatan maritim internasional dan keamanan pasokan energi global," kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya.
Sementara itu, Bahri menyatakan terus berkomunikasi dengan kapal tersebut dan berkoordinasi erat dengan otoritas terkait serta berbagai pemangku kepentingan di industri maritim. Perusahaan juga terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut.
Serangan terhadap kapal Bahri bukan kali pertama terjadi. Pada Juli 2026, kapal tanker super Bahri lainnya, Wedyan, juga terkena serangan saat melintasi Selat Hormuz di dekat pesisir Oman.
Dua kapal Bahri lainnya, Masa dan Amzan, turut diserang di Laut Merah masing-masing pada Juli dan Agustus 2026. Serangan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Risiko Pemadaman Listrik Meningkat, AS Dilanda Panas Ekstrem
Rangkaian serangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan kelancaran arus perdagangan energi melalui jalur strategis di Timur Tengah, terutama Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak global.














