kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ketegangan AS-Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 104 per Barel


Selasa, 12 Mei 2026 / 05:14 WIB
Ketegangan AS-Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 104 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Pavel Mikheyev)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melonjak hampir 3% pada perdagangan Senin (11/5/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini “di ujung tanduk” atau “on life support”.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik belum akan segera berakhir, sementara jalur vital pengiriman minyak di Selat Hormuz masih largely tertutup.

Melansir Reuters, harga minyak Brent ditutup naik US$ 2,92 atau 2,88% menjadi US$ 104,21 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,65 atau 2,78% ke level US$ 98,07 per barel.

Baca Juga: Trump Siapkan Pembicaraan Sensitif dengan Xi:Taiwan dan Minta Jimmy Lai Dibebaskan

Sepanjang perdagangan, Brent sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 105,99 per barel dan WTI mencapai US$ 100,37 per barel.

Pekan lalu, kedua acuan minyak tersebut justru mencatat penurunan mingguan sekitar 6% di tengah harapan konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan segera mereda sehingga arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.

Namun sentimen pasar berubah cepat setelah Trump menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai sesuatu yang “bodoh” dan “tidak dapat diterima”.

Iran sebelumnya merilis respons atas proposal Washington dengan menuntut penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon yang melibatkan kelompok Hizbullah dukungan Iran melawan Israel.

Baca Juga: AS Karantina 18 Penumpang Kapal Pesiar Usai Wabah Hantavirus Terdeteksi

Teheran juga meminta kompensasi kerusakan perang, menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, meminta penghentian blokade laut AS, pencabutan sanksi, serta penghapusan larangan penjualan minyak Iran.

Strategis energi Rabobank Florence Schmit mengatakan, narasi pasar kembali berubah dari harapan de-eskalasi menjadi eskalasi hanya dalam hitungan hari.

“Pasar minyak merespons perubahan itu, meski sejauh ini masih relatif moderat,” ujarnya.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.

Baca Juga: Freeport LNG Kembali Beroperasi, Harga Gas AS Langsung Naik 5%

Menurut pejabat AS, isu Iran akan menjadi salah satu topik pembahasan selain perdagangan, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), hingga kerja sama mineral tanah jarang.

Direktur energy futures Mizuho Bob Yawger menilai, pasar saat ini belum memperkirakan AS akan meningkatkan konflik lebih jauh selama pertemuan Trump-Xi berlangsung.

Di sisi lain, CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir dan pasar energi membutuhkan waktu lama untuk kembali stabil meski jalur distribusi nantinya kembali dibuka.

Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan turun lagi pada Juni setelah pembeli mengurangi permintaan akibat harga minyak yang mahal serta terbatasnya pasokan di tengah konflik AS-Iran.

Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade karena konflik menyebabkan penutupan Selat Hormuz dan memaksa pemangkasan ekspor.

Produksi minyak dari 12 negara anggota OPEC tercatat turun 830.000 barel per hari dibanding bulan sebelumnya menjadi 20,04 juta barel per hari.

Baca Juga: JP Morgan Prediksi Harga Minyak Bertahan di Atas US$ 100 hingga 2026

Sementara itu, data pelacakan kapal Kpler menunjukkan tiga kapal tanker yang mengangkut minyak mentah berhasil keluar dari Selat Hormuz pekan lalu dan Minggu (10/5) dengan alat pelacak dimatikan. Salah satunya membawa minyak Irak menuju Vietnam.

Kementerian Industri Jepang juga menyatakan sebuah tanker yang membawa minyak mentah Azerbaijan diperkirakan tiba paling cepat Selasa (12/5), menjadi pengiriman pertama sejak perang Iran dimulai.

Analis JPMorgan memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran rendah US$ 100 per barel hingga sisa tahun ini, dengan rata-rata harga tahun 2026 diperkirakan sekitar US$ 97 per barel karena normalisasi pasokan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat meski Selat Hormuz kembali dibuka.




TERBARU

[X]
×