kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Kena sanksi, ekonomi Rusia mengkerut 2%


Rabu, 22 April 2015 / 11:52 WIB
Kena sanksi, ekonomi Rusia mengkerut 2%
ILUSTRASI. Pahami Manfaat Air Beras untuk Kulit dan Rambut


Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

MOSCOW. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, perekonomian Rusia melorot 2% pada tiga bulan pertama tahun ini. Dengan demikian, ini merupakan kontraksi pertama sejak 2009.

Dia menjelaskan, faktor yang menyebabkan lemahnya ekonomi Rusia adalah sanksi internasional dan anjloknya harga minyak dunia. Meski demikian, dia menegaskan, situasi ekonomi tidak seburuk 2009 lalu dan mulai stabil.

"Ekonomi Rusia menghadapi realitas baru," jelas Medvedev.

Dalam pernyataannya, dia juga mengatakan, tekanan terbesar datang dari keputusan politik utama pada tahun lalu yaitu penguasaan kembali Crimea oleh Rusia. Langkah tersebut menyebabkan Rusia mendapatkan sanksi internasional dari negara Barat.

Medvedev mengakui, sanksi tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian. Dia mengestimasi, kerugian dari sanksi tersebut menghambat pemasukan ekspor luar negero senilai US$ 26,7 miliar atau setara dengan 1,5% dari nilai Produk Domestik Bruto Rusia.

Selain itu, pada tahun lalu, nilai mata uang rubel juga kolaps. Kondisi ini menyebabkan harga barang impor melejit dan nilai ekspor menurun tajam. Situasi kian diperburuk oleh anjloknya harga minyak mentah. Padahal, ekonomi Rusia memiliki ketergantungan besar terhadap emas hitam ini.

Bank sentral Rusia memprediksi, perekonomian tahun ini bisa anjlok hingga 4% jika harga minyak masih berada di harga US$ 50 per barel.

Meski demikian, Medvedev optimistis Rusia dapat bertahan meskipun kondisi ekonomi terus melemah. "Jika tekanan eksternal meningkat, dan harga minyak masih berada di level rendah untuk jangka waktu yang cukup lama, kita harus membangun realitas perekonomian yang baru," paparnya.

Dia juga bilang, "Saya yakin kita akan mampu hidup dalam realitas itu. Pengalaman dari periode yang lalu menunjukkan bahwa kita sudah belajar bagaimana menghadapi hal ini."




TERBARU

[X]
×