Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengungkapkan, Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal ke arah laut di lepas pantai timurnya. Ini menandai peluncuran senjata keempat yang dilakukan Pyongyang dalam kurun waktu satu bulan.
Mengutip Reuters, Rabu (4/11/2026), militer Korea Selatan mendeteksi rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Sondok, sebuah kawasan pesisir di bagian timur Korea Utara, menurut kementerian itu.
Seoul dan Washington tengah menganalisis peluncuran tersebut secara saksama dan tetap bersiaga untuk merespons setiap potensi provokasi, tambah kementerian itu.
Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Mandek, Trump Siap Tempur tetapi Tak Ingin Perang Besar
Korea Utara telah melakukan serangkaian uji coba senjata tahun ini, termasuk peluncuran rudal yang terbang sejauh lebih dari 900 km (559 mil) serta pengujian rudal hipersonik.
Pengumuman dari Seoul ini muncul beberapa jam setelah Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menutup kemungkinan dialog dengan Washington sampai AS meninggalkan apa yang ia sebut sebagai kebijakan bermusuhan.
Ia juga menegaskan kembali bantahan Pyongyang bahwa mereka berada di balik peretasan bursa mata uang kripto Binance, setelah FBI menuduh Korea Utara sebagai pelaku pencurian tersebut.
Peluncuran rudal ini menyusul laporan media Korea Utara yang menyebutkan bahwa pemimpin Kim Jong Un mengunjungi galangan kapal angkatan laut yang sedang membangun kapal perusak, di mana ia menekankan pentingnya memiliki kekuatan angkatan laut yang tangguh.
Seringnya Korea Utara melakukan uji coba rudal tahun ini mengisyaratkan bahwa Pyongyang mungkin hampir menyelesaikan persiapan untuk produksi massal, yang kemungkinan mencakup senjata untuk diekspor ke Rusia, ujar Lee Choon-geun, seorang pakar rudal sekaligus anggota dewan di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah Rabu (4/11), Investor Menanti Hasil Pemilu AS
"Sebelum memasuki tahap produksi massal dan pengerahan, biasanya diperlukan banyak pengujian," kata Lee. "Atau, bisa jadi mereka berencana mengekspor rudal dalam jumlah besar ke Rusia; jika demikian, mereka tentu perlu melakukan banyak pengujian sebelum mengirimkannya."














